15. Still 127

159 21 0
                                    

"Mina, kau tahu, kan maksudku?"

Sejeong, salah satu sahabat dekat Mina yang berada dalam satu grup dengannya sedari tadi tidak berhenti-henti memberi kata-kata baik. Seperti yang kalian duga, berita itu menyebar sangat cepat, bahkan Mark dan Dasha pun belum sempat menulis surat klarifikasi.

"Berita itu di dapat dari sasaeng, jadi belum tentu kebenarannya. Kau tahu, kan, siapa tahu teman atau ... mereka masih punya hubungan darah?"

Mina semakin kesal, "Memangnya Unnie pikir teman mana yang berpelukan lalu mengusap bibir temannya sendiri? hubungan darah, kata Unnie? marga mereka saja berbeda, lho!"

Sejeong menarik nafas perlahan, lalu menarik Mina dalam pelukannya, sambil membiarkan anak itu menangis. "Sudah, tenanglah, semua akan baik-baik saja. Percayalah,"

Mina menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak akan ada yang baik-baik saja. Aku tak akan lagi percaya pada apapun. Unnie, aku harus apa?" isakan Mina semakin menjadi-jadi ketika nama Mark keluar dari mulutnya. Sejeong mengusap rambut adiknya, Mina mengangkat wajahnya yang penuh air mata, lalu menatap Sejeong.

"A-apa Unnie sudah dengar jika ... mereka punya hubungan juga di masa lalu?"

Sejeong mengangguk, "Ya, aku dengar. Jika aku tahu kalau faktanya Minhyung hanya menjadikanmu pelarian, maka Dasha akan habis di tanganku."

Mina menggeleng pelan, lalu meraih tangan Sejeong, "Jangan sakiti Dasha, tolong ... "

"Apa? kau membelanya? jelas-jelas dia yang merebut Minhyung darimu?! Oh, Mina, jangan bercanda!" Sejeong menegakkan bahu Mina dan menatapnya serius. Bisa dibayangkan?

Ya, Mina mengangguk. "Ini bukan salah Dasha, bukan juga salah Mark, tapi ini salahku. Ini adalah suatu hukuman untukku,"

"Katakan padaku salahmu dimana?" Sejeong mulai terbawa emosi oleh Mina yang terlalu baik ini.

***

"Aku tidak berpacaran dengan Dasha! Sudah berapa kali aku harus bilang ini pada Hyung Manager?!" Saking emosinya, Mark sampai berdiri dan menggebrak meja.

Semua anggota 127 menatap Mark kecewa. "Tidak bisakah kau jujur saja pada kami?" Tutur Taeyong lembut yang berhasil membuat Mark kembali duduk di bangkunya. "Selesaikan ini dengan kepala dingin, Minhyung. Jangan emosi," Yuta lagi-lagi menengahi.

"Bukti, aku perlu bukti lain," Manager 127 menyandarkan punggungnya di kursi sambil memijat pelipisnya.

"Bukti apa lagi, astaga? sumpah, aku dengannya hanya berteman!" Mark membela diri, menatap managernya dengan penuh amarah. "Tidak akan ada yang mempercayaimu. Lagi pula, kenapa kau mencoba untuk menyentuh bibirnya? kau ingin menciumnya?"

Taeil, member tertua akhirnya bersuara. Ia menepuk pelan bahu managernya yang terlihat frustasi di sampingnya, "Hyung, cukup."

"Mark, kami percaya. Mungkin para fans Revee atau para fans ENCT juga masih belum bisa mempercayai ini, tapi saranku, kau segera minta maaf lah dan menulis klarifikasi di sosial mediamu." Usul Taeil, Johnny mengangguk setuju.

"Taeil Hyung benar. Kalau bisa kau sekalian menyertakan bukti yang ada di masa lampau," tambah Johnny.

Seisi ruang dance sunyi seketika.

"Bukankah kau setiap hari menulis buku harian? apakah Dasha juga melakukan hal yang sama?" suara Jaehyun memecah keheningan. Jaehyun hafal betul segala kebiasaan Mark, karena dasarnya, ia adalah pasangan tidur Mark jika di dorm 127.

Tiba-tiba Doyoung menepuk tangannya sekali, "Itu dia! Kau masih menyimpannya, bukan? tidak ketinggalan di Kanada, atau malah ... hilang?"

Mark mengacak rambutnya frustasi, "Tidak, aku tidak menyimpan Diaryku saat masih kecil. Tolonglah, beri aku solusii,"

"Kau tahu, satu-satunya jalan sekarang hanyalah kejujuran, kita semua perlu kau jujur," Taeyong mendesah pasrah. Mark berdecak kesal, "Bagian dari kata 'jujur' mana yang tidak kalian ketahui?" Mark tersenyum meremehkan.

"Jadi kalian kira aku selama ini berbohong? apa aku harus bersumpah diatas kitab?" lanjutnya membuat semua nyali orang di sana menciut. Raut wajah Mark berubah 180 derajat dari biasanya.

"Aku yakin fans lebih mempercayaiku. Jika kalian tidak percaya, terse-"

"Aku percaya padamu," Taeil lebih dulu mendekat pada Mark dan memeluk adiknya hangat. Disusul oleh Taeyong, Yuta, Johnny, Jungwoo, dan member 127 lainnya.

"Kita akan tetap sama seperti dulu saat trainee. Kita akan bersama selamanya, bukan?" ucap Jungwoo dengan suar lemah lembutnya, sedikit menenangkan hati Mark dan member lain.

"Kita akan tetap seperti ini, kami mempercayaimu," Winwin tersenyum diantara desakan pelukan mereka semua.

"Dasha, temui Dasha. Masih ada harapan untuk mengumpulkan bukti dari buku harian miliknya."

"Permisi," suara lembut perempuan terdengar dari luar pintu masuk. "Staff?" terka Haechan, namun ternyata yang masuk adalah Irene, Wendy, Seulgi, Joyie, Dasha, dan manager Reeve.

"Maaf jika saya menguping, tapi pintu juga tidak di tutup. Kalian mencari bukti berupa buku harian, bukan? Dasha masih menyimpannya."




























capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang