LITTLE SOULS

80 54 29
                                    

Hi guys!

Makasih udah baca cerita ini :)

Seperti biasa, kalo ada yang typo tulis dicomment ya...

Jangan lupa vote supaya aku makin semangat lagi buat bikin ceritanya.

Tungguin terus kelanjutan dari cerita ini.

SELAMAT MEMBACA :)
_________

"Hallo, selamat malam semuanya. Sedikit cerita, tempat ini adalah tempat yang bersejarah bagi saya dan saudara kembar saya. Kita tumbuh bersama disini, tempat ini nggak berubah, masih sama seperti dulu. Hanya saja... tempat ini kehilangannya. Persisi ditempat saya berdiri, kami bernyanyi, menghibur banyak orang, berbagi tawa. Dia bernyanyi dan saya mengiringinya dengan memainkan alat musik. Tapi hari ini hanya saya, begitu pun seterusnya...”

Atena mulai memetik senar gitar itu dengan lembut, semua orang yang berada didalam kafe itu menikmati alunan nada dari gitar yang di mainkan Atena.

“Malam ini, saya akan menyanyikan lagu yang sering dibawakan oleh saya dan kembaran saya. Little souls by Nicole Zefanya. This is for you sis

8 years old
we're told "You're too young to unlearn how to smile and hate the world
8 years from now on
You'll forget the art of carefreeness and little girls"

So 6 young hearts kick start and venture
Into a labyrinth of question marks
Mischievous, wide eyed
We had nothing to hide
our smiles were bonafide

Semua orang yang ada di kafe tersebut menikmati suara Atena yang sangat merdu nan indah, mereka menggerakkan badannya ke kanan ke kiri menikmati alunan nada lagu yang dibawakan Atena.

We dreamed of superpowers
Meteor showers
Climbing towers
Magic mermaids
Flying ships
And finding home

In our unlocked golden coffer all we had was love to offer
A currency that once was just enough
Guess we grew up

oooh...
oooh...
oooh...
oooh...

Mata Atena mulai berkaca-kaca, ia terus menahan air mata itu agar tidak jatuh. Atena mengingat semua kenangannya bersama Atina.

Little Souls adalah salah satu lagu kesukaan Atena dan Atina, mereka selalu menyanyikan lagu ini setiap saat.

Setiap Atina menyanyikan lagu ini, Atena selalu mengiringinya dengan alat musik dan ikut bernyanyi bersama. Sedangkan orang tua mereka, selalu duduk ditempat dimana Kirana duduk sekarang.

things have changed and minds have aged
we’re so far in thin unfeasible maze
when did black and white decide to propagate?
’cause everything now seems so gray
we’ve forgotten the beats of our own drums
we’ve lost touch of tunes we used to hum
we smell of sin and no longer bubblegum
our season is yet to come

here we are so far
we’ve walked a lonely road
we’re like nomads finding home
but somewhere far inside the 8 year old resides whispering “you’ll be alright.”
so let us live, let live, forgive, and hope we don’t faild the souls we used to know
let’s walk each other home
little souls please don’t let go
this unknown is ours to roam
our little souls will walk us home.

Nyanyian pun selesai. Atena menundukkan kepalanya. Air mata yang ia tahan, pecah setelah ia menyanyikan lagu itu sampai akhir.

Dari bangku penonton Kirana tersenyum lebar seraya menepuk tangannya. Semua orang pun bertepuk tangan.

Atena masih menatap ke bawah dengan air mata yang terus keluar. Seandainya kejadian itu tidak pernah terjadi, pasti tidak akan seperti ini.

.....

Sudah seminggu Atena tidak masuk, membuat hati Ares risau. Dan ditambah, selama seminggu itu, Atena sama sekali tidak mengabari Ares.

Ares mengecek jamnya menunjukkan pukul 7, tapi Atena belum juga datang. chatnya dengan Atena pun belom dibalas juga. Ada apa dengan Atena?

Bel sekolah berbunyi, Ares kembali melihat jam tangannya dan mengecek ponselnya. Masih tidak ada jawaban dari Atena.

Tiba-tiba satpam yang menjaga gerbang menghampiri Ares dan menyuruhnya untuk masuk. Akhirnya Ares memutuskan untuk masuk kedalam.

Dikelas, pikiran Ares menjadi tidak tenang, ia terus-menerus mengecek ponselnya tapi tetap saja masih tidak ada balasan dari Atena.

Ares menatap bangku Atena yang kosong. Bu Wati pun datang lalu memulai pelajaran. Ares benar-benar malas untuk sekolah, karna orang yang bisa membuatnya semangat untuk sekolah tidak hadir disekolah.

Ketika istirahat, Ares mendatangi bu Wati di ruangan guru. Ares ingin menanyakan Atena kenapa sudah seminggu ini dia tidak masuk. Tapi sayang guru itu tidak tahu.

Ares tidak semudah itu percaya kepada bu Wati, masa ia sudah seminggu ini Atena tidak mengabari wali kelasnya?

Ares tidak menyerah begitu saja. Ia menanyakan ke sekretaris kelasnya, mungkin saja dia tahu. Tapi jawabannya sama saja, dia tidak tahu.

Aneh, nggak mungkin Atena nggak kasih tahu sekolah kalo dia nggak masuk selama seminggu, emang dia mau dapet alpa?

Pelajaran terakhir selesai. Ares membereskan barang-barangnya lalu memasukkannya kedalam tas dengan terburu-buru. Bel sudah berbunyi tiga kali, menandakan kalo waktunya untuk pulang.

"Oke, pelajaran cukup sampai disini. Jangan lupa untuk pr nya dikerjakan ya. Assalamuaikum" ucap guru itu lalu meninggalkan kelas.

"Waalaikumusalam" jawab semua murid.

Ares langsung pergi keluar kelas dengan terburu-buru menuju gerbang belakang.

Sepulang sekolah Ares berniat untuk pergi kerumah Atena. Tapi ada satu orang yang menghalangi niatnya.

Rebeca yang melihat Ares keluar dari kelas dengan buru-buru langsung berlari mengikutinya. Sebelum terlalu jauh Rebeca memanggil Ares dan memegang tangannya.

"Are-"

Dengan cepat Ares menepis tangan itu. "Nggak usah pegang!" Ares menatap cewe itu dengan tatapan yang menakutkan seperti ingin menerkam.

Melihat tatapan seram dari Ares, muka Rebeca langsung ketakutan.

Ares melihat itu langsung berhenti menatapnya. Ares mengalihkan pandangannya seraya menggaruk kepalanya yang tak gantal.

"Pasti kalo ada Atena gua bisa di marahin nih, natapin orang yang nggak bersalah dengan tatapan serem kaya gini" ucap Ares dalam hati.

"Sorry. Ada apa?" tanya Ares, senyum pada cewe itu.

Melihat sifat Ares berubah begitu cepat membuat Rebeca menaikkan salah satu alisnya.

"Secepat itu kah dia berubah? yang tadinya mau nerkam, sekarang malah tersenyum manis kaya bayi yang abis berbuat salah. LUCU!" ucap Rebeca dalam hati, menatap Ares yang terus tersenyum padanya.

"Umm.. mau ngajak jalan" ucap Rebeca, menatap Ares dengan senyuman manis.

Ares mengernyitkan kening seraya mengangkat salah satu alisnya. Ares kesal, karna ada orang yang berani membuat niatnya untuk bertemu dengan Atena gagal.

"Dih siapa lo?! berani nga-" Ares menghentikan ucapannya, karna tiba-tiba Atena muncul di pikirannya, melototi Ares dengan tangan yang melipat diatas dada.

"Sabar Res, sabar..." ucap Ares dalam hati sambi menarik napasnya. "Gini ya, Rebeca. kita kan baru kenal seminggu, masa lo udah ngajak gue jalan. Emang nggak takut?" lirih Ares. Dengan cepat Rebeca menggelengkan kepalanya.

Ares mengharapkan dia takut, tapi kenapa...

Arrgggg!

"Soalnya... aku percaya sama kamu" kekeh Ares mendengar kata ‘kamu’ dari mulut cewe itu. "Kitakan udah temenan dari kecil" sambungnya membuat Ares terlonjak kaget dengan kata-katanya.

Cewe yang ada di hadapannya sekarang, adalah teman masa kecilnya? Sejak kapan? yang Ares ingat ia hanya punya teman cowo.

TERES (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang