10. Small Talk

267 32 0
                                    

Tanpa penjelasan panjang lebar, bayangan pikiran buruk Mark melayang kemana-mana. Jisung dan Dasha,

Ada di satu apartemen! Apa saja yang mereka lakukan?

Bahkan percayalah, mereka kini sedang duduk melingkar di karpet tanpa ada yang berani membuka percakapan lebih dulu. Penyedot debu, pel, tangga, dan alat pembersih lainnya masih berserakan. Benar-benar, mereka ini.

"Ehem," Dasha mendongkak, "Ada apa, Mark?" tanya si pemilik apartemen. Ya, bahkan Dasha sendiri tidak sempat—eh, maksudku lupa menanyai tujuan, alasan, motif, alias aura apa yang membawanya datang ke sini tanpa di suruh.

"You forgot something, Sha. Kau bilang padaku bahwa kau akan pindah ke apartemen kemarin. Tentu saja aku mampir. Apakah itu hal yang mengejutkan?" ujar Mark dengan wajah serius.

"Kau sendiri mau apa?" Mark menoleh ke arah Jisung di sampingnya. "Aku dimintai Nuna bersih-bersih, hanya itu." Jisung menaikkan bahu. Mereka saling melempar tatapan tajam.

"Hyung," ungkap Jisung. Mark berkedip.

"Kau bahkan tidak diundang untuk datang ke sini," tegas Jisung dengan kekehan pelan di akhir. Mark mengerutkan dahinya karena kaget, "Kenapa nada bicaramu seperti itu?"

"Aku benar, kan? apa ada alasan yang jelas? kau tahu, kalau Dasha Nuna sibuk," Jisung menarik ujung rambutnya tanpa menatap wajah Mark lagi. "Aku tidak suka diganggu," lalu beranjak berdiri.

Jisung memakai masker dan topinya, "Bersenang-senang lah." Lalu pergi begitu saja.

Dasha dan Mark belum sempat mengatakan sepatah kata apapun. Wajah mereka tegang seketika. "Apa dia marah?" suara Dasha, tanpa menatap ke Mark.

"Ku rasa begitu,"

Dasha menatap Mark dengan tajam, lalu memukul bahunya keras, "What are you waiting for?! Kejar Jisung!"

Mark tersentak, lalu buru-buru keluar dari apartemen Dasha. Siapa duga bahwa Jisung ternyata sudah sampai di pinggir jalan?

"JISUNG!" Teriak Mark, laki-laki yang sedang berdiri di pinggir jalan itu menoleh tanpa berucap.

"Kenapa kau marah? Hey," Mark tertawa kecil sambil berjalan mendekati Jisung. "Oh, ayolah, apa kesalahanku?"

Jisung menepis kasar tangan Mark yang mendarat di pundaknya. "Jisung ... " lirih Mark tak percaya.

"Tatapannya itu ... ada yang salah denganku," gumam Mark dalam hati sambil menatap dalam-dalam mata Jisung.

"Maaf aku kasar. Aku ingin sendiri, jangan kejar aku." Finalnya lalu meninggalkan Mark dengan cepat. Mark hanya mampu menatapnya kecewa. Kata-katanya barusan, bukanlah tanpa arti. Jisung tidak pernah sekasar itu.

***

"Yaa, seperti itulah ... " Mark mengangkat kedua bahunya setelah menceritakan pada Dasha apa saja yang terjadi pada Jisung di jalan tadi.

"Lalu ... " respon Dasha. Mark menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa?"

"Kau tidak ikut pulang bersama Jisung?" lanjutnya dengan wajah serius. Mendengarnya, laki-laki itu langsung berkacak pinggang, "Kau ini daritadi sepertinya berusaha mengusirku, ya?"

Dasha tertawa terbahak-bahak, "Tidak, laahh. Maksudku kan kalian satu asrama, jika ada masalah, lebih baik cepat diselesaikan. Kau tahu, itu membuat tidak nyaman."

Mark menghela nafas lalu ikut memandang kota Seoul yang makin ramai. Posisi mereka nyama, berada di balkon dengan duduk di kursi sambil sesekali menyesap teh hangat.

Yup, benar. Akhirnya pekerjaan bersih-bersih digantikan oleh Mark, Mark Lee atau lebih akrab disapa Lee Minhyung. "Jisung tidak biasanya seperti itu. Aku tahu dia pendiam, jadi akan ada banyak hal yang disembunyikan dari pada Kakaknya. Tapi itu tadi—"

"Biasanya di umur 19 tahun, rasa ego seseorang seperti meningkat drastis, rawan setres juga, jadi ku rasa wajar. Anak itu memang belum dewasa. Mood swing, biasa, lah." Jawab Dasha santai. Mark membuang nafasnya berat, "Ya, kau benar. Tapi aneh saja jika dia tiba-tiba marah padaku tanpa alasan. Dia bisa memberitahuku alasannya, agar tidak terulang lagi."

Dasha memainkan kuku jarinya, "Kau yang lebih mengerti Jisung, biarkan saja anak itu. Aku yakin bukan masalah yang besar." Tuturnya lembut.

"Tapi Jisung akhir-akhir ini sensitif sekali jika membicarakan aku dan kau." Mark membenarkan posisi kacamatanya. Kalau soal ini, Dasha tidak tahu. "Benarkah? kenapa begitu?"

"Aku juga tidak tahu. Tapi sebagai remaja, aku bisa menyimpulkan kalau Jisung suka padamu."

Dasha sontak memberi sebuah cubitan di pinggang Mark, "A-akhhh, sakittt bodoh!" Mark meringis kesakitan, Dasha menatapnya datar. "Ya kau mulai melantur. Jadi diamlah!"

Bukan sesuatu yang besar, tapi jujur saja, Mark menyukai Dasha yang seperti ini. Mendengarkan dan memberi masukan, tapi—tetap galak dan keras kepala.

"Tapi kau ini makhluk dari planet mana, sih?" Mark menopang dagunya dengan kedua telapak tangan dan menatap lurus ke arah sahabatnya.

"Maksudmu?" Dasha menatap balik Mark sebentar, lalu kembali fokus pada langit.

"Perasaan rasa pekamu itu tingkatnya rendah sekali. Kau absen kemana saat Tuhan membagi rasa pada manusia?"

Dasha mendengus kasar lalu menarik kasar rambut Mark, "Ja. Ngan. Ber. Can. Da!"

"Awsss, aku tidak bercanda! Aku serius! Kau pernah suka pada orang, tidak sih?" desis Mark sambil membenarkan anak rambutnya yang berantakan."Kau kasar sekali ... " lirih Mark.

Dasha tersenyum capek memandang Mark, "Aku pernah suka dengan seseorang. Tapi cintaku tak terbalaskan. Dan jujur saja, patah hati se-sakit itu."

Mark membenarkan posisi duduknya, "Benarkah? tell me who is he!"

"Yaaa, kejadian itu sekitar dua tahun yang lalu---ah, sudahlah, aku tidak ingin kau tahu dan berpikiran yang tidak-tidak." Dasha menampar angin. Yang benar saja, Dasha itu orangnya tidak tertutup.

"Eh? kenapa, sih, kan—"

"Meong~"

Mark dan Dasha saling melempar tatapan bingung. Ada suara anak kucing!

"Apa kau mendengarnya?" tanya Mark sambil menerka-nerka dimana asal suara itu. Dasha mengangguk cepat, "Ya, aku tidak tuli ... "



capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang