Part 11-Terimakasih Asma!

36.9K 1.4K 15
                                    

Rasya's POV

Sudah lima belas menit aku berbaring di tempat tidur, tapi tak kunjung aku bisa terlelap. Kalau begini, besok bisa telat sampai rumah sakit, batinku sebal. Pikiranku malam ini dipenuhi oleh kata-kata yang kuucapkan pada Radit. Apa yang Radit pikirkan saat ini? Bagaimana kalau itu akan mengganggu pekerjaannya? Ah, bodo amat, rutukku dalam hati.

Jam satu malam.

Aku tetap saja tak bisa terlelap.

Radit tak berkata apapun setelah kejadian tak mengenakkan di depan rumah tadi. Dia hanya memandangku sekilas kemudian dengan cepat mandi dan bergegas keluar kamar. Ada perasaan tak enak menjalar dalam hatiku, tetapi karena dia tak berusaha berkata apapun, aku memutuskan bungkam.

Terdengar pintu kamar diketuk. Aku menoleh dan bergegas berjalan menuju pintu.

Kulihat Bi Inah dengan wajah khawatir.

"Bu, maaf saya membangunkan ibu, itu Bapak sesak nafas sampai bunyi. Padahal sudah jarang kambuh Bu," kata Bi Inah dengan muka khawatir.

Aku membuka mulutku menahan rasa terkejut.

"Hah? Dimana Bi?" tanyaku setengah berteriak.

"Di sofa Bu depan tivi," balas Bi Inah.

Aku berlari menuju sofa, Bi Inah mengekor di belakangku. Kulihat Radit sedang bersandar pada sofa dan memegangi dadanya. Peluh menetes di sepanjang dahinya, dia kemudian tersenyum tipis padaku. Oh God, ini pasti karena aku!

"Ventolin kamu mana?" tanyaku pelan.

"Di..laci..meja..nakas," jawab Radit sambil berusaha mengatur nafasnya.

Aku duduk di sampingnya, kuusap peluh di dahi Radit. Dia tampak terkejut namun kembali fokus mengatur nafasnya.

"Don't be panic Radit. Atur nafasnya, hirup sedikit tapi yang lama dan dalam. Ini, tegakin posisi kamu," kataku sambil memberi bantal di antara punggung dan sandaran sofa.

"Aku ambil ventolin dulu," kataku bergegas menuju kamar.

"Bi, tolong buatkan teh manis hangat ya," kataku pada Bi Inah sebelum masuk kamar.

"Baik Bu," balas Bi Inah kemudian bergegas ke dapur.

Aku dengan cepat mengambil ventolin milik Radit, obat ini adalah obat semprot yang mengandung obat yang dapat meringankan proses bernafas seseorang yang sedang kambuh asmanya.

"Ini Dit, semprot satu kali dulu, udah kamu lepas kancing celana jeansmu?" tanyaku yang dibalas gelengan Radit.

"Kamu udah berapa kali kambuh sih, masa nggak paham juga?" gerutuku sambil menghempaskan pantatku di samping Radit.

"Saya nggak bermaksud apa-apa ya, tolong buka kaosmu, saya mau lepas kancing celana jeans ini," kataku menunjuk celana Radit. Aku segera melepas kancingnya.

Kulihat perut Radit yang sixpack. Oh Rasya, bodoh sekali, bahkan di saat seperti ini kamu bisa-bisanya memikirkan hal seperti itu.

"Udah mulai lega? Semprot satu kali lagi," perintahku.

"Makasih ya Bi," kataku saat Bi Inah kembali membawa teh panas. Wajahnya nampak khawatir melihat Radit.

"Radit sering begini ya Bi?" tanyaku sambil mengeluarkan stetoskopku dari kotak.

"Iya dulu Bu, sejak kecil sudah begitu, saya selalu khawatir tiap kali kambuh. Untung ada Bu Rasya sekarang," jawab Bi Inah. Aku tertawa kecil mendengarnya.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang