32. Penjelasan

2.7K 205 4
                                    

Raga melangkahkan kakinya memasuki kawasan pemakaman. Di tangan kirinya ia membawa sebuket bunga mawar putih, bunga kesukaannya. Raga mengingat kembali, terakhir ia menginjakkan kaki di tempat ini adalah saat pemakamannya.

Terhitung sudah 2 tahun lebih ia tidak pernah mendatangi tempat ini. Terbesit sedikit rasa ingin mengunjungi pun tidak ada. Namun, entah kenapa sekarang ia merasa ingin mengunjunginya.

Langkah kaki Raga berhenti di samping sebuah nisan berwarna hitam. Raut wajah Raga tidak tergambarkan. Raga berjongkok, memandang lama ukiran nama, tanggal lahir, dan wafat nisan tersebut. Kemudian Raga beralih pada buket bunga yang mirip seperti yang ia bawa yang berada di atas nisan tersebut.

Raga menarik ujung bibirnya, menampilkan senyuman tipis, terkesan sinis. Lalu Raga menyingkirkan buket bunga itu, menggantinya dengan buket bunga yang ia bawa tadi.

Raga mengembuskan napas panjang. "Sori, gue baru bisa datang sekarang," ucapnya pelan, penuh penekanan.

Ukiran nama itu Raga usap dengan pelan. Claretta Alisha Refina.

"Kenapa dia bisa mirip sama lo?" Raga bertanya entah pada siapa. Namun, itulah sumber kebimbangan dirinya. Bahkan, inisial nama dia yang dimaksud Raga dengan nama nisan yang masih Raga usap sama.

Raga memejamkan kedua mata. Pikirannya melayang pada kejadian dua tahun silam, sebelum penyakit itu benar-benar merenggut nyawa perempuan yang masih Raga sesali kepergiannya.

Flashback On

Perempuan berbaju lengan panjang dengan warna krem itu menghampiri laki-laki yang sedang duduk selonjoran di atas matras.

Sebuah botol air mineral ia ulurkan di hadapan laki-laki yang bersimbah dengan keringat. Laki-laki itu mendongak, mendapat senyuman manis dari wajah perempuan itu.

"Kamu nggak capek begini terus? Kasihan mama kamu, Al."

Laki-laki itu mendengus, meneguk air mineral pemberian perempuan itu dengan cepat hingga tandas. "Lo nggak ngerti, Ca."

Perempuan itu menggeleng, ia ikutan duduk dengan laki-laki itu. "Apa yang nggak aku ngerti, Raga? Justru aku sangat mengerti keadaan kamu. Seharusnya kamu menyemangati mama kamu, bukan malah kayak gini. Aku tahu kamu sedih, tapi mama kamu pasti lebih sedih dan butuh kamu. Al, berhenti bersikap kayak gini, aku khawatir."

Raga terdiam.

"Lo pulang sana, udah malam." Raga bangkit, hendak melangkah meninggalkan perempuan itu.

"Kamu pengecut, Al. Bukan seperti ini namanya menyelesaikan masalah, yang ada kamu semakin menambah masalah. Al, aku selalu ada buat kamu, kalau kamu sedih, kamu bisa datang ke aku, aku siap dengerin curhatan kamu, kamu sahabat aku, Al."

Flashback Off

Raga membuka kedua mata. Ia mendengus pelan.

"Pembohong." Raga mendesis pelan, ia beranjak dari keadaan jongkoknya.

Memandang sejenak nisan tersebut, Raga berbalik melangkah meninggalkan tempat itu dengan perasaan gundah.

♣️♣️♣️

Rena menyandarkan kepala di bahu Adnan. Saat ini, mereka berada di ruang tamu Rena. Sesuai ucapan saat di sekolah, Adnan datang jam tujuh ke rumah Rena.

Shoplifting HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang