6. Cornering Questions

332 27 4
                                    

Kepergian Dasha membuat beberapa kakak nya cemas, terutama Irene dan Wendy. Mereka menunggu di depan pintu dorm dengan muka ditekuk, juga tangan yang bersedekap.

Karena memang, sebelumnya, Dasha tidak pernah pergi sendirian. Apalagi mereka semua tahu, jika Seoul bukan kota baik untuk orang asing.

"Kemana anak itu?" Irene bertanya-tanya sambil menoleh kesana-kemari. Wendy mengerang kesal, "Dasar. Tunggu saja, ia akan ku marahi setelah ini."

Dasha melangkahkah kakinya mendekat, "Aku sudah di sini." Interupsinya. Semuanya memasang wajah marah.

"Darimana saja kau?" tegas Irene, "Kalau ingin pergi, bilang. Jadi kami tidak seperti ini, kau tahu?" timpal Wendy. Dasha hanya menunduk, "Maaf, aku salah."

Kali ini kedua kakaknya hanya mampu menghela nafas pasrah. Tidak ada yang perlu diungkit lagi setelah kata 'maaf', bukan?

"Baik, sekarang katakan pada kami, apa saja yang kau lakukan?" Irene mengintrogasi. Dasha masih menunduk, "Mark,"

"MARK?!" Teriak keduanya bersamaan, membuat Dasha sedikit kaget, sampai refleks memegang dadanya sendiri. "Jangan berteriak!" Ujarnya dengan nada tinggi.

Irene dan Wendy saling melempar tatapan kebingungan, sedangkan Dasha hanya membisu sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Dasha agak memundurkan tubuhnya saat Irene mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Dasha, "Apa kau berkencan?" bisiknya. Dasha melotot kaget. Apa semua yang berhubungan dengan bertemu lawan jenis bisa di sebut kencan?

"Heol, aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang dunia seperti itu." Dasha membeberkan kedua tangannya. Wendy mengendus-endus jaket Dasha, "Eh, eh, apa ini?!"

"Parfum laki-laki!" Wendy menunjuk tubuh Dasha dengan jarinya. Ia melirik Irene sebentar, "Wah, adik kita sudah dewasa."

Nyali Dasha menciut begitu saja. Walau ia tidak melakukan hal-hal yang aneh dengan Mark, tetap saja tidak ada bukti untuk menyangkal.

"Tapi aku hanya berpelukan ... " Ia membentuk tanda peace dengan kedua jarinya. "Eum, okay. you can go inside." Kali ini suara Wendy yang mengucapkan kalimat itu. Dasha tersenyum, lalu melepas sepatunya dan masuk ke dalam begitu saja.

Lagi-lagi Irene dan Wendy saling tatap. "Apa kau berpikir apa yang aku pikirkan, Wen?" Irene. Wendy mengangguk. Sejauh ini, pikiran mereka selalu kompak, apalagi jika soal grup.

"Ya. Ku harap Mark orang yang tepat." Lirih Wendy membuat Irene menarik senyum tipis.

Keduanya tahu bahwa mata Dasha merah dan sembab bukanlah tanpa alasan basa-basi. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya. "Tapi jika kau berpikir mereka sudah kenal sejak lama, itu salah. Mereka seperti baru saja bertemu ... "

"Shhh, oke. Aku tetap bisa memantaunya." Irene meletakkan jari telunjuknya di bibir.

Besok semuanya selesai. Bahkan syuting MV pun tinggal outro. Dasha dan Mark sudah memutuskan dan sepakat untuk mengembalikan hubungan mereka agar kembali menjadi dekat seperti sebelumnya, atau malah membuatnya lebih dekat.

Bukan hanya karena gadis itu menghargai perjuangan dan pengorbanan Mark untuk datang kemari, tapi salah satu yang penting juga karena hubungan persahabatan mereka tidak boleh berhenti sampai di sana saja.

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang