Part 3-Malam Pertama

48.5K 1.4K 16
                                    

Rasya's POV

Aku menurunkan beberapa koper dari bagasi Pajero Sport milik Radit. Rasanya tanganku pegal sekali. Dari jauh Radit melihat ke arahku, tapi dia tidak berusaha membantuku. Apalagi Sya? Kamu berharap dia membantumu? Kubur dalam-dalam mimpi itu. Dengan dia tidak menyakiti atau berbuat kasar padamu saja sudah cukup.

Aku menghela nafas, harus berapa lama aku merasakan hal seperti ini?

Setalah selesai memasukkan koper aku bergegas masuk ke dalam rumah.

"Ibu, kopernya saya taruh dimana ya?" tanya Bi Inah padaku. Aku berfikir cepat, aku tidak mungkin tidur satu kamar dengan Radit, pasti akan sangat menyiksaku.

"Mmm, kamar tamu aja ya Bi, sebelah mana?," jawabku yang membuat Bi Inah kaget, namun dengan cepat dia mengendalikannya.

"Ada di sana bu, biar saya yang bawakan," Bi Inah hendak bergegas menuju kamar tamu.

"Bi, masukin aja di kamar saya," kata Radit yang membuatku tertegun. Apalagi rencana jahat yang dia siapkan untukku? Bersiaplah Sya, laki-laki di depanmu ini memiliki banyak tipu muslihat. Wajah yang nampaknya baik itu ternyata sangat jahat, bukan? Berhati-hatilah.

Bi Inah diam menatapku.

"Kamar tamu saja Bi," kataku cepat yang membuat Bi Inah kebingunan. Radit berjalan ke arah aku dan Bi Inah.

"Bi, tolong dibawa ke kamar saya ya," kata Radit dengan tegas, disambut anggukan kepala Bi Inah. Kemudian bergegas menuju kamar utama.

Aku memandang tajam Radit, sudah semakin besar rasa sebal dan marahku padanya. Apa yang dia rencanakan setelah perceraian?

"Saya nggak berencana buruk Sya," katanya lagi seperti mengetahui apa yang ada dalam benakku.

"Saya nggak bodoh Dit, apalagi yang mau kamu rencanakan selain perceraian? Membunuh saya? Dengan saya satu ruangan dengan kamu saja itu sudah membunuh," kataku tajam, hatiku bergetar hebat, mataku memanas, kemudian aku cepat-cepat berjalan mengikuti Bi Inah. Aku tak lagi melihat mukanya, aku sibuk mengatur ritme jantungku yang sejak tadi tak karuan.

Entah mengapa kata-kata pedas itu keluar dari mulutku. Aku segera mandi dan mengganti bajuku dengan celana legging dan kaos besar. Aku mengeringkan rambutku, kamar ini sudah kumasuki sejak satu jam yang lalu. Kamar ini berbau khas seperti Radit, entah parfum apa yang dia kenakan, tapi aromanya sungguh menenangkan.

Aku melangkah keluar kamar, kulihat beberapa lampu sudah dimatikan. Sudah tidak terlihat Bi Inah, Pak Maman, dan satu lagi, ah aku lupa namanya. Besok akan kutanyakan pada Bi Inah.

Aku mencari sosok itu ke segala penjuru, tapi tak kutemukan. Mengapa aku harus mencari Radit? Aku menggerutu dalam hati.

"Bu, belum tidur?" kata Bi Inah membuatku terkejut.

"Belum Bi, saya habis mandi. Mmm, Bibi lihat..." aku ragu-ragu mengucapkan nama Radit.

"Pak Radit ya bu?" tanya Bi Inah mengetahui maksudku, aku sungguh bersyukur. Aku balas mengangguk.

"Itu sudah tidur di sofa depan tivi bu, biasanya juga seperti itu," lanjut Bi Inah sambil menunjuk sofa di sebelah tangga.

"Oh gitu ya Bi, ya sudah terimakasih ya Bi," kataku sambil tersenyum.

"Iya Bu, saya permisi tidur dulu ya Bu," Bi Inah tersenyum padaku, aku mengangguk pelan.

Aku berjalan menuju sofa di ruang keluarga, ruang keluarga? Maksudku ruang untuk menonton tivi. Kulihat Radit masih mengenakan kaos dan celana jeans yang tadi. Iyalah Sya, tadi dia belum sempat mengambil baju di kamar yang kamu gunakan selama satu jam. Bodoh, aku menggerutu lagi dalam hati.

Radit nampak begitu lelap, tangannya bersedekap. Di rumah sebesar ini Radit justru memilih tidur di sofa? Kegilaan apalagi ini.

"Dit," aku berusaha membangunkannya supaya tidur di kamar. Hah, entah apa yang sedang kupikirkan.

Radit menggeliat, lalu membuka matanya perlahan.

"Kamu nggak tidur di kamar?" tanyaku hati-hati. "Saya bisa tidur di kamar tamu," lanjutku. Radit masih dengan posisi yang sama sambil mengusap wajahnya.

"Saya biasa tidur di sini, kamu bisa tidur di kamar," jawabnya sambil memejamkan mata kembali.

"Tapi posisi tidur begini nggak baik," kataku lagi. Aku menggigit bibir menunggu respon Radit, diamlah Sya, jangan urusi Radit. Tidakkah kamu tahu dia sungguh membencimu?

"Bukan urusanmu," kata Radit tanpa membuka mata. Aku diam dan menghela nafas. Good job Sya, lagi-lagi kebodohan sudah kamu lakukan. Mengapa kamu harus bersikap semanis gula kalau kamu tahu balas Radit akan sepedas ini?

Aku berdiri, kemudian berbalik badan dan bergegas menuju kamar. Yakinlah ada sesuatu yang menantimu, setelah banyak kesabaran yang kamu jalani, yang akan membuatmu terpana hingga lupa betapa pedihnya rasa sakit, batinku mengingat rentetan kata-kata Ali bin Abi Thalib.

Radit's POV

"Bi, tolong dibawa ke kamar saya ya," kataku pada Bi Inah, disambut anggukan kepalanya. Kemudian bergegas menuju kamar utama.

Rasya memandang tajam ke arahku, aku menduga dia sedang berfikiran buruk dalam kepalanya. Aku hanya ingin membuatnya tidak merasa kesulitan tidur, kamar tamu sungguh terasa menyedihkan.

"Saya nggak berencana buruk Sya," kataku membalas tatapan tajamnya.

"Saya nggak bodoh Dit, apalagi yang mau kamu rencanakan selain perceraian? Membunuh saya? Dengan saya satu ruangan dengan kamu saja itu sudah membunuh," jawabnya yang membuatku sungguh terkejut. Dia kemudian bergegas meninggalkan aku yang hanya berdiri terdiam. Hatiku terasa sakit mendapat tuduhan semacam itu. Belum sempat kubalas ucapannya dia sudah masuk ke dalam kamarku.

Aku menghela nafas panjang kemudian menyalakan tivi. Mataku sudah terasa berat dan akhirnya akupun terlelap. Ini memang sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu, tidur di sofa dan jarang terlelap di kamar.

"Dit," suara itu bagai mimpi buruk. Aku berusaha bangun dan membuka mataku. Kulihat dia melapas jilbabnya, rambutnya panjang dan hitam, sungguh..cantik. Aku menelan ludah dan membuang jauh pikiran itu.

"Kamu nggak tidur di kamar?" tanyanya pelan. "Saya bisa tidur di kamar tamu," lanjutnya menatapku. Oh God dia sungguh cantik, baru sekarang aku menyadarinya. Aku mengusap wajahku, menahan gejolak yang tiba-tiba hadir.

"Saya biasa tidur di sini, kamu bisa tidur di kamar," jawabku sambil berusaha menutup mata agar aku tak melihat mukanya.

"Tapi posisi tidur begini nggak baik," katanya lagi. Susah payah aku menahan mataku untuk tidak terbuka.

"Bukan urusanmu," balasku akhirnya membuat Rasya berhenti bicara. Nampaknya dia sudah berhenti berusaha membangunkanku. Dia berjalan pelan kembali ke kamar, aku membuka mata sedikit dan melihatnya menghela nafas.

Aku senang melihatnya kecewa, walau sebagian hatiku berkata bahwa apa yang kulakukan adalah sebuah kesalahan. Mengapa kebencian harus kutumpahkan pada Rasya? Akupun juga tak tahu.

Kulanjutkan mimpiku yang sempat terhenti. Ah, malam pertama yang tak pernah diharapkan oleh siapapun di dunia ini.

Hehehehe updatenya cepet banget mumpung mood

Maaf kalau masih ambyar dan abal-abal:p

Terimakasih hehehe

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang