7. How Cloud?

416 40 13
                                    

Untuk kesekian kalinya, Irene menunduk sopan dengan hampir semua orang yang berlalau lalang di sana. Sudah ku bilang, hampir semuanya, termasuk staff yang bahkan hanya membenari properti syuting.

Awalnya Taeyong punya niat kecil dengan semua member Revee serta ENCT untuk makan malam bersama—setidaknya membuat penghujung acara indah, serta bisa menjadi lebih dekat untuk kedepannya. Tapi dengan sangat menyesal, Irene menolak halus. Ya, apalagi jika alasannya itu ingin segera pulang ke rumah orang tuanya, a.k.a berlibur. Aku benar, bukan? memang apa yang kalian pikirkan ketika idola kalian tidak ada kabar setelah menyelesaikan comeback?

Sebenarnya bisa saja, mereka pergi tanpa Irene. Yang jadi masalah itu, karena pada kenyataannya, Hujan deras terus mengguyur kota Seoul sejak kemarin sore. Lihat, bahkan Tuhan saja berkata tidak. Yang Taeyong dan anak-anak lain pikirkan adalah makan di restoran outdoor, lho.

Anyways, jadwal mereka semua berakhir sejak dua jam lalu, tapi entah apa yang Taeyong dan Irene bicarakan sampai tidak segera keluar dari studio. Padahal, semuanya sudah selesai, para member juga sudah beralih melakukan aktivitas lainnya.

Tak terkecuali Jisung. Anak berumur 19 tahun itu, seperti biasa, yah ... mengintip dan masuk ke dalam toko buku favoritnya hanya untuk melihat apakah keluaran terbaru dari novelnya yang berjilid-jilid itu keluar. Meski kadang ia agak risih dengan suara kamera handphone yang berbunyi "cekrak, cekrek" itu menyapa dirinya, tidak akan Jisung gubris. Toh, sudah biasa, bukan?

Jisung tidak ditemani oleh bodyguard atau antek-anteknya. Katanya, sih, ingin menghemat uang agar bisa menikmati natal dengan mewah dan tenang—padahal gajinya juga masih sisa.

Toko buku yang dimaksud tidak terlalu ramai pengunjung. Memang siapa yang tertarik keluar rumah menerpa hujan dan cuaca dingin di pagi hari hanya untuk mengecek buku? hanya Kim Jisung seorang.

"Benar-benar hanya satu ... " gumam Jisung saat mencoba membawa buku tebal di tangannya ke kasir. Oke, biar ku perjelas, Jisung si maniak membaca ini adalah gudangnya buku bagi kakak-kakaknya di dorm. Tidak heran, dong, jika setiap buku di rak dorm bertuliskan nama Kim Jisung?

Setelah mentotal satu bukunya itu, Jisung hanya berniat untuk bersantai di dorm sambil meminum teh dan tangan kiri yang membalik halaman novel, alias membaca buku yang baru ia bayar dengan harga mahal.

Sebenarnya tidak heran juga, saat Jisung melangkahkan kakinya keluar, hujan makin deras daripada waktu ia masuk ke sini. Anak itu mendesah pasrah tanda berserah diri. Payung hitam lipat di tangannya mulai terbuka lebar. Berjalan di trotoar dengan wajah menunduk, sepatu sneakernya membentur semen basah, Jisung mempercepat langkahnya.

Kali ini minatnya untuk tahu apa yang terjadi dengan hal yang tertutup payungnya sama sekali terhapuskan oleh hujan yang deras. Fokusnya hanya ada pada novel yang bersemayam di paperbag tangan kirinya, sampai ia memutuskan untuk menepi sebentar ke minimarket untuk membeli permen karet. Jisung berjanji pada dirinya sendiri, sebentar, saja kemudian segera pulang.

Kalian kan tahu sendiri jika dorm terletak di ujung kota, jauh dari tempat ramai yang menjual berbagai sandang, pangan dan papan. Jadi istirahat sebentar bukanlah opsi buruk.

Hanya karena minimarket lah Jisung mulai menaikkan payungnya. Pandangannya menjalar kemana-mana, dan betapa kagetnya ia saat mendapati Dasha yang berdiri dengan kedua tangan penuh belanjaan. Wanita itu tidak mengekanakan masker, jadi Jisung bisa melihat bibirnya tertarik, menghasilkan seulas senyum manis.

Jisung yang berinisiatif sendiri untuk menyapa duluan, "Dasha Nuna!"

Ia bisa melihat dari kejauhan, Dasha melambaikan tangan ke arahnya. Ia butuh payung untuk pulang. Hanya itu yang ada di otak Jisung. Berniat untuk menawari wanita yang 3 tahun lebih tua darinya itu agar berada di satu payung dan pulang bersama.

Jisung terlalu bersemangat, sampai berlari ke arah Dasha, seolah ia lupa jika jalanan saat itu sedang licin. Namun naas, langkahnya terhenti saat seseorang berlari mendahuluinya.

Jisung perhatikan, orang itu dengan sigap membawa belanjaan Dasha, lalu membawanya ke mobil pada satu payung dengan setengah berlari.

Jadi, Dasha tidak melihat Jisung tadi. Dan, ya, itu Mark.

Anak itu berhenti, memperhatikan mobil putih itu melaju menembus hujan, "Jisung, apa kau bisa seperti itu? apakah kau bisa seperti Mark Hyung?"

Sampai tiba-tiba sebuah klakson mobil mengkagetkannya. Jisung sedang berdiri di tengah-tengah halaman minimarket yang harusnya dipakai untuk parkir. Menyedihkan, sudah malu, kini malah jadi pusat perhatian. Ia menepi.

Sejenak kemudian, Jisung jadi berpikir positif, namun lebih menjurus ke negatif secara umum, "Kalau dibawakan belanjaan, dipegangkan payung, dibukakan pintu mobil, bukan kekasih namanya. Itu pembantu."

***

"Sudah menunggu lama, ya?" Mark mulai membuka percakapan setelah melepas maskernya di dalam mobil. Dasha dengan cepat menggeleng, "No, aku baru saja keluar. Maaf, menghubungimu secara mendadak. Kau pasti sibuk," perempuan di samping Mark itu memainkan jemarinya di atas rok panjang yang ia kenakan.

"Sibuk apanya? hahahah, sekarang kita semua akan longgar sampai beberapa bulan. Lagi pula aku kan sahabatmu, lain kali santai, saja." Tanggapan Mark yang barusan membuat Dasha sedikit lega. Aneh rasanya jika ia benar benar merepotkan orang sampai sejauh ini. Benar, kan?

Dasha sudah mendengar dari salah satu member Revee yang lumayan dekat dengan Taeyong, anak ENCT. Irene. Memang benar, katanya Mark berkencan dengan salah satu member grup wanita dari agensi yang berbeda.

Memang, Irene tidak akan bilang seperti itu tanpa ditanya secara cuma-cuma. Pasti ada sesuatu. Kalau Dasha bicarakan itu pada Mark sekarang, sopan tidak, ya?

"Eum, Mark," Dasha memanggil, Mark berdehem menanggapinya, dengan tangan kanan yang fokus menyetir. "Mina ... kalian berkencan?"

Tidak dapat dipungkiri, Mark sempat berjingkat saking kagetnya. Tapi kenapa dia kaget? aneh. "Kenapa kau kaget? kan aku hanya bertanya ... "

"Eoh, itu ... tahu darimana?"

Dasha menepuk jidaknya. Kenapa Mark malah bertanya balik? "Aku hanya menebak. Banyak penggemar yang mempasangkan-pasangkanmu dengan Mina, siapa tahu memang benar?" ucap Dasha. Dengan sedikit dilebih-lebihkan alias berbohong.

Mark meneguk salivanya kasar, "Aku tidak sedang berkencan dengan siapapun."

Kenapa kau berbohong, Mark?

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang