02; Prologue, Still

545 64 24
                                    

Perempuan dengan rambut hitam lebat itu tersenyum diam-diam saat membaca diary-nya sendiri yang sudah berumur belasan tahun. Tentang Mark, Lee, teman masa kecilnya. Dia dimana, ya sekarang?

Dibukanya lagi buku bersampul krem itu, tangan nya seketika kaku saat sadar akan lembarannya yang mulai sobek-sobek. Sangat disayangkan.

Ketika mengingat banyak nya hal menakjubkan yang ia lupakan di dalam diary nya begitu saja, Dasha ingin menangis rasanya.

Itu terlihat sangat manis, bukan? Dasha ingin segera menemukan sobekan berharga itu-meski kemungkinan besar didahului oleh gigi tikus-tikus kelaparan di dalam gudang.

Tapi sungguh, dimana Mark Lee, ya?

Bertuliskan;

15 Oktober, 2015

Mata nya melotot begitu saja. Tanggal itu adalah hari dimana Dasha pertama kali menginjakkan kaki di Korea Selatan.

Tunggu sampai ia membaca apa isiny ..

Aku tidak akan menuliskan banyak dialog lagi di sini. Aku benar-benar sedih, tapi aku juga sangat senang!

Aku dengan perjuangan berlatih keras dan membujuk Ibu, bagaimana aku akan baik-baik saja, bagaimana aku akan tetap bernafas di sana, dan akhirnya apa?

Ya! Aku diperbolehkan untuk berangkat sendiri setelah sebuah email masuk yang menandakan bahwa aku akan segera berpindah udara.

Di umurku yang sudah menginjak 15 tahun ini, aku membawa beberapa baju dan hal-hal penting untuk ku bawa ke sana.

Tak lupa, sebelum pergi, aku menemui Nancy, Somi, teman-teman satu kelas, dan para guru untuk berpamitan.

Setelah adegan tangis-menangis itu, aku kembali ke rumah, dan Ayah bilang pesawatku akan lepas landas tak lama lagi.

Aku saat itu hampir lupa satu hal. Ah, ralat, satu MANUSIA.

Mark Lee.

Laki-laki yang sudah menungguku di teras rumah sambil tersenyum masam.

Di tangan kanannya pun sudah ada dua pasang gantungan kunci dengan bentuk bendera Kanada, ukiran nama masing masing di bagian belakangnya.

Aku berani bertaruh, pasti harganya mahal.

Aku mendapatkan satu dengan tulisan 'Mork Lee'. Dan dia memegang dengan tulisan 'Dasha Perry'.

Astaga, manis bukan?

Aku saat itu benar-benar tak kuasa menahan tangis di hadapannya, dengan tangan kanan yang menggenggam erat gantungan kunci manis pemberian Mark.

Kami rasanya seperti sepasang kekasih yang tak akan pernah bertemu sampai kapan pun itu.

Benar, saat nanti aku di sana, pasti akan jarang pulang. Apalagi menemui Mark.

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang