20. Jisung's Letter

218 28 8
                                    

Jisung sempat meninggalkan Dasha beberapa surat sebelum ia pergi yang sudah ia siapkan sebelumnya.

Dear, Dasha Nuna.

Mereka bisa berucap seenaknya, tapi akan bersembunyi saat ku suruh mempraktekkan sesuatu yang benar. Tidak ada yang perlu dipedulikan dari perkataan orang-orang itu.

Jangan terlalu terobsesi pada hal yang akhirnya membuatmu melewatkan sesuatu yang lebih penting dari itu. Cukup untuk hari ini dan beberapa waktu yang datang, jangan lakukan hal seperti itu lagi.

Bekerja keraslah hanya untuk dirimu sendiri, pokoknya terus bernafas untuk dirimu sendiri, dan dirimu, dan dirimu.

Nuna, pernahkah kau berpikir atau membayangkan bagaimana sakitnya perasaanku saat melihatmu tersiksa dengan tali yang melilit leher itu?

Jika pada tanggal 1 Desember siapa nyawa yang paling tersakiti, jawabannya adalah aku. Aku tidak akan pernah bisa mendeskripsikan sesuatu yang melampaui batas dengan hanya sebuah goresan tinta di kertas murah.

Tapi percayalah, akan ada yang lebih tersakiti jika kau pergi terlebih dahulu.

Jika seseorang mendatangimu dan bertanya, apa yang membuatmu bahagia, apa jawabanmu?






Dear, Jisung Kim.

Aku sangat berterimakasih atas semua yang kau berikan padaku. Jika tidak, mungkinkah aku memegang pena dan menulis ini semua saat itu?

Sebesar apapun aku berterimakasih, tidak akan pernah cukup. Tapi untuk keseribu kalinya minggu ini, terimakasih, terimakasih.

Aku akan banyak merenungi segala perkataanmu saat kedua tanganmu melindungiku dengan pelukan hangat itu.

Lain kali, perhatikan dirimu terlebih dahulu, kau baik-baik saja, bukan?








capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang