11. New Fam!

279 23 9
                                    

"ASTAGA, MARK, ITU DIA ADA DI ATAP!"

"LALU AKU HARUS APA?!"

"YA AMBIL TANGGA, LAH! CEPAT!"

"SABARRR, INI TANGGANYA DI MANA YA AMPUN?!"

"KU BILANG CEPAT!"

"SEBELAH MANA ANAK KUCINGNYA?!"

"SEDIKIT KE KANAN! AWAS!"

"TIDAK KELIHATAN!"

"MARK, KU BILANG AWA—MARKK!"

"AAAAAKKKHHHH!!!"

***

"Ututututu, mau diberi nama siapa anak kucing ini heung?" gemas Dasha sembari mengarahkan mulut hairdryer ke arah sang kitten.

Mark menatap malas ke arah Dasha, "Sudahlah, aku mau pulang."

Mark merajuk itu sudah biasa, tapi kalau soal dia memutuskan untuk pulang, tentu saja tidak akan Dasha perbolehkan!

Cepat-cepat Dasha menarik ujung cardigan sahabatnya itu sebelum Mark benar-benar pergi dari sana. "Et, et, et. Mau kemanaa? sini dulu, ah!"

Mark menggembungkan pipinya sambil buang muka. Dasar, anak aneh.

"Eh, kenapa kau ini? marah ya? hahahah, mukamu sudah merah, sekarang tambah merah, tahu!" Dasha sampai bertepuk tangan saking senangnya melihat raut wajah Mark.

"KAU TAHU, WAJAHKU PENUH DENGAN CAKARAN KUCING, KAU MALAH DENGAN SANTAI MENGABAIKANKU? jahat." Mark menyipitkan matanya. Yang diajak bicara hanya memasang wajah malas.

"Jadi kau mau apa, ih?" tanya Dasha, Mark terdiam.

"Mark Lee, jawab!" Terserah mau percaya atau tidak, tapi Dasha menggoncang tubuh Mark se-brutal mungkin saat ini.

"Apa kau mau ku mandikan juga, hah?!" Teriaknya di akhir sambil melempar bahu Mark hingga anak itu terbentur tembok. Kasian sekali saudara Mark Lee ini wahai pemirsa. Bicara dengan Dasha memang serba salah.

Mendengar pernyataan Dasha, ya tentu saja Mark terkejut! Harusnya Dasha yang takut! "Hiiii, amit-amit!" Ungkapnya sambil membentuk tanda 'X' di dadanya.

"Lagian kucingnya tidak tahu terimakasih sama sekali. Harusnya tadi ku blablablabla—" Lanjut Mark sambil menyumpah serapahi kucing yang tidak bersalah itu. "Dasar gendut!" Akhirnya.

Dasha tersenyum kecut, tak percaya bahwa pemandangan didepannya ini adalah seekor anak kucing, dan laki-laki berumur dua puluh dua tahun. Agak miris, tapi mau bagaimana lagi ...

"Mark, kau berdebat dengan kucing, tetap saja kucingnya yang menang ... " Dasha menghembuskan nafas. Mungkin kalau di komik, sudah ada setetes keringat besar hinggap di kepalanya.

"Memangnya apa sih, yang membuat kucingnya ganas padamu? dia jinak, tahu~~~" ujar Dasha sambil mengusap-usap leher sang kucing, membuat dia keenakan sampai meleleh menyatu dengan karpet.

"Ya mana ku tahu. Tahu, ah, aku benci kucing." Singkat Mark. Benar-benar marah rupanya anak itu.

***

"Oh, Jisung sudah pulang?" pekik Jeno ketika Jisung memasuki dapur perlahan. Jeno memilih untuk duduk di meja makan, di samping Renjun yang sedang menyantap ramen untuk makan siang. "Bagaimana bersih-bersihnya? sini makan dulu, kau pasti lelah," tutur Renjun lemah lembut tidak seperti biasanya.

Jisung kemudian duduk di kursi paling ujung, "Terimakasih, aku akan makan sebentar lagi." Jawab Jisung, lalu menjatuhkan kepalanya di meja makan. "Eh, kenapa kau ini?" Renjun berbicara dengan mulut penuh karena khawatir.

"Dia tadi kan di suruh bersih-bersih dengan Dasha sonbae. Oh, mana es krim vanilla dan jelinya? apa kau tidak menyisakannya untuk kami?" Jaemin menginterupsi. Aneh, anak itu mendadak bisa teleportasi.

"Sudah sudah, Jisung sepertinya sedang setres—"

"Alah, mood swing. Biasalah, anak kecilll!" Sahut Haechan dari halaman belakang. Jeno mengangguk setuju, "Ya, biasanya memang begitu."

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tuj—eh, Mark Hyung dimana?" Haechan datang-datang langsung mengabsen member di dapur. "Enam darimananya?! Itu Chenle daritadi belum pulang dari toko es!"

Haechan mendengus, "Iya, kan dia tadi pamit denganku. Sudahlah, ini Mark Hyung kemana?" Haechan berdiri resah dengan gaya preman andalannya.

Semuanya melanjutkan makan, Haechan akhirnya juga ikut duduk karena capek. Dia berdiri tidak ada yang peduli.

"Dasar caper." Cibik Renjun. Haechan menaikkan sebelah alisnya, "Apa itu?"

"Cari perhatian!"

Jisung masih saja muram, tidak peduli dengan celotehan berisik nan tidak berguna milik kakak-kakaknya. Jika Jisung bilang sekarang, mungkin mereka akan heran, karena Jisung memang jadi SE-ANEH ITU!

Ya, ya, ya, yang dibilang Mark pada Dasha soal Jisung suka padanya itu benar. Tapi hey, hanya mengagumi, tapi Jisung tidak suka jika Dasha dekat dengan orang lain. Ya, bahkan anak berumur 19 tahun itu ternyata rela bertengkar dengan satu dorm jika penyebabnya Dasha. Sungguh.

Tapi kalau masalah suka seperti 'cinta' atau apalah itu namanya, Jisung sama sekali tidak merasakannya. Jadi—ugh, tolong, ini sangat sulit dideskripsikan dengan kata-kata.

Mau bercerita, dengan siapa? orang kepercayaannya hanya Taeil dan Taeyong, tapi itu artinya ia harus menjemput mereka berdua ke dorm yang benar-benar rusuh itu? oh, Jisung bahkan berani bertaruh jika nanti yang ada hanya suara ricuh orang mabuk minuman keras. Ya, unit sebelah memang begitu.

Jika kata Chenle, biarkan saja.

Tidak jelas, singkat, terlalu umum dan biasa saja. Tapi anehnya itu benar!

Tumbuh dewasa memang mengerikan!

***

"Okay, aku pulang, yaa. Daahhh~"

"Dadaahh!"

Dasha menutup pintu apartemen, kemudian mengusap keningnya. Huft, akhirnya ia bisa beristirahat. Ia merebahkan tubuh di lantai, alih-alih di ranjang yang empuk. Meski harusnya hujan terus-menerus, tapi hari ini panassss seekalllli!

Mark curhat banyak hal, mulai dari bagaimana cantiknya Mina, keadaan dorm, kelakuan Chenle, sampai jahatnya manager Dreamies yang lama juga. Ah entahlah, anak itu memang banyak tingkah.


capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang