Raditya Argadhika

43.6K 1.5K 12
                                    

Baru saja ikrar itu aku ucapkan, hatiku berdesir, ya, kuakui, aku melalui momen ini dengan hati berdebar sejak tadi. Bagaimana bisa hatiku berdebar saat aku sama sekali tak mengenal perempuan di sampingku ini? Beberapa kali dia menatapku, tersirat kekhawatiran dalam raut wajahnya.

Aku mengusap peluh di wajahku saat seluruh saksi mengatakan "sah". Detak jantungku perlahan normal kembali. Papa dan Mama serta keluarganya menghampiri kami, aku berdiri dalam diam. Papa menepuk bahuku sambil tertawa. Bagaimana dia bisa tertawa saat anaknya menderita? Aku menggeram dalam hati.

Hari ini, hari bersejarah dalam hidupku. Momen yang baru saja kulalui biasanya hanya kulihat dalam televise atau film saja. Kali ini aku melaluinya sendiri! Walau bukan dengan orang yang aku cintai.

Kusebut ini sebuah malapetaka bagiku, ketika beberapa hari yang lalu Papa mengatakan aku harus menikah dengan.. ah dengan, bahkan nama yang kusebutkan saat ijab qabul tadi sudah tak teringat dalam memoriku. Entah bagaimana aku melalui hidupku kelak dengannya.

Ke-malapetakaan itu berlanjut ketika aku harus mengatakan ini pada Risa, perempuan yang sudah menjadi kekasih hatiku sejak empat tahun yang lalu. Hari itu sangat kelam rasanya jika harus kembali diingat. Tangisannya tak berhenti bahkan saat aku memutuskan untuk meninggalkan dia. Aku tak mungkin menghabiskan sisa hari itu dengan melihat dia menangis, selain hatiku yang terasa sakit, ada banyak urusan di kantor yang harus kutangani.

"Dit, Rasya cantik banget ya," kata Mama membuatku terpaksa berhenti dari lamunanku.

"Udahlah Ma jangan mulai," jawabku yang membuat raut wajah mama berubah.

"Kamu ini, apapun yang terjadi, kamu harus bersikap baik pada dia. Dia itu wanita cerdas, baru saja lulus jadi dokter. Ah bahagianya Mama punya menantu dokter," katanya lagi yang membuatku tertegun.

Perempuan itu seorang dokter? Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya? Aku menggurutu lagi dalam hati.

Aku memang tak pernah menanyakan apapun tentang dia, bahkan ketika kami bertemu beberapa waktu yang lalu, aku dan dia lebih banyak larut dalam diam.

Aku menghabiskan makanan di piringku, kemudian melirik sekilas perempuan itu. Seharusnya dengan menatapnya saja hatiku terasa senang, tetapi mengapa justru timbul rasa marah dan benci? Dia merenggut kebahagian yang seharusnya bisa kulalui. Dia menggelapkan masa depanku yang seharusnya bisa cerah.

Aku rasa aku tidak akan pernah bahagia karena pernikahan ini, sekarang ataupun nanti. Aku harus segera membuat perjanjian dengan perempuan itu, agar hubungan kami dapat segera diakhiri. Bagaimanapun caranya, aku tak bisa menjalani hidup dengan orang yang terasa asing bagiku.

"Dit, jangan mikir macam-macam kamu ini. Apa yang mau kamu rencanakan? Jangan main-main dengan Rasya, ini peringatan pertama Papa," kata-kata Papa meluncur deras seperti mengetahui betul apa yang terlintas dalam benakku. Aku menghela nafas.

"Dengar ya Dit, akan menjadi dosa besar buat kamu jika membuat istrimu kelak menangis. Jangan sampai kamu berani lancang berbuat, Papa nggak akan memaafkan kamu," tambahnya lagi. Rahangnya mengeras dan sorot matanya tajam menatapku.

Aku mencengkram jariku, berusaha menahan amarah yang sudah memuncak. Ancaman apalagi ini? Sudah tiga kali Papa mengancamku sejak kali pertama dia menyatakan niatnya menikahkan aku dengan perempuan itu. Jika lelaki di depanku ini bukanlah Papa, sudah pasti akan kutonjok wajahnya. Aku menarik nafas dalam, tahan emosimu Dit, teriakku dalam hati.

Akan kucoba menjalani pernikahan bodoh ini, aku dapat mengakhirinya dengan alasan yang kubuat. Alasan itu harus segera kutemukan.

Selesai juga Radit's POVnya, jujur sempet bingung gimana nggambarin Radit

But it's oke ya gapapa ya masih abal-abal hehe:p

Terimakasih sudah mau baca, big luv

Saya seneng bgt ada yang mau baca sumpah:")

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang