9. Unexpected

242 15 2
                                    

"Yakin, kau akan baik-baik saja di sana?"

Dasha mengangguk mantap. Pagi-pagi sekali, seisi dorm heboh gara-gara keputusan mendesak sang maknae. Bahkan, tanpa sepengetahuan mereka, semuanya sudah siap. Dasha sudah mengemas semua barangnya.

"Sudah sembuh, kan? jangan sakit lagi," Seulgi menepuk pundak adiknya lembut. Sebenarnya, sih, anak itu bisa sembuh dengan istirahat yang cukup, mau apapun itu penyakitnya. Jadi tidak mengherankan, bukan?

"Mau menginap dimana?" cegah Joyie sebelum Dasha meraih kenop pintu. "Aku sempat menyewa apartemen dulu, jadi sayang kalau tidak ditinggali." Jawabnya seadanya.

Bohong kalau Joy tidak tahu. Itu hanyalah basa-basi klasik untuk mencegah Dasha keluar lebih cepat sebenarnya. Maklum.

Omong-omong, soal pindahnya Dasha, memang mendadak. Rasanya ingin tinggal sendiri, lalu bertindak sesukanya di sana nanti. Apalagi akan sangat jarang libur seperti ini. Keinginannya juga meningkat saat mengingat lingkungan di sana sepi orang, dan memang sangat asri.

Setidaknya paparazi bisa sedikit diatasi.

***

"Oh, kau mau kemana dengan pakaian seperti itu?" Chenle mengintip dari luar. Melihat Mark yang berdiri menyisir rambutnya di depan cermin dengan kaos putih longgar, dan cardigan kotak-kotak membuatnya heran sejenak.

Mark tidak pernah mengenakan pakaian se-informal itu. "Rahasiaaaa, aku tidak akan memberitahumu," sahut Mark sambil menjulurkan lidah ke Chenle, lalu meraih topinya.

"Eh, aku serius! Nanti kalau Hyung pulang malam, siapa yang menemani Renjun Hyung memasak? apa yang akan kami makan? nanti siapa yang membetulkan wastafel yang bocor saat tengah malam? siapa yang memadamkan api kalau Haechan Hyung bermain kompor? siapa yang akan—"

Ucapan panjang lebar kali tinggi yang Chenle lontarkan terpotong, saat Mark membekapnya dengan roti tawar yang ada di nakas. Masih untung, Haechan tidak menyahut saat namanya disebutkan dengan setengah berteriak oleh Chenle lagi. Nanti bisa-bisa dorm benar-benar kebakaran.  "Aku hanya pergi ke supermarket sebentar," Kata Mark.

Chenle memicingkan matanya yang sipit, "Masa?"

Mark merotasikan bola matanya, "Menyebalkan sekali kau ini. Dibilang aku hanya ke supermarket sebentar,"

Chenle tertawa terbahak-bahak, Mark tambah bingung. "Kau sakit jiwa?" ejek Mark dengan senyum miris melihat adiknya yang tertawa seperti tahanan rumah sakit jiwa.

"Tadi Jaemin hyung dan Jeno hyung juga pergi untuk alasan yang sama. Kau mau berbual dengan Liu Chenle? HOHO, TIDAK BISAA!" Cibir bocah Cina itu sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan-kiri di depan muka Mark.

Bukan Mark namanya kalau kalah debat dengan bocah. "Kau harusnya percaya padaku, jangan pada mereka. Jeno dan Jaemin pergi ke supermarket, apakah menurutmu mungkin? mereka berkencan, tahu. Sudah minggir, nanti jalanan ramai, aku yang susah." Mark berusaha melewati tubuh Chenle di ambang pintu.

Chenle berteriak, "IKUT!"

Mark makin berdebar. Diberi alasan apalagi, biar bocah ini tidak curiga, sih? Mark berhenti lalu menatap bocah itu dalam-dalam, "Chenle sayang, Hyung jalan kaki. Kalau begitu nanti bantu Hyung mengangkat semua belanjaan, ya?" bujuknya dengan nada ala ajuma ajuma.

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang