23. Will Last Forever

152 17 2
                                    

Irene tiba-tiba membatalkan rencana liburannya hanya untuk mengurus masalah simpang-siur yang dihadapi Revee.

Sedari tadi wajahnya ditekuk, kusut seperti gaun yang belum distrika. Dikepalanya terus terngiang-ngiang kata manager yang ternyata agensi tidak mau memperpanjang kontrak Revee dikarenakan kinerja dan minat yang turun drastis.

Benar-benar se-berpengaruh itu dalam kehidupan hanya karena salah paham dan kepala manusia yang begitu keras seperti batu.

Kala itu Taeyong bersama Shotaro dan Yuta berada di ruang rekaman nomor 3 dengan Irene.

"Sonbae-nim, aku juga mengerti bagaimana rasanya mendapatkan ujaran kebencian dari semua orang. Sebagai leader grup, memang seharusnya kita yang menjadi tameng, tapi aku rasa ini keterlaluan," Kalimat Taeyong, tangannya membuka tutup air mineral.

"Penggemar Revee akan tetap ada, selamanya. Jadi Sonbae juga tidak perlu khawatir, jika memang Tuhan berkehendak untuk Revee yang berdiri lebih lama, maka tenanglah,"

Dibalik wajah Taeyong yang tenang, sebenarnya tersimpan segala kehawatiran yang mendalam. Mark, bagaimanapun ia juga ENCT, tidak mudah untuk bangkit dan memutus semua skandal itu, tapi Taeyong punya rencana.

Tangannya yang besar mengetuk meja tempat mereka berdiskusi lalu berdehem kecil, "Irene Sonbae pulang saja dulu, karena Mark juga merupakan salah satu member kami, maka aku akan berusaha yang terbaik."

Melihatnya, Irene hanya tersenyum masam. Ia tidak bisa menumpahkan semuanya pada Taeyong, ia juga harus bekerja. Lantas Irene menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, "Kau bisa bicara rencanamu kedepannya kepadaku, aku akan banyak membantu, aku berjanji."

Taeyong tertawa kecil lalu sedikit memperkecil jarak diantara mereka, mengambil selembar kertas dan melepas tutup pena yang berada di ujung meja.

Menggambar sesuatu, menjelaskan rencananya dari pembukaan hingga klimaks. Irene mengangguk paham, lalu mulai tersenyum kecil.

"Apa kau berpikir itu akan berhasil?" tanya Irene khawatir. Dan benar saja, Taeyong mengangguk mantap, "Hanya ada kemungkinan sedikit kita gagal, Sonbae. Jadi ini jalan satu-satunya, harus segera dilaksanakan sebelum semuanya terlambat."

Irene mengikat rambutnya dan mulai mengenakan masker, "Bisakah kau berkumpul lagi denganku disini nanti malam sebelum jam tujuh? aku sangat minta maaf, ada yang harus aku urus. See yaa," Irene melambaikan tangan seraya berlalu. Taeyong mengangguk dan membalas salam tangan Irene dengan senyum.

Kemudian laki-laki itu menatap ke arah Shotaro dan Yuta yang terlihat sangat fokus berlatih vokal untuk duo pertama mereka. Kemudian ia mulai berpikir, apakah nasib ENCT akan sama dengan Revee yang seperti diujung tanduk?

Taeyong pikir, perjuangan mereka pasti sama-sama panjang sama-sama berat, dan itu semua akan sangat tidak adil apabila dihadiahi hinaan seperti ini. Apalagi Dasha benar-benar sudah dikucilkan.

Revee adalah sebagian dari ENCT, Taeyong adalah ENCT, artinya semua itu ada di tangannya. Taeyong meneguk ludah lalu mengepalkan tangannya, "Semoga berhasil."

***

Dasha melamun sambil berusaha menggapai matahari, menyandarkan kepalanya di bahu Mark yang lebar sambil terus menguap.

Matanya mulai menyipit, awan mendung sedikit menyingkir dari muka matahari, membuat cahayanya menembus kasar mata Dasha. "Ugh, terik sekali." Pekiknya, lalu berbalik badan.

Mark kembali membalikkan badan Dasha menghadap matahari, "Ayo sini dulu, akan ku ceritakan sebuah cerita. Maukah kau mendengarkannya?"

Dasha perlahan membalikkan badannya walau masih dengan mata tertutup, "Demi kau, aku mau."

Mark memulai ceritanya, "Ini di zaman dahulu, saat manusia dan iblis belum menginjakkan kaki di muka bumi. Saat itu ... tunggu, kenapa aku bercerita tentang ini? hahahah."

"Dasar," Dasha berdecih lalu kembali bersandar di bahu Mark. "Mendung lagi, cerah lagi, mendung, cerah, tidak akan pernah berhenti. Saat malam, semuanya jadi dingin dan hujan deras." Keluhnya.

"Ya, karena itu. Setelah berolahraga, bukankah paling enak minum minuman yang dingin? kalau begitu sama saja dengan cuaca. Setelah panas, lalu turun hujan dimana semua makhluk hidup menikmatinya. Berharga, ya? padahal hanya hal kecil. Bukankah kau ingin menikmatinya?"

Dasha tampak kebingungan, "Huh?"

"Maksudku seperti ... tetaplah hidup demi hal-hal kecil seperti itu," jawabnya. Dasha tertawa sambil membuang muka. "Kau benar, dan aku juga benar. Setiap kejadian kecil juga selalu kau kaitkan dengan masalahku, tapi ... aku suka. Itu membuatku jauh lebih baik."

Tidak tahu kenapa, setiap Mark mengatakan hal-hal serupa, hatinya jauh lebih tenang. Seperti saat ini, ia membayangkan hal-hal yang lebih baik di masa depan.

Tangan perempuan itu bermain di sela-sela jari Mark, "Sudah tambah besar, ya, telapakmu ... sahabatku." Ucapnya. "Aku selalu kuat bila disampingmu, aku jadi tidak bisa membayangkan bagaimana kelak jika kita berpisah ... "

"Sudah coba mendengarkan lagu Will Last Forever oleh AKMU, ngomong-ngomong?" Mark membiarkan tangannya dalam kendali Dasha yang menggeleng pelan, "Belum, ada apa?"

"Ada satu lirik, yang isinya," Mark menatap langit sebelum mulai bernyanyi.

"Setelah berjalan terus dengan mimpi yang melelahkan, aku baru menyadari sekarang.
Bahwa teman yang bersamaku di awal,
Tidak bersamaku lagi."

"Apakah kita akan melakukan ini bersama-sama?
mari sukses bersama, dan bertemu kembali.
Jika kau menderita dari awal realita sekarang,
akankah kau memiliki senyum yang berbeda dari saat itu?"

"Saat itu, aku kira kita akan selalu bersama
begitu kita melepaskan dunia masa kecil kita ...
Kita berpencar di jalan miring yang sempit,
mimpi kita yang penuh warna dan murni."

Ia tersenyum perlahan saat ingin menyanyikan bait terakhir,

"Mimpi-mimpi itu meluap,
Di tangan mu,
Pegang erat-erat."

Dan tanpa sepengetahuan Mark pula, air mata perlahan berjatuhan dari mata Dasha. Saat ia sadar akan sesuatu, bahwa semua itu akan terjadi di masa depan.

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang