Part 19-Gombalan, Surprise, dan Kamu yang Seindah Jogja

58.8K 1.2K 89
                                    

Halo! Maaf karena baru muncul lagi setelah sekian lama hilang.

Semoga suka yaa dengan part ini, jangan lupa vote dan komen hehe

Terimakasih readersku tersayang!

---

Rasya's POV

Aku sedang mengerikan rambutku saat melihat jam kecil di kamar mandi tepat menunjukkan pukul sebelas malam. Satu jam yang lalu aku baru bangun dari tidur yang sangat panjang. Seumur hidup, inilah tidur terlama yang pernah kulakukan.

Oh ya, sejak kejadian kemarin malam, saat aku membanting pintu kamar mandi, aku belum bercakap-cakap lagi dengan Radit. Malam itu, entah berapa lama aku berdiam diri di dalam kamar mandi, Radit berusaha mengetuk pintu bahkan memohon maaf padaku dan memintaku segera keluar.

Namun sayang, rasa malu telah membuat aku tak berani untuk sekedar menjawab kalimat Radit, apalagi keluar dan menemuinya.

Ini benar-benar gila, Radit melumat bibirku dengan sangat kasar, bahkan tak pernah terbayangkan dalam benakku dia akan melakukannya. Aku benar-benar kehilangan nafas!

Tak hanya itu, dia juga memaksaku mengakui hal yang bahkan hanya hatiku saja yang tahu, ah, memang payah. Aku sudah memberi tahu Radit hal itu, disaat aku belum tahu mana yang akan dia pilih, aku atau Risa.

Malam itu akhirnya aku keluar dari kamar mandi setelah memastikan Radit benar-benar terlelap, dan benar saja, dia tak menyadari aku yang sudah kembali ke atas tempat tidur.

Ingin aku menyumpahi Radit, berani-beraninya dia melakukan itu padaku! Huh.

Karena waktu tidurku harus terbuang dengan percuma, pagi tadi aku benar-benar bangun melebihi batas normal. Saat membuka mata, kulihat jam sudah menunjukkan pukul satu siang.

Radit meninggalkan setangkup roti dan susu, juga selembar kertas bertuliskan "Maaf ya Sya aku tinggal dulu, kamu dibangunin sulit banget sih. Dimakan dulu sarapannya ya. Aku pulang jam 10 nanti malem. Have a nice day."

Ini sudah jam sebelas malam dan Radit belum kembali ke hotel! Dengan terpaksa harus kuakui, aku merindukannya sekarang. Sepanjang hari ini kuhabiskan hanya dengan menonton tivi dan beberapa kali keluar menuju minimarket hotel. Nikmatilah Sya, bukannya kamu tahu memang akan begini?

Aku sudah selesai mengeringkan rambutku ketika suara Radit membuat pikiranku yang sempat kesana kemari akhirnya berhenti.

"Sya, kamu baru mandi jam sebelas malem gini?" suara Radit berbarengan dengan ketukan tangannya pada pintu kamar mandi.

Ada apa dengan jantungku? Mengapa jadi berdetak dengan ritme yang berbeda?

Aku menarik nafas panjang, cukup sudah rasa malu menyiksaku sepanjang hari ini.

"Aku masuk paksa ya Sya kalo kamu nggak buka-buka gini," Radit sudah mulai memainkan kenop pintu.

"Hhhh sabar, jangan teriak-teriak bisa dong? Aku denger," aku membuka pintu kamar mandi sambil mengerucutkan bibir.

Radit berdiri di depanku sambil tersenyum, di tangan kanannya ada seikat besar mawar merah. Dia menatapku dalam diam, membuat aku jadi ingin hilang saja rasanya saat ini.

Keheningan akhirnya pecah ketika Radit menyodorkan seikat bunga itu.

"Maaf ya Sya buat tadi malem, maaf juga tadi pagi aku langsung pergi, dan juga maaf pulangku nggak jam sepuluh tepat, kamu nggak kangenkan?" Radit memulai kata-katanya hingga membuat aku menggigit bibir, tapi pertanyaan terakhirnya mengubah moodku kembali.

"Nggak sama sekali," jawabku sambil menerima bunga mawar itu dan mulai menghirupnya.

"Bohong sekali-kali nggak bisa ya emangnya Sya?" tanya Radit sambil mengendurkan dasinya.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang