01; Intro, Dasha's Diary

722 69 18
                                    

8 Maret, 2011.

Aku Dasha, dia Mark. Kami sama sama berumur 12 tahun, sama sama tumbuh dan lahir di Kanada, sama sama tinggal di Toronto.

Kami punya kelamin dan mimpi yang berbeda. Maksudku aku perempuan dan dia laki-laki, sudah bisa ditebak, bukan dari namanya?

Dia ingin jadi penulis sejak dulu. Di senggol sedikit tentang cita-cita, penulis selalu jadi jawabannya.

Sejauh ini, kulihat puisi-puisi singkat yang ia buat indah sekali. Aku hanya terkejut bocah ingusan macamnya bisa puitis seperti itu.

Sedangkan aku, aku sejak dulu ingin jadi idol yang tak jauh-jauh seperti Yoona dan teman-temannya. Aku tahu itu cukup jauh dan mustahil bagi anak seumuranku. Tapi aku sendiri, sih, belum pernah bilang pada orang tua ku soal ini.

Aku sekarang sedang sibuk memperhatikan formulir pendaftaran audisi di komputer milik Ayahku. Bagaimana, ya ... aku sudah lebih dari dua jam memperhatikan layar monitor tanpa melakukan apapun.

Sebenarnya-

"DASHAAA!"

Aku berjingkat sampai kursi beroda milik Ayah mundur beberapa meter. Anak kurang ajar. Ya, siapa lagi kalau bukan Mark?

Aku malah makin malas mendengar teriakkan penuh semangatnya. Aku kesal, pokoknya aku malas!

Dan seperti dugaanku, Ibu langsung masuk untuk menenemuiku.

"Dasha, ada Mark di bawah. Sana,"

Aku merotasikan bola mata sambil menguap lebar yang dibuat-buat. Lalu mengerang kecil, "Eunghh, aku mengantuk,"

"DASHAAAA!"

Ibu berdecak, "Lihat, apa kau tidak kasihan padanya?"

Dalam hati aku berteriak keras, TIDAK!

"Tapi kenapa aku harus kasihan?" aku menidurkan kepalaku di meja kerja Ayah. Ibuku berkacak pinggang sambil menatap layar monitor, melihat apa yang membuatku betah berlama-lama di sini sambil menggelengkan kepala beliau.

"Ohh, kau ingin jadi idol?"

Mendengarnya, semangat ku kembali naik. "YA!'

Ibu mengelus pucuk kepalaku sejenak lalu menutup komputer di depanku. "Tunjukkan pada Ibu kemampuanmu nanti malam. Tapi, temui Mark dan jangan bermain komputer atau menonton TV lagi hari ini." Tegur Ibu halus, hatiku berbunga-bunga.

"Baiklah, ratuu~~~" senandungku sambil berjalan keluar dari sana.

Aku menuruni tangga rumah dengan perasaan senang, tidak sabar menunggu malam tiba, meskipun pertama-tama aku harus menemui si dekil itu.

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang