Part 17-Surprise yang Gagal

60.8K 1.3K 56
                                    

Hai hai akhirnya saya kembali juga setelah sekian lama, maafkan yaa readers semuanyaa huhu. Maaf buat yang suka tanya "kapan lanjut" tapi nggak saya jawab, soalnya bingung juga kapannya. Hehe

Ini dia part selanjutnyaa, adegan 18+ nya nggak terlalu banyak, kecewa atau enggak?:p 

Selamat menikmati yaa^^

Jangan lupa vote dan komennya, kutunggu selalu hihi:D

Rasya's POV

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali ketika merasakan silau matahari menembus jendela kamar. Kurasakan pegal di sekujur tubuhku dan sedikit perih pada bagian bawah, kurasa itu karena aku dan Radit melakukannya dengan terlalu cepat. Tadi malam Radit cepat sekali terlelap, sudah kubilang dia sebenarnya lelah tetapi tetap memaksakan pergulatan nikmat itu. Harus kuakui, rasa sakitnya mampu ditutupi rasa nikmat yang memabukkan. Aku tertawa dalam hati menyadari hal ini.

Aku menolehkan kepalaku dan mendapati Radit masih sempurna terlelap, sebegitu lelahnya kah sampai membuat dia belum bangun? Tangan Radit melingkar di pingganggku, kepalanya sempurna tenggelam dalam curuk leherku.

"Dit, bangun, udah siang," aku berbalik arah dan mengusap wajah Radit. Dia tetap saja diam dan tak berubah posisi. Satu hal yang kusadari sejak kami menikah, Radit sungguh susah dibangunkan.

"Radiit..." aku kembali mengusap wajahnya. Radit menggeliat pelan, kemudian membuka mata dan mengusap wajahnya. Dia menoleh ke arahku kemudian menyunggingkan senyumnya.

"Nggak ada ronde dua Sya?" tanyanya masih sambil berusaha membuka matanya dengan benar.

"Satu ronde aja udah bikin bangun kesiangan, apalagi dua. Bisa-bisa nggak kerja saya," jawabku sambil mengerucutkan bibir. Padahal sejujurnya, ronde kedua dan seterusnya pun aku sungguh ingin!

Radit memajukan kepalanya mendekat tepat di depan wajahku.

"Masih aja pake saya sih Sya, sedih dengernya," bisiknya pelan.

Kemudian detik sesudah itu, Radit menempelkan bibirnya pada bibirku dan melumatnya dengan paksa. Lidahnya memasuki ruang mulutku dengan begitu nikmat. Aku mengelus pelan dada bidang Radit dan mengusap kepalanya. Radit memang pandai membuatku menuruti keinginannya!

Radit menarik paksa tangannya yang sudah mulai mengusap bagian atasku ketika mendengar suara pintu diketuk. Kenapa harus ada ketukan pintu, sih?

"Iya sebentar," kata Radit sambil turun dari tempat tidur. Oh My God, dia tidak memakai sehelai kainpun!

"Radiit!" teriakku kencang. "Itu kamu nggak pakai apa-apa," kataku tak kalah kencangnya dengan teriakan sebelumnya. Radit malah tertawa di tempat dia berdiri.

"Kok kamu kaget gitu sih Sya? Bukannya tadi malem pemandangannya juga sama? Indahkan?" tanyanya sambil mengedipakan sebelah matanya.

Dia kemudian menarik selimut yang menutupi tubuhku untuk menutup tubuhnya. Jadilah aku sempurna tak tertutup apapun.

"Aaaaa Radiit! I hate you!" teriakku kencang dan dibalas dengan tawa Radit yang terbahak-bahak sambil berlari kecil menuju pintu.

Aku sungguh sebal melihat Radit, tapi otakku memerintahkanku untuk segera mencari apapun itu untuk menutupi badanku. Dengan tergesa-gesa aku berjalan menuju almari dan menarik salah satu dress kaos selututku. Ketika hendak menggunakannya, Radit kembali membuat aku harus menahan malu.

"Badan kamu tuh luarbiasa indah dan nikmat Sya, nggak usah pake kaos deh mending," kata Radit sambil terkekeh dan berjalan ke arahku. Aku sungguh ingin meninju kepala Radit! Dia sudah membuatku terkejut berkali-kali pagi ini.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang