#23

124K 13.6K 4.2K
                                    

Hari membosankan lainnya berlalu begitu saja, dan tanpa Suri sadari, begitu dia melangkahkan kakinya keluar dari ruang kelas, matahari sudah meninggi. Terpa cahayanya terasa tajam dan panas di kulit. Gadis itu membuang napas pendek sambil melihat pada arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Hampir tengah hari, yang artinya sebentar lagi jam makan siang akan tiba. Sayangnya, dia tidak punya teman makan siang hari ini.

Siena tengah sibuk dengan berbagai kegiatan barunya semenjak menjadi mahasiswa, berbeda dengan Suri yang cenderung pasif dan lebih memilih untuk langsung pulang ke rumah selepas kelas, atau paling banter jalan-jalan sejenak di mall. Selain itu, departemen mereka juga berbeda, meski teknisnya masih berada di fakultas yang sama. Jika tidak sibuk mengurusi masalah tetek-bengek mahasiswa aktifnya, Siena bakal lebih sering menghabiskan waktu bersama Chandra, entah itu menemaninya selama berlatih di studio—just for your information, sebentar lagi Chandra akan menggelar tur konser tunggalnya yang direncanakan dilangsungkan di beberapa kota sekaligus di Indonesia—atau pergi bersamanya ke mall untuk membeli beberapa benda kecil seperti topi atau scarf yang nantinya akan Chandra bagikan untuk penggemar yang beruntung pada acara konsernya. Bukan berarti Suri tidak suka Siena dekat dengan kakaknya. Setelah menyaksikan bagaimana Chandra perlahan berubah selama setahun belakangan, Suri mulai merasa dia tak punya alasan yang cukup masuk akal untuk tetap melarang Siena dekat dengan Chandra. Hanya saja, jika begini, di tengah situasi hubungannya dengan Sebastian yang tak kunjung membaik, Suri merasa kesepian.

Well, mungkin ini semua memang salahnya yang terlalu aneh dan creepy untuk punya teman baru.

Suri sempat berpikir untuk menyambangi Sergio di departemennya, berniat memaksa cowok itu menemaninya makan siang ketika langkah kakinya terhenti bertepatan dengan matanya yang menatap pada satu sosok tinggi berjaket hitam. Orang berjaket hitam itu balik menatapnya dengan ramah, terlihat nerdy namun stylish dengan kacamata berbingkai bulat yang bertengger di batang hidungnya. Suri mengerutkan dahi, melontarkan sebuah gumam pelan.

"Abang?"

"—yang terganteng." Cetta terkekeh. "Kenapa kelihatannya murung banget? Nggak ada teman makan siang?"

"Abang ngapain disini?" Suri justru balik bertanya.

"Mau jemput adik abang yang paling cantik sekaligus ngajak adik abang makan siang." Cetta nyengir. "Kenapa? Kok kayak kaget gitu? Emang abang nggak boleh ngajakin kamu makan siang? Dulu juga kita sering banget makan siang bareng, kan? Hampir tiap hari malah."

"Hampir tiap hari sampai abang berhenti jemput aku di sekolah karena pacaran sama Kak Rana." Suri menyentakkan kepala. "Abang masih marahan sama Kak Rana?"

"Suri, abang nggak mau bahas itu."

"Idih, berarti masih. Lama banget, sih? Nanti kalau Kak Rana diambil orang, eh abang nangis termehek-mehek."

"Suri," Cetta cemberut, membuat Suri tidak bisa tidak melepas gelak sedetik kemudian.

Kakak-beradik itu akhirnya meninggalkan kampus. Mereka sempat berdebat sejenak tentang tempat yang akan mereka kunjungi siang itu, tapi akhirnya Cetta mengalah dan mengemudikan mobilnya menuju sebuah restoran steak yang berada tidak terlalu jauh dari kampus Suri. Mungkin karena hari ini bukan akhir pekan, restoran itu tidak terlalu ramai. Sesuatu yang patut disyukuri, karena setidaknya Cetta tidak perlu pusing meladeni deretan gadis-gadis abege yang mendekatinya untuk minta foto bersama. Memang, masih tetap ada yang meminta mengambil foto bersamanya, tapi jumlahnya tidak membuat Cetta pusing sampai-sampai kepingin membenturkan kepalanya ke kusen jendela.

"Abangku memang sabar-sabar ya kalau sudah urusan ngeladenin cewek-cewek buat foto bareng." Suri berkata sambil membuka-buka buku menu, membuat salah satu alis Cetta terangkat.

NOIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang