Part 2-Bercerai?

38.1K 1.4K 19
                                    

Rasya's POV

"Ehm," aku menoleh saat Radit berdeham pelan. Entah apa maksudnya. Aku kembali memandang lurus ke depan. Sudah sejak lima belas menit yang lalu kami keluar dari gedung pernikahan, jalanan yang ada di depan kami sangat padat. Aku hanya diam sejak tadi, entah apa yang harus kukatakan.

"Saya mau kita mengakhiri hubungan ini secepat mungkin," kata Radit pelan tapi pasti.

Kata-kata terpanjang yang pernah kudengar, good. Bagai disambar kilat, aku segera menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.

"Apa maksudnya?" aku berusaha menenangkan degup jantungku yang semakin kencang, please Sya, jangan biarin air matamu keluar!

"Saya mau kita akhiri ini semua, secepat mungkin," jawab Radit dengan menggunakan penekanan pada dua kata terakhir.

Entah apa rasanya hatiku saat ini, campuran antara lelah, marah, sedih, dan kecewa. Terbayang dalam benakku bagaimana Mama dan Papa nanti jika aku bercerai?

"Bahkan belum ada sehari, kata-kata itu sudah keluar," aku menggigit bibir bawahku, kutahan butiran air mataku.

Radit menoleh ke arahku, kulihat matanya penuh dengan sorot ketegangan.

"Saya tahu ujung pernikahan ini bukan kebahagiaan, ini semua harus diakhiri secepat mungkin. Saya yang akan mengurusnya," katanya lagi yang membuat hatiku semakin mencelos.

Satu setengah jam setelah itu hanya diisi oleh keheningan, aku menggerutu dalam hati, jalanan begitu padat sehingga mobil ini lebih banyak berhenti daripada jalan. Mataku sudah terasa sangat berat, aku melirik sekilas ke arah Radit, dia nampak sama lelahnya dengan aku. Ah apa pentingnya.

"Nggak ada jalan lain?" tanyaku pelan.

"Nggak," jawabnya singkat, padat, dan jelas. Sorot matanya menatap ke depan, tak menoleh ke arahku.

"Tidur aja," tambahnya lagi. Aku diam, apa benar barusan aku mendengar kata-kata itu? Ah itu hanya perasaanku saja, Radit-kan membenciku, sudah pasti dia tidak peduli padaku. Melihatnya bersikap sedikit baik padaku, ada rasa senang tersendiri.

Mataku terasa sangat berat, akhirnya aku terlelap.

Radit's POV

"Saya tahu ujung pernikahan ini bukan kebahagiaan, ini semua harus diakhiri secepat mungkin. Saya yang akan mengurusnya," kataku lagi yang membuat raut wajahnya berubah.

Aku meurutuki diriku sendiri, mengapa secepat ini aku melakukannya? Jika Papa mengetahuinya, sudah pasti aku akan dihabisi. Aku menghela nafas, antara lega dan sedih ketika melihat respon Rasya yang tak bisa kutebak. Apa dia senang dengan rencanaku? Bukankah dia juga tak mencintaiku?

Aku sibuk hanyut dalam pikiranku, satu setengah jam sudah aku mengendarai mobil ini. Hanya beberapa kali berjalan, selebihnya lebih banyak berhenti. Menyebalkan.

Kulirik Rasya yang beberapa kali menguap, matanya terlihat berat. Aku menggeleng pelan dalam hati 'jangan bersikap baik setelah menjatuhkan dia tadi'.

"Nggak ada jalan lain?" tanyanya sambil menoleh ke arahku.

Ini jalan satu-satunya bodoh, pakai tanya segala lagi. Aku tahu Rasya hanya berbasa-basi karena bosan dengan suasana hening.

"Nggak," jawabku singkat, Rasya hanya diam dan kembali menguap lagi.

"Tidur aja," kata-kata yang kutahan sejak tadi meluncur juga akhirnya. Rasya hanya diam. Mengapa dia tidak membalas ucapanku? Sudah susah payah aku berusaha mengeluarkannya. Entah apa yang terjadi dalam pikiranku ini.

Beberapa menit kemudian dia sudah tampak terlelap.

Tepat pukul 12 malam kami tiba di rumah. Rumah itu memang hadiah pemberian Papa kepadaku saat aku berhasil menjadi direktur di perusahaan. Rumah itu bertingkat tiga dan memiliki halaman yang sangat luas. Catnya berwarna putih tulang.

"Sya, sudah sampai," kataku keras. Rasya tetap diam terlelap.

"Sya, ini sudah sampai," aku mengulang kata-kataku lebih keras. Rasya segera bangun. Dia merapikan bajunya dan mengambil tas yang ditaruh dekat kakinya.

"Duh maaf Dit," hanya itu yang keluar dari mulutnya. Aku segera turun, di sana sudah berdiri Bi Inah, Pak Maman, dan Pak Budi. Mereka adalah orang-orang yang sudah kukenal sejak kecil. Dahulu mereka bekerja di villa milik Papa, namun beberapa tahun terakhir mereka bekerja di sini.

"Akhirnya sampai juga Pak, kok lama sekali?" tanya Pak Budi.

"Iya Pak jalannya macet parah," jawabku.

"Wah cantik sekali Bu Rasya, baru pertama kali saya lihat," kata Bi Inah sambil tertawa, aku melirik ke arah Rasya, dia hanya tersenyum memamerkan deretan giginya.

"Bu Rasya dokter ya Bu?" tanya Pak Maman, dia adalah tukang kebun di rumah ini.

"Iya benar Pak..." Rasya tampak kebingungan.

"Maman," kataku singkat.

"Iya benar Pak Maman," kata Rasya mengulangi.

Kami masuk ke dalam rumah. Pak Budi membantu menurunkan koper-koper milik Rasya. Rasya-pun ikut mengambilnya dari mobil. Kulihat dia tampak susah payah, namun aku enggan berjalan mendekatinya. Aku sudah beberapa kali berusaha memperhatikan dia, tapi tak kunjung kurasakan rasa seperti untuk Risa. Ada apa dengan hatiku?

Selesai deh part 2 cerita abal-abalnya hehe

Maafkan yaa kalau masih jelek dan kurang greget, masih berusaha supaya lebih bagus lagi

Terimakasih yang sudah baca, saya seneng banget hehe

Peluk cium, xoxo

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang