18. Sacrifice

178 18 2
                                    

Malam ini, kepulangannya membawa sepi. Pelukan Mina, juga dinginnya udara di luar sangat bertabrakan bagi Dasha.

Semua perkataan orang-orang yang ia temui di jalan juga toko-toko terus berenang di kepala. Orang-orang itu memang jahat.


"Kenapa ... kesannya seperti tidak ada yang membelaku, ya? hahahah, aku khawatir dengan masa depan Revee. Baru saja ENCT debut, sudah terjerat skandal seperti ini." Dasha tersenyum miris.

"Apalagi sasaeng Mina kemarin juga sudah mengungkapkan bahwa Mark dan Mina punya hubungan sebelumnya, kan? tetap saja aku, lagi yang salah,"

Sedari tadi yang ia lakukan hanya merenung sambil meneguk air. Apa salahnya di masa lalu?

Ia dikejutkan dengan bunyi handphone, beberapa komentar masuk ke salah satu postingan instagramnya. Wanita itu mendesah pasrah. Ia lupa ...

'Gadis perebut.'

'Kenapa tidak sekalian telanjang? bajumu terlalu terbuka untuk masyarakat Asia.'

'Berhentikan hubunganmu dengan Minhyung, LOL, kau bersanding dengannya membuatku jijik.'

'Bagaimana bisa Minhyung menyukai perempuan seperti ini? aku sungguh berpikir bahwa Mina jauh lebih baik.'

'Heol~~~ kau pikir kau pantas memakai baju seperti itu? kau terlihat sangat buruk kkk.'

'Aku melihat sampah, LMAO.'

'Apa kau pikir kau keren telah menghubungkanmu dengan Minhyung? kalian hanya teman? tidak mungkin :p.'

'Pelakor ppffft.'

'Apakah kau benar-benar memposting foto seperti ini?'

Dasha membanting handphonenya dengan brutal ke lantai. Ia menarik rambutnya frustasi.

"Pesan sampah, hahahah,"

Handphonenya terbelah dua, tergeletak di lantai begitu saja. Perasaannya hancur, tidak ada yang bisa ia berbuat saat ini. Ingin bicara pun percuma.

Rasanya setengah mati.

***

"Apa alasanmu menggambil cuti selama itu?"

Mark memainkan penanya di meja manager Lim dengan wajah kusut, "Tidak tahu, tapi-"

Manager Lim menarik senyum, "Menghindari, ya?" uapnya blak-blakan. Karena memang fakta, tentu saja Mark mengangguk. "Kebetulan sekali perkataanmu benar."

"Boleh saja, setelah ini akan ku urus. Tapi sebelumnya kau perlu tahu, Minhyung-aa, masalah itu di hadapi, bukan dihindari." Ujar manager tanpa memicingkan mata ke arah Mark yang sedari tadi terus melamun.

"Benar, tapi kalau kau bicara seperti itu, aku juga bisa menjawab lebih baik menghindari daripada menyembuhkan."

Manager Lim terdiam, lalu ber-wow, karena pernyataan Mark yang barusan. "Kau ... takut mentalmu terganggu? bukankah mereka biasa saja sejauh ini?"

Mark kembali membuang muka. Anak itu benar-benar muak. "Aku tidak apa-apa, tapi Dasha ... kau tahu kan?"

"Hahahahah, kau peduli dengan Dasha?" manager Lim tertawa puas, "Kau mengambil cuti hanya untuk anak itu? hey, Minhyung, dengar ini baik-baik," Manager Lim menempelkan tangannya di bahu Mark.

"Masa depan ENCT ada di tanganmu sekarang. Jika kau memilih untuk hiatus sekarang, tentu saja dampaknya akan sangat besar. Tapi kau tidak ada masalah, kenapa harus karena perempuan itu?"

Mark menelan ludahnya kasar seraya mengusap gusar wajahnya, "Aku tahu dia membutuhkanku. Aku tidak bisa membagi waktu jika aku terus aktif dengan pekerjaan-"

"Dasha tidak akan mati-"

"Apa maksudmu bicara seperti itu?"

Manager mereka berjalan, megantongi kedua tangannya dan memandangi keadaan ramai kota Seoul dari jendela. "Ku bilang wanita itu tidak akan mati kalau kau tidak ada. Apa aku salah?" ia menarik senyum mengejek, lalu menolehkan kepala pada Mark yang sedang menahan emosi.

"Sekarang kirimkan permintaan persetujuan keputusan sekarang, tolong." Mark memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam.

"Ya, akan ku lakukan demi kau, laki-laki yang menyia-nyiakan pekerjaannya dan malah memilih melindungi gadis selingkuhan."

"Hyung, cukup."

"Tch, apa aku salah? bukankah dia selingkuhanmu setelah kau berpacaran dengan Mina? kau pikir aku tidak tahu, ya Minhyung? se-ling-ku-han."

Mark tidak tahan lagi. Ia mendorong managernya sampai tertahan tembok dengan amarah yang mengililingi. Menarik kerah kemejanya dari depan, "Sejak awal aku mendengarmu memojokkannya setelah skandal ini, aku diam, Hyung. Dari awal pembicaraan tak sehat, dan dari nadamu yang menjelek-jelekkannya barusan, aku masih diam. Tapi kali ini kau keterlaluan," ungkapnya penuh tekanan di setiap katanya.

"Ingat, kau ini hanya seorang MANAGER! Kau tidak berhak untuk mengatur sepenuhnya keputusan atau kehidupan pribadi kami. Tidak akan pernah berhak. Dan apa juga masalahmu jika memang benar aku berselingkuh dengannya? kenapa kau kurang ajar, Hyung?" Mark mengambil tangan kanan Managernya dan menepuk-nepukkan benda itu di pipi kanannya. "Tampar aku,"

Manager Lim masih diam di tempat. Membisu seribu kata. "KU BILANG TAMPAR AKU!" Bentak Mark tepat di depan wajah managernya.

Nafasnya memburu, wajahnya merah padam akibat rasa marah yang membakar. Tatapannya tajam, sangat tajam. Mark tidak pernah seperti itu.

"Jika Hyung tidak setuju, bilang! Untuk apa ada acara menghina sampai seperti itu? kau dibayar berapa?!"

Tanpa mereka sadari, ditengah pertengkaran mereka, Jisung jadi saksi. Mengintip sedikit dari kaca buram bukanlah hal yang buruk, dan dari sini Jisung kembali belajar hal baru.

Mark ... sebesar itu pengorbanannya untuk Dasha. Jisung jadi yakin jika suatu saat pasti akan datang waktunya.

Waktu Mark mengorbankan nyawanya demi Dasha.


capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang