Part 18-Forgive You

82.3K 1.5K 83
                                    

Hai-hai semuanya! Selamat membaca part ini, semoga suka dan tidak kecewa ya!

Jangan lupa tinggalkan komen (seneng banget banget) dan vote ya!^^

Perhatian: Ada adegan berbahaya 18+++ di Radit's POV, jadi yang belum cukup umur skip aja please haha:D 

Terimakasih, happy reading:*

Oiya, karena aku jarang isi mulmed, sekali-kali isi nggak papa yah? Gimana menurut kalian? Bagus ada isinya atau kosong aja?:)

Itu ceritanya adegan Rasya dan Radit sebelum beraksi hehehe:p

*

Rasya's POV

Hatiku terasa nyeri ketika ingatan tentang Radit yang berbohong kembali terlintas. Untuk apa dia melakukan itu? Mengapa Radit tak mengerti bahwa aku sungguh takut jika terjadi apa-apa padanya? Aku menghela nafas panjang ketika keluar dari kamar mandi, pintu kamar kukunci dari dalam agar aku mampu menenangkan hati dan otakku. Entah bagaimana, akupun tak tahu mengapa bisa semarah ini. Bayangan Radit yang memohon maaf padaku membuat mataku memanas. Mengapa bisa aku semarah ini? Aku bahkan sungguh egois dengan tidak mengucapkan terimakasih padanya.

Aku berjalan keluar sambil membawa selimut ketika berhasil memastikan bahwa Radit sudah terlelap di depan sofa. Akan tidak lucu ketika aku bertemu dengannya padahal beberapa saat yang lalu kami bertengkar. Bertengkar? Ini pertengkaran pertama yang sejujurnya sangat kusayangkan.

Tanpa sadar aku menggigit bibir saat melihat Radit tertidur dengan masih menggunakan kemeja dan celana kerjanya. Ya Tuhan, mengapa bisa aku sejahat ini pada dia?

Radit menggeliat pelan ketika aku menutupi tubuhnya dengan selimut. Mataku menatap lekat Radit dan kembali terasa panas, kuusap kepalanya, aku sungguh ingin minta maaf pada Radit.

***

"Kalian jadikan honeymoon? Jadinya ke mana? Yang deket ajakan?" tanya Mama yang sudah duduk dengan manis di ruang makan sambil menatap tajam ke arah Radit kemudian meneruskan pandangannya ke tempatku berdiri. Aku sedang menggoreng telur, dan Radit sedang duduk di hadapan Mama.

Hari ini sudah empat hari setelah kejadian malam itu, pernikahan kami kembali terasa dingin seperti waktu awal dahulu, ah, bahkan ini lebih buruk.

Aku sama sekali tak bertegur sapa dengan Radit, kami jarang bertemu. Pagi-pagi buta Radit sudah berangkat ke kantor ketika aku belum bangun dan dia akan pulang saat aku sudah tertidur. Itu adalah kejadian dua hari pertama.

Dua hari selanjutnya, aku memutuskan untuk mengambil shift malam dengan menukar jadwalku dengan Lia. Hal ini kulakukan agar tidak harus pulang ke rumah. Hatiku terasa sakit setiap mengingat Radit sama sekali tak berusaha menghubungi atau berbicara denganku setelah malam aku memberikan selimut untuknya.

Mengapa dia jadi semarah ini? Aku tahu salahku-pun banyak, tapi apa aku yang harus memulai bicara pada dia?

Dan pagi ini, Ibu dan Mama sudah duduk dengan manis sambil meminum jahe panas. Ya, hari ini seharusnya aku dan Radit sudah bersiap-siap untuk berangkat, bahkan aku sudah mengambil cuti empat hari ke depan, tetapi kejadian malam itu benar-benar menghancurkan semua rencana kami. Tujuan belum ditentukan, tiket belum dibeli, apalagi hotel, ini semua benar-benar menjadi tak seperti yang kuharapkan.

"Enggak Ma," jawab Radit dengan muka yang aku tahu bahwa dia sangat kacau belakangan ini. Aku sungguh merindukan dia, tapi mengapa menatapku saja Radit seperti malas melakukannya?

Jawaban yang keluar dari mulut Radit memang sesuai dengan pikiranku, dia sudah pasti akan membatalkan rencana (yang pada awal mulanya) indah itu. Dan yah, empat hari cuti yang sudah kuambil akan terbuang sia-sia.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang