27. Blue

153 22 12
                                    

"Enghh ... Mark?"

Dasha menggeliat di atas-kasur ...

"Mark?" suaranya menggema. Ia memiringkan kepala, tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan di ruangan ini. Tampaknya Mark sudah berangkat.

"Mark!"

Tidak ada jawaban. Sekali lagi,

"MARK LEE!"

Dasha terbangun di kamar Mark dengan ketukan detak jantung yang tak karuan.

Anak itu langsung beranjak berdiri, melihat ke arah cermin. Ia benar-benar berantakan. Dengan make-up yang sudah luntur, dan rambut yang digerai mulai kusut.

Dengan lemas, Dasha mencari-cari handphone. Jika diingat-ingat, ia kemarin meletakkannya di saku kardigan kremnya.

Drrt, drrtt.

Suara getaran yang tak lain dan tak bukan berasal dari handphone Dasha yang rupanya ada di atas nakas.

Line, dari Mark.

| Maaf, aku sudah di pesawat

| Heheheheh

| Anu, aku akan cepat kembali ke Seoul

| Wait for me.

| Sebentar, pesawatnya mau lepas landas

| Ada sandwich di dapur, ambil saja, setelah itu kau pulang

|Jangan lupa kunci pintu heheheheheh

Dasha tersenyum diam-diam saat membaca Line nya. Mark tampak sangat baik dan semoga semua perasaan itu tidaklah benar.

Entah mengapa, perpaduan huruf 'H' dan 'E' yang menjadi satu menjadi 'heheh' itu seperti tawa Mark yang sedang terbahak-bahak.

Sial. Padahal Dasha sedang bersedih.

Dasha kembali duduk di ranjang, membuka kamera handphone lalu menyalakan kamera depan.

Ahhss, matanya sungguh bengkak. Aku terlalu banyak menangis karena Ibu.

"Oohhh, siall. Aku menangis lagi. Aku sungguh ingin pulang," Dasha mengusap air mata. Memandangi foto mereka berdua yang pernah ku unggah di sosial media.

Ibunya, cantik. Cantik, sekali.

"Untuk sesaat, untuk sekarang, aku hanya bisa mengirim doa. Kapan-kapan kita bertemu, ya Ibu. Aku mencintaimu," Dasha dengan penuh cinta mencium gambar Ibu yang terpampang manis di layar.

Dasha ingin tahu mengapa. Mengapa Ibu harus mencemaskannya? ini mengerikan. Kenapa malah Mark yang ke Toronto? kenapa bukan dia saja?

Mark? kau akan baik-baik saja, bukan?

Perutnya keroncongan. Dasha belum mengunyah apapun sejak fajar tadi. Seperti kata Mark, ada sandwich di dapur. Maka ia berjalan ke sana meski tubuh itu terhuyung kesana-kemari.

Darah rendah, tentu saja.

Entahlah, tapi apartemen Mark benar, kecil. Untung saja ini rapi. Perpaduan warna cokelat muda dan putih tulang, rumah industrial tapi masih menyimpan kesan klasik.

Dasha sambil menghirup ingus mencari-cari dimana makanan itu. Dibukanya satu persatu laci, juga kulkas. Satu dan Satu-satunya.

Benar-benar hanya satu.

Srekk.

Dasha sedikit terkejut, satu benda asing terbang dari atas ke bawah, ke lantai.

Kertas?

Dengan tulisan tinta biru?

Dasha mengerutkan kening, lalu berjongkok untuk mengambil kertas itu dan membukanya perlahan.

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang