Part 17 : Kabur

1.6K 220 9
                                    

Mengamati sekeliling ruangan asing bukan hal yang mudah, terlebih dalam keadaan terikat seperti yang tengah Al alami.
Sudah cukup ia pasrah pada keadaan, menyaksikan kedua orang terkasihnya mengalami hal menyakitkan membuat keberanian Al menjadi lebih besar dari sebelumnya.

" Ahhh,,, tolong, tolong! "
Sebuah rintihan kesakitan Al mengundang satu lelaki berbadan kekar mendekat.
Ia menanyakan kenapa Al meminta tolong di malam yang larut seperti ini.

" Tolong aku,! "
Al terus meminta tolong, menggerakkan kursi yang mengikat dirinya kuat dengan bebas sehingga decitan serta dentuman kaki kursi menghantam lantai terus berbunyi.
dengan suara yang benar-benar bisa meyakinkan penjaga itu bahwa dirinya memang kesakitan, penjaga itu mau tidak mau harus melepaskan ikatan dan membopong Al keluar dari sana.

Namun sebelum benar-benar keluar, Al terlebih dahulu membuat penjaga itu lumpuh.
Dengan sebilah pisau yang Al dapat dari penjaga itu saat berusaha menolongnya,
Al menusuknya,
Terserah lelaki itu selamat atau tidak, yang pasti Al tidak menusuknya dalam, hanya berusaha membuat lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa saat ia kabur dari tempat buruk itu.

Entahlah, tak ada yang bisa dilakukan Al selain melakukan tindakan ini. hal yang tidak pernah ia lakukan bahkan ia bayangkan sebelumnya - melukai seseorang dengan sengaja.

Tangan Al gemetar saat menyadari ada sedikit darah di tangannya, tapi Al berusaha tenang.
Menutup kembali pintu, dan lebih memilih jendela sebagai aksesnya untuk kabur.

Al masih memegang pisau itu untuk berjaga-jaga jika seandainya ia kembali mendapat ancaman saat keluar nanti.

Tapi sebelum itu, Al lebih sigap mengamankan orang yang telah ia lukai agar tidak memancing temannya untuk datang.

Al mengancam lelaki itu dengan pisaunya, menodongkan kembali pisau itu pada leher dari arah belakang sedangkan tangannya ia kunci agar tak bisa berbuat apa-apa.

Lelaki itu menuruti kemauan Al, ia tetap diam karena takut jika Al akan benar-benar membunuhnya.
Luka pada perutnya saja sudah sangat menyakitkan, ia tidak akan membiarkan kembali luka itu didapatkan jika melawan.

Al mengikat tubuh lelaki itu, menutup mulutnya agar tidak berteriak dengan menyumpalkan sebuah kain yang berserak di tempat ia mengikat lelaki itu.
Tangan Al meraba bagian saku lelaki di hadapannya , dan ya, Al mendapat apa yang ia cari.
Sebuah Kunci.
Al segera berlari menuju pintu untuk menguncinya.
Setidaknya, tidak akan ada yang tahu jika Al kabur dari tempat itu sampai besok pagi.

Lelaki ini tidak akan mati, dia pasti bisa bertahan sampai ada yang datang untuk memberi Al makan besok.

[•••]

Isakan tangis pilu terus keluar dari mulut Yuki. Gadis itu tak berhenti meratapi nasibnya walau matanya sudah lelah mengeluarkan airmata.

" Ki, lo jangan nangis terus dong, kalo lo rapuh, yang bisa nguatin nyokap lo siapa? "

" Gue nggak pernah ngebayangin kalo nasib gue jadi gini Ly.  Beberapa hari lalu papa bilang bakal ninggalin keluarga. Gue nggak mau itu terjadi secepet ini. Gue belum siap! "

Mata Yuki sembap dengan hidung yang memerah.  Ia terus berdiam diri di kursi samping ayahnya terbaring tidak sadarkan diri.

Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding kehilangan orang tua, papanya koma dan harapan untuk hidup sangat kecil setelah dilakukan operasi pasca kecelakaan.
Hanya menunggu keajaiban dan kemurahan hati dari Sang Pencipta yang sangat diharapkan Yuki saat ini.

" Ki, lo juga butuh istirahat. Tubuh lo perlu asupan makanan, lo belum makan dari semalem. Gue akan ke kantin buat beli makan. Lo baik-baik di sini! "
Ily mengelus bahu Yuki, lalu beranjak ke arah pintu untuk keluar.
Dirinya berniat untuk membeli sesuatu untuk sarapan pagi ini,


Pacar sewaan? (✔)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang