26. Beautiful Mistake

3.2K 250 24
                                    

Pukul tujuh malam. Mereka kembali terjebak dalam perjalanan. Udara malam sangat sejuk dirasa. Rena menekan perut Raga dengan lengannya yang melingkar di perut cowok itu, untuk sedikit mengurangi rasa dingin yang melanda dirinya. Jaket Raga yang ia pakai ternyata juga tidak mampu menghalau rasa dingin yang ia rasa.

Rena menempelkan pipinya pada punggung kokoh Raga. Matanya terpejam. Ia sedikit tercenung, harusnya ini tidak boleh terjadi. Di saat ia sedang bermasalah dengan Adnan, justru ia malah bermain api. Tapi setengah hari ini Rena akui, ia sedikit bisa melupakan masalahnya dengan Adnan.

Tidak terlalu buruk. Raga seakan mengerti dirinya yang sedang dilanda dilema ini. Cowok menyebalkan yang tiba-tiba berubah menjadi menyenangkan. Seakan Raga selalu ada di saat ia sedih. Raga itu ibarat, penawar. Kesedihan yang Rena alami itu racun, lalu penawar datang, dan akhirnya racun itu hilang.

Rena menghirup dalam-dalam aroma parfum Raga. Sudahkah ia bilang bahwa parfum milik Raga itu enak dinikmati? Dan ia pun juga menyukainya?

Lampu lalu lintas yang semula hijau langsung berganti merah saat motor Raga berhenti di persimpangan jalan. Ada sekitar satu menit untuk menunggu lampu merah berganti hijau.

Raga melirik ke arah spion motornya. Mendapati pemandangan puncak kepala Rena yang tertutup sedikit oleh helmnya. Cowok itu tersenyum tipis.

"Na, tidur?" tanyanya, sambil sedikit menoleh ke samping.

Rena mengeratkan lingkaran tangannya pada perut Raga. Menandakan bahwa ia tidak tidur.

"Ngantuk bilang, ya? Ntar lo jatuh." Raga memegang tangan Rena yang tertutup jaket yang dipakai cewek itu, tangan yang melingkar di pinggangnya. Mengelusnya sebentar, sebelum kembali menarik tangannya saat lampu merah berganti menjadi hijau.

Rena mengangguk, tanpa berniat menjauhkan pipinya pada punggung Raga.

  ♣️♣️♣️

Sebuah pagar besi berwarna hitam berdiri tegak menjulang ke atas. Di dalamnya ada sebuah rumah berwarna putih bertingkat dua. Gelapnya malam semakin pekat. Deruan motor tidak terdengar lagi saat motor tersebut berhenti di depan rumah berwarna putih.

Rena melepaskan lingkaran tangannya, kemudian beralih memegang pundak Raga untuk mempermudah ia turun dari motor besar itu. Rena berdiri di samping motor Raga menunggu cowok itu melepaskan helmnya.

"Masuk, gih," ucap Raga seraya menatap Rena.

Cewek itu mengangguk. Hendak melepaskan jaket yang menyelimuti tubuhnya, ternyata Raga lebih dulu bertindak dengan menahan tangan cewek itu.

"Nggak usah, lo bisa balikin kapan-kapan. Nggak lo balikin juga nggak masalah."

Tersenyum, lalu Rena mengangguk. "Makasih buat hari ini. Gue masuk dulu, ya." Sebelum Rena berbalik, lagi-lagi Raga kembali menahan tangannya.

"Bisa janji sama gue buat nggak sedih lagi?"

Rena mengerutkan alisnya. "Kenapa?"

Alih-alih menjawab, Raga tersenyum sambil mengacak rambut Rena hingga membuat cewek itu menjerit sebal. "Bilang iya dulu." Cowok itu memaksa.

Rena membenarkan tatanan rambutnya, lalu mengangguk. "Iya. Tapi, gue nggak bisa janji." Kecuali kalo lo siap jadi penawar gue, lagi.

"Oke, gue pegang ucapan lo."

"Tujuan lo ngomong ini sama gue, apaan?"

Shoplifting HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang