Part 7-He touch me!

37.7K 1.3K 23
                                    

Rasya's POV

Aku bergegas masuk ke kamar Radit, badanku terasa panas dan gatal, sudah kuduga ini efek dari terong goreng yang kumakan tadi. Aku selalu ingat bahwa aku sangat alergi pada terong. Tapi mengapa hari ini aku melupakan hal yang selalu paling kuingat itu? Apa karena pesona Radit? Ah bodoh, batinku.

"Kenapa?" tanya Radit mendekat ke arahku. Aku menoleh menatapnya.

"Kayaknya alerginya muncul," jawabku pelan, sibuk mengusap tanganku yang memerah.

"Terus biasanya gimana Sya?" tanyanya sambil membungkuk. Apa yang dia lakukan membuat jantungku berdegup kencang.

"Pake salep aja kok. Saya mandi duluan ya," kataku sambil bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi.

Radit hanya diam memandangiku. Dengan dia menanyakan keadaanmu saja itu sudah cukup membahagiakan Sya.

Aku selesai mandi, kulihat di cermin seluruh badanku memerah. Rasanya sungguh panas sekali. Alergi ini dimulai sejak aku kecil, terakhir kali aku merasakannya saat masih kuliah. Selanjutnya tidak pernah lagi, bahkan aku sudah sedikit lupa bahwa rasanya sesakit ini.

"Sya, yaampun, merah semua," kata Radit terkejut ketika aku keluar dari kamar mandi. Leherku memang sudah memerah semua.

"Iya Dit, terakhir kali waktu kuliah, saya sampai lupa rasanya sesakit ini," balasku membuat wajah Radit berubah.

Mungkin dia sedang panik? Ah itu hanya perasaanku saja. Mengapa hari yang cukup menyenangkan ini harus ditutup dengan seluruh badan yang merah. Oh ya ampun.

"Bisa sendiri atau harus dibantu?" tanya Radit mengikutiku duduk di atas kasur.

Aku membuka kotak kecil berisi salep kemudian mulai mengoleskan di sekujur tubuhku.

"Bisa sendiri," jawabku singkat, aku sibuk menahan perih ketika salep itu bertemu dengan kulitku. Radit menatapku lama. Aku mulai kesusahan saat harus mengoleskan pada bagian belakang.

Radit mengambil salep dari tanganku, "Sini saya bantu," katanya sambil beranjak dari posisinya dan duduk di belakangku.

"Tapi Dit.." belum sempat aku selesai mengutarakan maksudku, Radit sudah mengoleskan dengan lembut pada bagian pundakku.

Sebelumnya, dia telah melepas resleting dress katun yang kukenakan. Oh God, aku menelan ludah. Dia menyentuhku!

Kurasakan tangannya lembut mengoleskan salep itu di pundakku, kemudian turun ke bawah sampai ke pinggang. Aku tak bisa melihat raut wajahnya, yang bisa kurasakan hanya desiran nafasnya. Kami tak lagi bercakap-cakap, hanya diam membisu. Entah apa yang Radit rasakan ketika melihat dress-ku ini hampir terbuka.

"Udah Sya, ma..maaf ya," katanya tanpa menatapku, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Mengapa dia terbata-bata? Mengapa pula meminta maaf padaku?

"Makasih ya Dit," balasku spontan dibalas anggukan Radit, dia masuk ke dalam kamar mandi.

Aku kembali mengoleskan salep ke bagian tubuh yang belum terkena. Aku diam sambil membayangkan kejadian barusan, hatiku terasa hangat sekali. Ternyata Radit tidak sejahat yang kukira. Tiba-tiba kata-kata Radit saat keluar dari gerbang gedung pernikahan terlintas dalam benakku, mengapa aku jadi takut dia meninggalkanku?

Radit's POV

Aku melihat dia keluar dari kamar mandi dan terkejut bukan main. Sekujur tubuh Rasya memerah, aku meringis menahan rasa sakit yang tiba-tiba terlintas.

"Sya, yaampun merah semua," kataku setengah berteriak.

"Iya Dit, terakhir kali waktu kuliah, saya sampai lupa rasanya sesakit ini," balasnya, aku sungguh panik melihatnya. Mengapa Dit? Mengapa begitu panik melihatnya padahal dia adalah orang yang paling kamu benci kemarin?

"Bisa sendiri atau harus dibantu?" tanyaku pada akhirnya. Kulihat Rasya mengoleskan salep tersebut perlahan.

"Bisa sendiri," jawabnya singkat, dia nampak menahan sakit. Bukan jawaban itu yang kuharapkan sesungguhnya. Ah Dit, tolong kendalikan dirimu!

Rasya mulai kesulitan saat dia harus mengoleskan bagian punggungnya, dia tampak bersusah payah. Aku yang sejak tadi menatapnya segera mengambil salep itu dari tangannya. Rasya nampak terkejut.

"Sini saya bantu," kataku sambil berpindah posisi di belakang Rasya.

"Tapi Dit.." aku tak tahu apa yang akan dikatakannya, karena aku sudah membuka resleting baju Rasya dengan pelan.

Aku menelan ludah, sesuatu bergejolak di sana. Punggung Rasya sungguh indah, membuat hasratku hampir tak bisa kukendalikan. Dit sadarlah! Aku merutuki pikiran yang terlintas dalam benakku. Aku mulai mengoleskan salep tersebut perlahan-lahan.

Kami larut dalam keheningan. Aku masih mengoleskan secara pelan salep ke punggungnya hingga ke pinggang. Pemandangan indah di depanku membuat aku menelan ludah beberapa kali. Untungnya Rasya tak melihatku.

Aku tahu ini kesalahanku, aku tak mengerti apa yang menjadi alergi Rasya. Rasanya aku menyesal mengajaknya makan di warung pinggir jalan tadi.

"Udah Sya, ma..maaf ya," kataku. Aku harus segera mengakhiri sentuhanku padanya sebelum aku tak mampu mengendalikannya lagi.

"Makasih ya Dit," balasnya ketika aku berjalan menuju kamar mandi. Sudah beberapa kali dia mengucapkan kata itu padaku.

Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi, mungkin mandi air dingin akan mengurangi rasa tegangku. Susah payah aku menahan deru nafasku yang memburu. Hanya begitu saja sudah bisa membuatmu seperti ini Dit? Ah bodoh, batinku sambil mengusap muka.

Update terus rasanya pengen cepat-cepat selesai wahaha

Terimakasih sudah baca^^

Rencananya update sampe part 10/11/12 hehe, terus baru revisi supaya lebih apik hihi

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang