Hello, Memory Ketigapuluh Dua!

Start from the beginning
                                        

Maura diam. Kepalanya semakin menunduk. Dewa pun turun dari meja dan pindah duduk di kursi Nando.

"Lo kenapa sih? Lo nggak se-ambisius biasanya. Lo lagi ngebingungin apa sebenernya?" Dewa bertanya lagi.

"Banyak. Banyak banget, Wa."

"Kayak orang tua aja lo banyak pikiran!" canda Dewa. "Semangat dong! Kejar apa yang lo pengen dari awal. Walaupun nanti hasilnya mungkin nggak sesuai, yang penting lo usaha dulu. Lo udah sampe sejauh ini, Ra. Lo udah berhasil ngerubah Nando. Jadi sekarang waktunya lo ungkapin sama dia dan liat jawabannya. Baru setelah itu lo boleh mutusin buat berhenti atau tetep nunggu."

Anehnya, kata-kata penyemangat dari Dewa masih tidak bisa menghilangkan kebingungan di hatinya. Kekhawatiran itu masih tetap ada.

Tapi satu yang setidaknya bisa menenangkannya: melihat Dewa tersenyum sedekat ini.

***

Pulang sekolah, Maura memutuskan untuk mengikuti apa kata Dewa. Dia ingin melanjutkan kembali usahanya untuk mengungkapkan perasaannya pada Nando. Sebelum terlambat. Supaya dia bisa memutuskan akan berhenti atau menunggu.

"Gue mau ngomong bentar, Nan." Maura mulai menjalankan misinya. Saat suasana kelas sudah kosong.

"Kenapa?" tanya Nando. Tidak merasa ada yang janggal, padahal Maura sudah meremas-remas tangannya di bawah meja.

"Gue cuma mau ngomong sesuatu. Tapi ini bukan maksud apa-apa. Gue cuma pengen ngomong aja."

Mendengar kata-kata Maura yang berputar-putar itu Nando tersenyum dan menoleh pada Maura. "Kenapa, Ra? Ngomong aja."

Maura menghela napasnya sekali lagi. Lalu setelah memberanikan dirinya, dia mengangkat kepalanya membalas tatapan Nando. "Gue suka sama lo, Nan," ucapnya lantang, dalam satu tarikan napas.

Masih menatap Maura, Nando tidak menggerakkan matanya untuk sesaat. Kaget. Seperti merasa salah dengar. Tapi kemudian dia mulai mengerjapkan matanya dan menunjuk dirinya sendiri sambil bertanya, "Gue?"

"Iya, elo. Gue cinta sama lo," balas Maura lagi. Tapi anehnya, aneh sekali... setelah berhasil mengatakan itu pada Nando, justru hatinya belum merasa lega. Seperti bukan ini yang menjadi faktor kerisauan hatinya selama ini. Aneh.

"Yakin gue?" Nando malah tertawa. "Jangan bercanda, Ra."

"Gue serius."

"Sama gue?"

Maura mengangguk. Nando pun menghentikan tawanya saat wajah serius Maura tidak juga berubah.

"Kenapa? Kapan?" tanya Nando lagi.

"Apanya?"

"Kenapa suka sama gue? Kapan mulainya?"

Maura menelan salivanya. "Yah... karna lo baik. Lo pintar. Lo... ganteng." Maura langsung mengacak-acak rambutnya saat jawaban-jawaban itu muncul dari mulutnya. Jujur, Maura bingung harus menjawab apa. Dia sendiri pun tidak tahu jelas mengapa dia bisa jatuh cinta pada Nando. Karena dulu dia percaya pada prinsip; jatuh cinta itu tidak membutuhkan alasan.

"Yah... karna lo sebenernya punya sifat yang nggak kayak kelihatannya. Jadi gue suka. Gue suka kepribadian lo," sambung Maura lagi.

Nando menaikkan sebelah alisnya. "Bukan karna penasaran?"

"Hah?" Maura melebarkan matanya. "Maksudnya?"

Nando tersenyum lagi. "Bukannya lo cuma penasaran aja sama gue? Lo cuma pengen bantu ngerubah gue jadi kayak dulu lagi supaya gue nggak dipandang rendah dan dijauhin orang-orang lagi. Supaya gue bisa jadi diri gue sendiri lagi, yang kayak dulu. Iya kan?"

Hello, Memory!   [COMPLETED]Where stories live. Discover now