22. Farewell

150 19 4
                                    

Satu minggu gelap berlalu, kembali mendatangkan berita buruk.

Dasha berdiri di depan ruangan produsernya dengan kepala menunduk, tangan kanannya memegang erat-erat surat keputusan yang telah ia pikirkan berhari-hari.

Ia ingin mengakhiri kontrak dengan agensi dan Revee. Cukup sampai disini saja.

Dengan tangan gemetaran, ia meraih gagang pintu manual dari kaca itu seraya menarik nafas panjang. "It's your choice, do it." Ujarnya meyakinkan diri sendiri.

Saat kaki dengan sepatu hitam itu mulai melangkah maju, sebuah tangan mencengkram pergelangan Dasha dengan kuat.

Wajahnya penuh keringat, menoleh ke samping. Seseorang berdiri dengan wajah sedih mengeraskan rahangnya.

"Mark? kau-"

"Do you need a hug?" kedua tangan ia rentangkan, senyum manis itu kembali merekah, dan Dasha masih terdiam, membeku di tempatnya dengan rahang yang mengeras.

"Mark ... " suaranya bergetar, ia ingin menangis lagi. Ia langsung mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang sahabatnya itu.

"Aku minta maaf, aku selemah ini, I never thought it would turn out like this." Cicit Dasha sembari membuang muka.

Ia rasakan telapak tangan Mark mengusap punggungnya yang mulai bergetar kecil, "It's not your fault, take your time, ya?"

"Maaf bila aku mengecewakanmu," Dasha berjalan mundur, melepaskan pelukan hangat mereka. "Seharusnya kau tidak menyusulku kesini ... coba saja bila aku-"

"Shhh, jangan berbicara seperti itu. Kau tahu takdir, kan? sebuah kejadian yang telah ditulis rapi oleh Tuhan, tidak akan pernah bisa dihapus ataupun luntur. Maybe if I wasn't here, something worse would have happened, you know?"

Tangan Mark bergerak menyusuri pipi Dasha, mengusapnya perlahan, menghapus air mata yang pernah singgah. "Kau tidak ingin mengecewakan fans, kan?" ucapnya di akhir. Dasha terdiam.

"Apa kau tidak mencoba melihat komentar positif yang mengelilingimu, hm? kau ingin menghilangkan rasa sakit, bukan ingin meninggalkan Revee. Aku tahu akan hal itu. Jadi tersenyumlah."

Dasha menggigit bibirnya ragu kemudian menatap Mark dalam, "Apakah semua akan baik-baik saja?"

Mark mengangguk, "Pasti. Semua hanya butuh waktu, percayalah. Jangan menyerah sekarang, aku akan selalu ada di sini." Mark menaikkan jari kelingkingnya, persis seperti saat pertama mereka bertemu setelah bertahun-tahun.

Kelingking mereka bertaut, kemudian sebuah janji kembali terucap. Semoga saja Mark bisa menepati janjinya.

Untuk saat ini mungkin Dasha lebih memilih opsi pulang dan beristirahat, tidak tahu juga kalau diam-diam mengirim email pada produsernya untuk melakukan konsultasi singkat.

Jika ia menuruti perkataan Mark yang barusan, kontrak Revee akan berakhir sekitar lima tahun lagi jika mereka sepakat untuk tidak memperpanjang. Tidak tahu juga bagaimana keputusan akhirnya.

Lagi-lagi ia menghela nafas. Langit selalu saja mendung dan turun hujan. Dasha kurang suka.

"Jangan terus-terusan cemberut, hujan itu berkah," Mark berbisik. Ia melihat laki-laki dengan payung abunya mulai menembus hujan. Tangannya kembali terulur menggapai telapak Dasha yang terbuka, mengajaknya berjalan bersama diantara jutaan tetes hujan.

"Langit selalu tahu kondisi hatiku, ya." Gumam Dasha sambil melangkah. Mark menatapnya sejenak lalu tertawa kecil, "Kau ini ada-ada saja. Hujan juga dari Tuhan, tahu. Berarti Tuhan yang selalu mengerti dirimu."

"Mark," panggil Dasha tanpa mengalihkan pandangan. "Hm?"

"Kau ... selalu ingat Tuhan, ya. Aku kagum denganmu. Meski kau ini agak jahil kadang-kadang, tapi kau tetap saja anak yang beriman." Puji Dasha. Mark hanya tersenyum, "Hahahah, semoga."

Dasha teringat akan sesuatu, sejak kapan Mark menjadi bijak seperti ini? Dasha tersenyum diam-diam dibalik syalnya, kemudian meremat lengan Mark, "Mark," panggil Dasha. "Ya?"

"Bagaimana tanggapanmu tentang takdir yang jahat? apa kau juga pernah berpikir juga jika Tuhan lah yang jahat pada umatnya?"

"Tidak ada takdir yang jahat. Mau sepahit apapun musibah yang menimpa, semuanya sudah diatur. Jangan takut untuk melawati hari yang buruk, karena pasti ada yang lebih buruk lagi. Dan ... aku sedang menyembunyikan sesuatu darimu. Aku akan memberitahu jika keadaan mentalmu sudah lebih baik,"

Dasha langsung excited, "Apa itu?!"

Mark tersenyum cerah dan mengusap kepala Dasha sampai helai rambutnya berantakan, "Cepatlah sembuh,"

"Baik, aku akan berusaha semampuku. Terimakasih, Mark," ujarnya penuh semangat.

Semudah itu moodnya berubah. Semoga akan terus seperti itu.

"Dan kau tahu, Dasha? perpisahan itu bukan sebuah pilihan, jadi kau harus siap kapanpun itu terjadi."





capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang