"Boleh."
Keduanya pun berjalan menuju perpustakaan kecil rumah yang berada di sudut ruangan. Letaknya berdekatan dengan ruang kerja Papanya. Saat aroma buku-buku masuk ke indra penciuman Nando, cowok itu langsung memandang takjub di satu rak kumpulan buku-buku favoritnya.
Ini seperti surga bagi Nando.
"Lebih banyak dari punya lo, kan?" kata Maura dengan tangan bersidekap dan punggung menyandar ke ujung rak.
Nando menoleh ke arah Maura dengan senyuman lebarnya dan anggukan semangat. Lagi-lagi membuat Maura merasakan perasaan aneh itu. Hanya karna sebuah senyuman, Nando nampak terlihat berbeda dengan Nando yang kutu buku biasanya.
Hanya karna senyuman, Nando mampu menampilkan sisi sebenarnya dari dirinya. Yang membuat Maura terkesima kagum.
Maura jadi semakin penasaran. Ingin tahu lebih banyak tentang Nando. Menggali kembali sisi sebenarnya dari diri Nando. Dan ingin menjadi lebih dekat dengan Nando.
"Gue boleh baca yang ini?"
Pertanyaan Nando menyadarkan lamunannya. Ia lalu mengerjapkan matanya dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Boleh. Pinjem semuanya juga boleh," jawab Maura.
"Thankyou!" seru Nando sambil mencengram bahu kiri Maura saking senangnya. Ia tersenyum dengan mata berbinar sambil terus mengucapkan terimakasih pada Maura.
Hal itu lagi-lagi membuat Maura terkesiap. Sentuhan di bahunya, senyuman dan mata indah di depannya, menariknya lagi dalam keterkaguman yang entah harus dideskripsikan sebagai apa perasaan anehnya ini.
***
Bel rumah berbunyi ketika Maura dan Nando sama-sama tengah tenggelam dalam bacaannya masing-masing. Mereka duduk bersebelahan di sofa panjang yang berada di perpustakaan rumah. Di tengah-tengah antara mereka bertumpuk beberapa buku yang akan dibaca Nando selanjutnya.
Maura enggan mengangkat pantatnya untuk membukakan pintu. Biar Bi Kokom saja.
Jam segini palingan tukang galon nganter air, batin Maura.
Sementara di depan rumah, seseorang tengah menghentak-hentakkan kakinya seirama dengan drum dari musik yang sedang ia dengarkan di earphone nya. Menunggu pintu terbuka.
Bi Kokom pun berjalan terburu-buru dari kamarnya menuju pintu rumah. Setelah mengintip dari jendela, wanita yang usianya tidak jauh lebih muda dari Mama Maura itu membuka pintu. Bi Kokom pun langsung dihadiahi senyuman seseorang yang sejak tadi menunggu di depan pintu itu.
"Halo, good morning, Bi."
"Good evening dong, Den Dewa."
Dewa tertawa. Merasa senang karena Bi Kokom kini mulai tahu mana bahasa yang benar dan salah. Sebelumnya, jika Dewa datang malam hari dan menyapa selamat pagi dalam bahasa Inggris, Bi Kokom hanya mengangguk-angguk saja.
Kini perkembangannya sudah berjalan cepat.
"How are you, Bi?"
"I'm fine. How about you?" balas Bi Kokom dengan logat sunda nya yang kental.
Dewa yang sudah melepas earphone di telinganya itu kembali tertawa. Kembali merasa tidak sia-sia belakangan ini telah mengajari Bi Kokom sedikit bahasa Inggris.
"Bibi pinter juga, ya. Cepet nangkepnya lho kalo diajarin."
"Ah, Den Dewa mah suka gitu." Bi Kokom tertawa malu-malu.
"Iya beneran. Besok kita belajar lagi bahasa Jepang ya, Bi."
Bi Kokom mengangguk-angguk semangat. Sejak dulu dia tidak pernah duduk di bangku sekolah. Hanya sampai kelas dua SD saja, keterbatasan biaya saat di kampung. Dan karena naluri Dewa yang memang ingin menjadi guru dan suka mengajarkan oranglain, dia pun terkadang suka membantu Bi Kokom.
Dewa senang dengan orang yang memiliki keinginan tinggi dalam belajar. Apalagi di usia yang sudah seperti Bi Kokom.
"Eh iya, mangga masuk dulu, Den," kata Bi Kokom lagi sambil menggeser tubuhnya, mempersilakan Dewa masuk.
"Nuhun, Bi," jawab Dewa lalu melangkah masuk. "Maura udah pulang, Bi?" tanyanya lalu duduk di sofa ruang tamu bahkan sebelum Bi Kokom mempersilakannya. Saking seringnya Dewa datang, rumah ini sudah seperti rumahnya sendiri.
"Udah dari tadi, Den. Lagi di ruang buku, tapi teh sama temen barunya. Bibi nggak kenal."
"Pake kacamata, kan?"
Bi Kokom mengangguk. "Iya betul. Kalau mau langsung susul aja ke sana, Den."
"Iya, nanti aja."
"Emang itu siapa sih, Den? Anaknya mah pendiem gitu, jadi kayak aneh Bibi liatnya mah."
"Saingan saya, Bi," jawab Dewa sambil tersenyum dengan gaya konyolnya. "Nanti kita mau adu panco."
"Heh?" Bi Kokom memasang ekspresi bingungnya. Dewa semakin menahan tawanya lalu berdiri, menghampiri Bi Kokom.
"Ya udah Bibi ke kamar lagi aja, doain saya menang, ya, Bi."
Setelah itu Dewa pun berjalan menuju ruang buku dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Sementara Bi Kokom hanya geleng-geleng kepalanya di tempatnya berdiri. Sepertinya Dewa yang justru lebih aneh daripada Nando.
***
Tiba di perpustakaan rumah Maura, Dewa berdeham dengan sebelah tangan yang masuk ke saku celana. Tangan lainnya bertumpu pada dinding dekat sofa yang diduduki Maura dan Nando.
Dehaman pertama, hanya Maura yang menyadari. Sementara Nando masih berkonsentrasi dengan buku tebal yang dibacanya. Maura memutar kepalanya ke arah Dewa, sambil memindahkan kertas pembatas novel ke halaman terakhir yang tadi dibacanya sebelum Dewa datang.
"Kapan datengnya?" tanya Maura.
"Baru kok. Pas adzan shubuh tadi."
Maura memutar matanya, bosan dengan jawaban konyol Dewa. "Dari rumah? Abis mandi?" tanya Maura lagi dengan pandangan mata yang mengarah ke rambut basah Dewa.
Tangan yang semula bersembunyi di balik saku celana berpindah ke kepala, menyisir rambut basahnya dari depan ke belakang. Dengan gerakan slow motion sok ganteng yang membuat Maura tersenyum sekilas.
"Bukan, ini mah keringet," jawab Dewa. Cowok itu lalu melangkah menuju sofa yang diduduki Maura dan Nando kemudian memindahkan buku-buku yang menumpuk di antara Maura dan Nando ke meja. Setelah itu tubuh yang sangat tidak rampingnya itu memaksa duduk di tengah-tengah Maura dan Nando, menggantikan tumbukan buku tadi.
Nando yang sedang serius membaca akhirnya terusik saat tubuhnya dihimpit oleh Dewa. Dia membenarkan letak kacamatanya dan melirik Dewa dari samping. Sementara Maura sudah memukul-mukul lengan Dewa sambil mengomel karena Dewa menggodanya dengan menempelkan keringat dari rambutnya ke wajah Maura.
"Dewa!!!" seru Maura. "Ih, rusuh banget, sih!"
Dewa hanya tertawa-tawa. Tangannya lalu memiting leher Maura dan membawa kepalanya ke dadanya, sengaja agar Maura mencium bau keringatnya. Padahal tubuhnya sama sekali tidak bau, hanya ingin menggoda saja.
Di samping mereka, Nando masih memperhatikan. Cowok berkacamata itu lalu membuang napasnya kasar dan memutuskan untuk bangun. Perlahan melangkah menjauhi kedua anak remaja yang terlihat sangat dekat dan bersahabat itu.
Mengingatkannya pada masa-masanya dulu. Saat dia memiliki banyak sahabat yang begitu dekat dengannya. Sebelum akhirnya semuanya pergi ketika dia bukan lagi menjadi anak menteri yang dihormati. Semuanya menjauh saat wajah ayahnya muncul di seluruh berita televisi.
Dan jika diperhatikan, mungkin Dewa lah yang sebenarnya menjadi pengganggu di antara Maura dan Nando tadi. Tetapi entah mengapa Nando justru merasa dialah yang pengganggu di sini. Maka, Nando memilih pergi.R
Dia tidak seharusnya berada di sini. Dia tidak pantas berada di sini.
***
Maaf banget baru bisa update lagi. Semoga masih pada inget cerita ini ya :')
<<< Inesia Pratiwi >>>
(re-publish 11/9/17)
YOU ARE READING
Hello, Memory! [COMPLETED]
Teen Fiction[DITERBITKAN] Ketika segalanya telah berlalu, kebersamaan menjadi terasa berarti. Cinta yang belum sempat diucapkan, hanya tertelan bersama memori. Keterlambatan menyadari perasaan, kini jadi penyesalan. Dihadapkan dengan beberapa pilihan membua...
Hello, Memory Ketujuh!
Start from the beginning
![Hello, Memory! [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/57194961-64-k900663.jpg)