5. Cafe and Little Fingers

317 27 1
                                    

Sedetik kemudian, tawa tercipta di cafe malam itu.

Tawa hambar dengan rasa canggung yang menyelimuti mereka. Dua gelas kopi dingin yang menjadi saksi, juga musik jazz yang mengalun pelan. Aroma kue dari dalam, juga membuat suasana semakin klasik.

"Bunga ... daffodil?" Dasha mengerutkan keningnya seraya mengelus kelopak bung kuning di tangannya.

"Yaa, cantik, bukan?" Mark memainkan jarinya di bawah meja cafe, tersenyum diam-diam.

Bunga daffodil dari tanah musim dingin, yang terlihat seperti seorang sahabat yang telah lama pergi, tak bersama lagi. Kegembiraan, dan keceriaan.

Dasha menitikkan air matanya hanya karena bunga. Entah ada apa, tapi ia bisa merasakan arti bunga di depannya dengan sangat dalam.

"Dari mana kau mendapatkan bunga ini, hey?" Dasha kemudian mengusap air matanya. Kedua atensi mereka bertemu, kata Mark, gadis di depannya ini bukanlah Dasha yang sering menangis di pelukan ibunya lagi.

Sedangkan laki-laki yang baru saja memberinya bunga, juga bukan sosok kekanakan yang suka menganggu. Begitu pikir Dasha.

Berjuta topik bertarung di pikiran masing-masing, rasanya benar-benar ingin melontarkan, namun waktu mereka tidaklah banyak.

"Ah! bagaimana keadaan semua orang di Toronto?" antusias Dasha seakan meluap. Mark tersenyum, ia memang orang introvert yang susah membuka percakapan lebih dulu.

"Untuk sekarang, semuanya sehat. Tapi Bunda ... ia sekarang sakit-sakitan. Kau tahu? aku sebenarnya sungguh ingin duduk di sampingnya seharian," lirih Mark. Suasana cafe yang sepi seakan mengunci keduanya.

Dasha menghela nafas, "Aku tahu, rasanya, Mark. Kami semua merasakan itu. Aku turut bersedih, maaf telah bertanya ... "

Mark menarik seulas senyum, "Tidak, aku malah senang kau bertanya. Tapi setelah ini aku akan kembali ke Toronto untuk beberapa waktu,"

Tanpa menatap Mark, Dasha berkata, "Pulanglah, Mark. Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya menahan rindu."

"Ya, kau benar. Bahkan tujuan ku pun sudah terwujud." Ucap Mark mencoba membuka jalan untuk mengalihkan topik pembicaraan.

"Apa itu?"

"Bertemu denganmu, tentu saja. Aku akhir-akhir ini banyak melamun memikirkanmu. Aku bahkan sempat berpikir bahwa kita tidak akan seperti ini. Hahahah,"

Hanya dengan begitu, hati Dasha rasanya seperti tersayat pisau. Sakit, sekali. "Mark, menjadi idol bukanlah kemauan mu ... " suara Dasha sedikit bergetar.

Mark menggeleng samar, "Aku hanya kehilangan cita-cita ku, bukan duniaku." Senyumnya.

Dasha terdiam.

"Kau pernah bilang, 'see you on top, Mark,' bukan? apa kau lupa? sekarang, itu semua terwujud."

Dasha kembali menangis. Ia merasa, ini semua salahnya. Mark tidak mungkin berdiri di panggung seperti ini jika bukan karena dirinya. "Kau dengan cita-citamu, aku dengan cita-citaku. Bukan begini ... maafkan aku, maaf, maaf ... "

Mungkin. Pikirkan saja, Mark pasti sekarang sudah menerbitkan beberapa buku berisi tulisan-tulisan indah yang ia miliki. Bukan seperti ini. Sedih sekali jika setiap Dasha mengingat bahwa sahabatnya ini menerima segala resiko jika memang ini hanya demi menemuinya.

"Ini bukan salahmu, Dasha ... " tepis Mark semakin panik saat sahabatnya itu menangis tersedu-sedu di hadapannya.

Dasha menggeleng kuat. Bagaimanapun juga, dimatanya, dirinya yang paling bersalah disini. Ia tahu satu-satunya yang membuat keinginan Mark semakin kuat hanyalah sebuah pesan yang belum tersampaikan.

"Seharusnya aku tidak memilih untuk menjadi idol. Aku benci hidupku sendiri ... " anak itu kemudian menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangan yang dilipat di atas meja cafe.

Hidup untuk merusak impian orang lain, apakah itu menurut kalian sesuatu yang bagus?

Mark kala itu hanya bisa tersenyum menyembunyikan segala rasa buruk dalam benaknya. Dasha benar, impiannya sejak kecil pupus dan hancur lebur begitu saja. Meski disamping itu ia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya, tetap saja.

Jika perlu, Mark akan mencatat. Resiko akan selalu ada.

Pemuda dengan tahi lalat di bawah mata itu kemudian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Dasha, tatap aku." ujarnya.

Dasha perlahan mengangkat kepalanya, kemudian menatap mata Mark dengan mata yang berair.

"Kemari," tuturnya lembut. Tanpa berpikir panjang, Dasha langsung berlari ke arah Mark, dan mendekapnya erat.

Tangis wanita itu makin pecah, ia menenggelamkan seluruh bagian wajahnya ke jaket hangat Mark. Masih aroma yang sama. Aroma susu yang manis.

"Maaf ... " gumam Dasha di tengah tangisnya. Mark ragu, namun perlahan tapi pasti, tangannya mengusap lembut helai rambut sahabat yang ada di rengkuhannya, "It's not your fault,"

Dasha menghela nafas berat, tangisannya perlahan mereda. Mark melonggarkan kaitan tangan mereka, lalu menatap ke bawah, "its okay, Dashaaaa. Aku malah sangat senang bisa berjuang seperti ini."

Dasha perlahan menjauh, kemudian mengusap kasar air mata nya walau masih terus mengalir. Mengangkat jari kelingkingnya tiba-tiba.

"Berjanjilah padaku,"

Mark menaikkan sebelah alisnya bingung, "Untuk apaa?"

"Kita akan terus bersama. Tidak ada lagi perpisahan. Berjanjilah,"

Mark tertawa, lalu melingkarkan jari kelingkingnya, "Aku akan berjanji." Begitu katanya.

Kelingking mereka berjanji, semua menjadi saksi. Senyum perlahan terlukis di wajah keduanya.

Untuk saat ini dan seterusnya, Dasha akan sangat bersyukur bisa bertemu orang setulus Mark. One and only, Mark Lee.

Mereka berdua berharap semua akan berjalan sesuai harapan.

Semuanya akan baik-baik saja.

Untuk selamanya.

Semoga.

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang