8. A Lie

321 22 1
                                    

Untuk jawaban Mark yang barusan, mungkin benar. Dasha tidak perlu tahu lebih dalam. Tapi ... kenapa dia berbohong?

"Eum, kau ... yakin?" tanya Dasha lirih. Mark terkekeh pelan, sambil menarik topinya, "Tentu saja."

Bahkan Dasha lihat, dari raut wajah Mark sama sekali tidak ada tanda-tanda keraguan. Semudah itu ia bicara?

Dasha tidak mau ambil pusing, takut jika nanti akhirnya they're in a fight lagi. Mereka baru saja bertemu, jangan membuat masalah, ya.

Mark bercerita banyak hal di mobil. Tentang bagaimana perasaan saat pertama kali berdiri di atas panggung, memenangkan penghargaan, juga menjadi model majalah terkenal. Yah, dia berhak mendapatkan itu semua

"Mark, ingin bermain sesuatu?" ucap Dasha di akhir gelak tawa mereka. Mark mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan, "Tentu, why not? kau mulai duluan, princess."

Dasha mendesis pelan, sambil memilin dagunya sendiri. Sebenarnya ia juga tidak tahu, apa yang bisa dilakukannya sebagai contoh pertama, tapi, "Ya, ini seperti QnA. Aku bertanya, kau menjawab. Bagaimana?"

"Let's get it,"

"Bagaimana hari pertamamu sebagai seorang idol?" itu tadi pertanyaan pertama dari Dasha. Mark berdehem, "Biasa saja, sebenarnya. Tapi jika ingat ada kau yang seolah menunggu di ujung jalan, rasanya berbeda." Mark tersenyum lalu tatapannya beralih ke Dasha.

Jujur kalau mau dikatakan tersipu, Dasha tidak, tapi jantungnya tiba-tiba rasanya mau lepas melihat senyuman Mark. Akhirnya ia cepat-cepat mengganti topik. "Maksudnya berbeda?"

Mark mengusap wajahnya, "Ya, seperti lebih berwarna, dan aku merasa tidak sendiri di sini."

Kalau boleh memaki diri sendiri, mungkin semua umpatan dan kata-kata buruk sudah terlontar pada diri Dasha sendiri setelah semakin lama wajahnya semakin panas.

Kalian tahu, kan, mereka sama-sama remaja? lalu kalian bisa berpikir bahwa ini hal yang biasa saja? menyedihkan.

"Aku—"

"Kenapa wajahmu merah?" tanya Mark sok polos. Mark juga salah, harusnya ia tidak bertanya demikian.

Malah memperburuk suasana. Demi Tuhan, Dasha belajar sesuatu dari sini lagi. Jangan bertanya sesuatu lagi pada Mark pada saat seperti ini. Bahkan pertanyaan biasa yang tidak ambigu saja berubah menjadi seperti ini.

"Tapi imut." Lanjut Mark.

Tripple kill.

Dasha menarik nafas diam-diam, sambil menepuk-nepuk wajahnya sendiri. "Siapa bilang aku tersipu, hah?"

Dan di saat yang bersamaan, Mark tertawa kencang, sampai memukuli pahanya sendiri, "Kau sendiri, yang bilang?"

Kalau ditanya, sekarang Dasha ingin mempunyai kekuatan apa, ia mau menjadi manusia super yang bisa teleportasi. Ketahuan ...

"Oke, hentikan. Aku tidak mau bermain permainan itu lagi denganmu, ya." Dasha mendesah pelan. "Kau ini kenapa, sih? heheheh, jadi makin lucu kalau marah."

Puji Tuhan, mobil Mark akhirnya berhenti di pekarangan dorm. Kalau tidak, bisa mati kering kerontang gara-gara malu, Dasha tadi.

Harusnya dengan naik mobil bisa cepat, tapi mungkin gara-gara mulut Mark yang tidak bisa di kontrol barusan, bagi Dasha itu adalah perjalanan paling lama di hidupnya.

Sambil berdecak kesal, Dasha membuka pintu mobil, "DASHA, HUJAN!"

"TIDAK PEDULI!" Begitu teriaknya, sambil menenteng belanjaan berat, lalu berlari masuk ke dorm, bahkan tanpa menutup kembali pintu mobil Mark.

Sang pemilik mobil hanya menggelengkan kepalanya. "Dasar, masih, saja sama." Lirihnya sambil menutup pintu mobilnya. Ia masih belum berniat untuk kembali menjalankan mobilnya. Mark belum membuka room chat nya dengan Mina seharian tadi.

Ya, seperti biasa, tidak ada pesan masuk. Akhir-akhir ini keduanya sibuk, tapi bahkan Mina tidak mengabari apa-apa.

Mark ingat, dua bulan yang lalu, ia mengajak night driving dengan Mark di hari ulangtahunnya. "Bukankah itu malam ini? tapi bahkan Mina tidak mengirimi ku pengingat atau apapun itu. Biasanya dia paling excited," ucap Mark.

Ya, benar. Terakhir kali mereka saling berhubungan adalah kemarin lusa, itupun hanya menanyakan kabar. Sudah. Benar-benar pasangan yang aneh, jika menurutku.

Mina kurang seru jika mengirimi pesan. Gampang mati topik, dan typingnya yang tanpa emotikon itu kadang membuat orang bosan. Tapi sebenarnya, wanita itu seru dan manis jika kalian bertemu secara langsung.

Jadi bisa dipastikan, diantara mereka yang memulai dialog duluan adalah Mark. Mark juga baru saja libur. Jadi, ya, begitulah.

Mark belum mengucapkan ulangtahun, jadi ia kali ini akan membuka obrolan lebih dulu.

Happy birthday bb 🎉❤️|

How's the night driving? |

I'll pick you up at 7 |

Is it okay? 🤔|

Mark tidak menebak sebelumnya, kalau Mina akan membalas waktu itu juga. Biasanya tidak pernah.

Katanya,

|Terimakasih, Mark

|Tapi maaf, tidak untuk tahun ini. Lain kali, ya, ternyata aku sibuk.

|Terimakasih sudah menyempatkan untuk bertanya, have a nice day bae!

Membaca pesannya, membuat Mark menggaruk kepalanya pelan, "Typingnya kaku sekali .... seperti kanebo kering. Apa dia mengingatku sebagai manager? aku kekasihnya, padahal ... "

Ya, setidaknya Mina sempat menyertakan "bae" di sana. Paling tidak, Mark tidak merasa lajang dan bisa pulang ke dorm dengan tenang.

***

Jangan tanya bagaimana keadaan Dasha lima jam setelah nekat hujan-hujanan dari mobil Mark menuju dorm tadi. Apalagi jarak dari pagar dan pintu masuk lumayan jauh.

"Dasha, kau ini masuk angin," ujar Irene sambil merotasikan bola mata, padahal tangannya masih memijat pundak adiknya. Seulgi datang membawa segelas besar teh hangat, "Ini, diminum dulu." Katanya, lalu bersandar di bahu Irene, sambil bersila di karpet.

"Masih gengsi gengsi-an juga bocah ini. Dasar anak kecil," cibir Joy sambil memandang prihatin Dasha yang bibirnya pucat. Sedari tadi, anak itu batuk batuk, perutnya juga sakit. Bahkan semua member berkumpul di kamar Wendy dan Dasha hanya untuk mengurusnya. Irene dengan telaten memijat pundak Dasha, Seulgi baru saja selesai membuatkan teh, Wendy sudah selesai memasak bubur, dan Joyie ... tidak berbuat apa-apa. Malah hanya mencibir dari tadi.

"Joy, hentikan, anak ini sakit." Kata Irene, Joy langsung menutup mulut.

Sebenarnya juga tidak ada yang tahu, Dasha itu sakit gara-gara kehujanan atau karena perbuatan Mark yang tadi.

Baru begini saja sudah meriang, apa kabar kalau tiba-tiba Mark mencium atau memeluknya?









capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang