4. Happy as a Clam

345 27 4
                                    

Tubuh Dasha langsung kaku mendengar ucapannya. "M-maksudnya apa? aku tidak mengerti ... "

Wendy hanya tersenyum.

***

Mark yang sejak satu jam lalu ada di balkon dorm melamun tanpa arti. Tujuannya selama ini telah tercapai. Mengikuti trainee bertahun-tahun, dan memang benar, tidak ada mengkhianati perjuangannya.

Ia melakukan pemotretan lebih dahulu kemarin, karena jadwalnya sebelum ini tadi sudah diisi dengan mendatangi sebuah reality show. Dipikir-pikir, tidak semudah itu, ya, bertemu Dasha.

Mark menggaruk tengkuknya, "Aku salah, ternyata." Laki-laki itu memilih mundur dan memutup pintu balkonnya. Udara semakin dingin di akhir tahun.

Dorm sangat sepi. Semuanya pergi melakukan pemotretan. Mereka pasti akan sangat sibuk. Mark berpikir sejenak, "Kapan, ya, aku bisa membuat janji untuk bertemu dengan nya? pasti seru," gumam nya pelan sambil mengetuk-ngetuk meja kopi dengan jari telunjuknya.

Krieett!

"Oh, Jisung?" pekik Mark saat pintu kamarnya terbuka. Member paling muda itu kemudian duduk di kasur sebelah Mark tanpa mengucapkan apapun. "Kau kenapa?" Mark yang merasa aneh.

Jisung membuang nafasnya berat. Sangat terlukis rasa frustasi dan cemas menutupi wajahnya. Mungkin lelah? pikir Mark.

Hanya lelah. Memangnya Mark bisa percaya? membiarkan adik nya berkata sendiri mungkin akan memakan waktu yang lama, atau malah mungkin tidak akan? jadi Mark akan menebak sesuatu.

"Pasti sasaeng? ada apa dengannya?" Mark meraih bahu lebar Jisung. Ia tahu, Jisung mempunyai gangguan kecemasan. Ini tidak baik.

"Di telepon lagi?" Tebak Mark sekali lagi. Jisung menggeleng.

"Hyung," Jisung bersila di depan Mark. "Ya?" respon Mark singkat.

"Pernah ... dengar kutukan angka ganjil?" Jisung memulai percakapan. Mark mengangguk, "Tentu. Itu sudah terkenal di kalangan artis. Apa itu yang membuat mu cemas? kau percaya?"

Jisung berdecak, "Awalnya tentu saja tidak. Untuk apa aku percaya thakayul? tapi ini yang membuatku terdiam tadi malam. Ingat senior-senior kita? kau tahu, Mark Hyung? tebakan ku tidak pernah meleset." Jelas Jisung panjanh lebar. Mark yang menyimak, berusaha untuk menarik kesimpulan.

"Who's next?" Mark, Jisung terdiam.

Diam bukan tanpa alasan. Ia rasa detik ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hal semacam ini. Mitos, mitos yang fakta. Penafsiran yang berbeda pada setiap manusia, jadi lebih baik diam untuk saat ini.

Jisung tertawa, memperlihatkan senyum nya yang manis, "Apa kau pikir pembicaraan ini sehat, Hyung?"

Mark yang memang mudah tertawa pada hal-hal kecil pun menepuk dahi, "Tidak sama sekali. Ini membuatmu sakit, kau tahu? hahahahah," tawa nya yang renyah.

Jisung berdesis sambil memiringkan kepalanya, "Aku tidak sabar, sebentar lagi ini akan selesai. Setelah syuting MV, kita bisa istirahat," anak itu mengalihkan pembicaraan.

"Uhuh, tidak ada stage yang meresahkan. Aku sungguh lelah," Mark menarik tangannya ke atas. "Apa rencanamu untuk liburan, Jisung?" tanya Mark serius.

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang