17. Lelah

3.5K 354 27
                                    

🔻No edit.🔻

Adakalanya cinta datang tiba-tiba
Adakalanya cinta datang walau hanya sesaat
Adakalanya cinta datang hanya di bibir saja
Tapi, cintaku untuk selamanya, dan namamu telah terukir dilubuk hatiku.

    🔥🔥🔥

Waktu terasa begitu sangat cepat berlalu. UKK pada hari terakhir telah tiba. Ada perasaan senang karena terlepas dari kertas-kertas yang berisi soal-soal memusingkan, perasaan cemas karena tidak butuh waktu lama hasil akan keluar.

Pagi ini mendung. Awan Jakarta yang mulanya berwarna putih berubah menjadi abu-abu. Udara segar nan dingin berhembus lambat-lambat menyentuh permukaan kulit.

Rena merapatkan jaket krem yang ia pakai pagi ini untuk sedikit meredakan dinginnya udara pada pagi hari. Kedua kaki Rena melangkah pelan di koridor kelas dua belas.

Sudah banyak murid yang sudah datang ke sekolah. Rena terus berjalan hingga tiba di ruangan yang ia tempati untuk ujian hari terakhir.

Kepalanya menoleh, mencari-cari seseorang. Setelah menangkap sesosok manusia yang ia cari, Rena kembali melangkah setelah meletakan tas berwarna hijau armynya di atas meja.

"Lo udah pelajari materi yang gue kasih ke lo kemarin kan?" tanya Rena langsung pada seorang cowok yang tengah menenggelamkan wajahnya di atas meja dengan bantalan lengan tangan si pemilik itu sendiri.

Merasa ada yang berbicara sekaligus mengganggu tidurnya yang terasa sangat -sangat kurang, cowok tersebut mengangkat kepala sambil mengucek-ngucek kedua bola matanya yang memerah.

Setelah kedua bola mata itu terbuka sempurna, dan kepalanya tertoleh menatap Rena. "Lo ngomong sama gue?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Rena mendengus pelan, lalu menyekap kedua tangannya di depan dada. "Nggak, sama Setan. Ya sama lo lah, emang mata gue arahnya kemana?"

Cowok itu mengangguk, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Mau gue pelajari apapun, gak akan masuk ke otak. Percuma lo susah susah ngajarin gue, bukannya itu sama aja lo buang-buang waktu buat hal yang sia-sia?" Alisnya bertaut, memandang Rena dengan datar.

"Gue hanya menjalankan amanah dari kepsek. Tolong lo hargai itu. Gue tahu dan gue gak mau waktu gue makin banyak yang sia-sia cuma karena hal ini." Tukas Rena dengan nada rendah lalu menarik napas dalam-dalam dan kembali membuangnya.

Raga menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum sinis. "Lo mau dihargai, tapi lo nggak bisa menghargai orang lain. Jadi buat apa gue menghargai usaha lo, sedangkan lo sama sekali nggak menghargai usaha gue?"

Rena diam. Suasana kelas ramai. Untung mereka berbicara dengan nada pelan, hingga teman-teman di kelas yang beberapa sibuk belajar untuk materi ujian terakhir hari ini dan beberapa lainnya main dan bergosip.

"Apa usaha lo?" tanya Rena kemudian setelah beberapa menit terdiam.

Raga memperbaiki letak duduknya. Cowok itu menopang dagu di atas meja sambil terus mengembangkan senyum.

"You know it. Udahlah, sana lo balik ke meja lo, belajar biar lo bisa juara lagi, nggak usah ngurusin hidup orang kalau hidup sendiri aja belom benar." Lalu, Raga kembali menenggelamkan wajahnya di atas meja.

Rena membuang napas panjang. Tanpa melirik ke arah cowok menyebalkan yang sudah mulai masuk ke dalam dunia mimpi, Rena memutar tumitnya lalu melangkah menuju mejanya.

Bel masuk masih lima belas menit lagi. Rena menoleh ke arah pintu, bertepatan dengan Adnan yang baru saja tiba. Cowok dengan senyum lebar di bibirnya melangkah menghampiri Rena dan duduk di kursi depan meja Rena.

"Pagi. Udah sarapan?" tanya Adnan.

Rena mengangguk, dengan senyuman yang tipis di bibir. "Pagi. Udah, kamu?"

Adnan mengerutkan alisnya, senyum lebar di bibirnya pudar menjadi garis tipis lurus. "Kamu kenapa? Kok keliatannya lemes banget? Sakit, ya?" tanya Adnan penuh kekhawatiran.

Rena menggeleng sambil tersenyum. "Aku nggak papa, Nan. Ke meja kamu gih, aku lagi gak mood. Maaf, ya?"

Adnan mendesah, lalu mengangguk. Ia membelai rambut Rena sejenak, "iya gapapa. Semangat, ya Sayang!" ucap Adnan lalu melanjutkan langkahnya menuju meja tempat di mana ia duduk untuk melaksanakan ujian.

Rena mendesah pelan. Kepala dan hatinya sakit. Terutama pada bagian hati. Jujur Rena sudah lelah dengan perlakuan Adnan yang seenaknya memainkan perasaannya tanpa adanya kepastian. Ada harapan dalam diri Rena agar Adnan segera memberinya kepastian. Tidak ada tindakan lain untuk Rena selain menunggu keputusan Adnan. Serius, lanjut atau berhenti.

Rena mencintai Adnan. Dan itu hal yang tidak bisa diganggu gugat untuk beberapa alasan.

Dan Rena juga tahu, bagaimana perasaan Adnan kepadanya.

♣️♣️♣️

semakin banyak berharap, semakin banyak rasa sakit yang diterima.

  ♣️♣️♣️

🔜Makasi loh yang masih mau baca, kutunggu comments nyaaa yaaa!!'🔙

Shoplifting HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang