14. Rain in Seoul

162 22 2
                                    

"Nuna, maaf, hujan deras,"

Kalimat itu ... kalimat yang terus terngiang-ngiang di kepala Dasha, bahkan sekarang sudah jam 11 malam, hujan masih saja turun. Jisung benar-benar tidak kenapa-napa, bukan?

Hujan deras, baru saja hujan deras saat Jisung meneleponnya tadi sore. Lantas sedang apa dia dari tadi? kenapa tidak memilih datang tepat waktu tanpa memilih alasan yang jelas.

"Bagaimanapun juga, Jisung itu lebih muda dariku ... " Dasha menutup sebal jendela kamarnya. Apakah semua ini ... pertanda baik?

Jam 11:11.

"Ayolah, angka 1111 lagi. Ku harap ini pertanda baik. Kalau memang benar, aku ingin semua orang yang ku sayangi berbahagia." Lirihnya sambil menyunggingkan senyum.

Sudah terhitung lama sekali sejak ia melambaikan tangan ke arah Ibu dan Ayahnya di bandara saat itu. Rasanya baru kemarin. Dipikir-pikir, perpisahan itu memang berat, tapi memutuskan untuk tetap tinggal juga bukan hal yang benar.

Suatu saat kalian akan merasakannya.

Seperti Dasha, pikiran tengah malam yang selalu saja terbang mengambang di atas langit kepalanya. Tak henti-henti ia memikirkan hal random.

Dasha menaikkan kedua kakinya ke ranjang, kemudian bersila dan menangkup dagunya, kembali tersenyum diam diam.

Kalau memang kebahagiaan itu bisa dilihat, mungkin ia sudah memeluknya sejak awal. Sangat ingin. Jika dibayangkan, pasti akan seperti malaikat, bukan? seperti Ibu.

"Ahhh, Ibu, aku merindukanmu." Dasha menghapus titik air matanya yang menetes diam-diam.

Semuanya menemukan sebuah tempat, singgah, lalu pergi dan tak kembali.

Yah, kurang lebih seperti itu hidup, dan seperti itu pula yang sedang Dasha rasakan saat ini. Tapi apapun yang terjadi,

Toronto, Kanada, 2012

"Dasha! Kau sudah mengingkari janjimu kau tahu?! Sudah ku bilang, apapun yang terjadi, tersenyumlah!"

Kata-kata yang Mark kecil lontarkan beberapa tahun silam sangat membekas. Semuanya, semua kata yang tersusun menjadi kalimat terukir jelas dalam pikirannya.

Meski itu semua disampaikan dengan rasa gengsi dan dengan nada intonasi tinggi, Dasha mengerti bahwa Mark peduli.

Sebagai teman ...

"Hahahah, selamat malam ... Seoul,"

***

"Aku bilang apa soal privasi?"

"Iya, maaf ... "

"Aku tanya, aku bilang apa?"

"Jangan masuk semb-"

"Lalu kau barusan kenapa, coba?"

Mark bungkam. Tiga hari terakhir ia mencoba masuk ke apartemen Dasha tanpa izin, dia juga seperti tidak masalah tapi kali ini beda. Dia kenapa sih?

"Muuuuaaaaaafffff," Mark menundukkan badannya berulangkali membuat Dasha memutar bola matanya. Anak aneh.

"Jangan diulangi."

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang