Part 4-Pagi Pertama

40K 1.3K 11
                                    

Rasya's POV

Sinar matahari dari jendela kamar Radit yang super besar ini membuatku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Oh God, ini pertama kalinya aku bangun sesiang ini. Aku melihat sekeliling dan mengerjapkan mataku.

Kuatlah Sya, pikirkan saja pekerjaanmu, pikirkan pasienmu, tak usah pikirkan laki-laki itu, batinku sambil mengucir rambut.

Hari ini aku harus melakukan praktek di RS Permata Hati pukul satu siang nanti, aku mendapat shift sampai malam.

Aku berjalan keluar, sofa itu sudah kosong, Radit sudah tidak ada di situ.

Aku mempercepat langkahku menuju dapur, kulihat Bi Inah sedang mencuci piring. Aku memutar bola mataku, sudah ada banyak sekali makanan di atas meja. Wow.

"Wah maaf Bu saya nggak lihat Ibu, selamat pagi, saya sudah masak," kata Bi Inah yang melihatku hanya berdiri melihat ke arahnya.

"Selamat pagi Bi, terimakasih banyak. Memangnya setiap hari Bibi masak sebanyak ini?" tanyaku sambil duduk di kursi bar.

"Iya Bu, kebetulan kemarin Mamanya Pak Radit membeli banyak sekali bahan, lalu saya masak saja daripada mubadzir," jawab Bi Inah sambil membersihkan sisa makanan. Sisa makanan siapa itu? Radit? Dimana dia? Huh hentikan Sya.

Hapeku berbunyi, ada panggilan dari Ibu. Bibirku tersenyum tipis.

"Anak Ibu sayang, gimana tadi malem?"

Aku menelan ludah, pertanyaan macam apa ini?

"Nggak usah tanya Bu, kayak Ibu nggak tahu aja huh," balasku kesal.

"Lho, mana Ibu tahu apa yang terjadi sama kamu."

"Ah sudahlah Bu, bikin Rasya nggak mood makan," tambahku kesal.

"Kalian lagi makan bareng?"  tanya Ibu antusias.

"Ibu, jangan goda Rasya terus! Rasya habiskan makan dulu ya," kataku dan segera menekan tombol merah.

Aku menggerutu dalam hati, antara sebal dan rindu pada Ibu. Nangis bombay lagi nih bisa jadi.

Aku melihat ke sekeliling rumah, sungguh besar sekali. Tapi sayang, terlihat hampa karena jarang ditempati.

"Bi, Radit dimana ya?" tanyaku pelan, sebisa mungkin tidak berdengar oleh orang selain aku dan Bi Inah.

"Oh tadi Pak Radit sudah berangkat ke kantor jam enam pagi Bu. Wah maklum pengantin baru jadi belum tahu ya Bu?" Bi Inah terkekeh, aku hanya mengulum senyum. Yaampun Sya, kebodohan kamu tumpahkan dimana-mana.

Bahkan Bi Inah lebih tau radit dibandingkan kamu. Aku menggigit bibir.

Radit's POV

Aku membuka mata tepat pukul lima pagi, badanku masih terasa lelah, tetapi ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di kantor. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam. Oh God, hampir aku lupa kalau aku sudah menikah. Ketika aku berjalan masuk ke dalam kamarku, aku terkejut melihat seseorang tertidur pulas memakai selimut. Dia Rasya, ya, aku masih mengingatnya.

Dengan cepat aku membuka almari dan bergegas mandi. Bisa telat tiba di kantor kalau aku tak bergegas. Aku keluar kamar mandi dan mendapati Rasya masih dengan posisi yang sama. Ah bagaimana bisa dia tidak berubah posisi sama sekali? Bahkan aku sudah menciptakan suara-suara kecil.

Aku berjalan pelan ke arahnya, kutatap wajahnya. Wajahnya putih bersih, bibirnya mungil, matanya indah, dan hidungnya cukup mancung. Aku menatapnya cukup lama, hatiku beredesir pelan. Apa-apaan ini? Tetap kebencian yang akhirnya memenangkan hatiku.

Aku bergegas keluar kamar dan memakan sedikit makanan yang sudah disiapkan Bi Inah.

Aku keluar rumah dan segera kunyalakan mobilku, aku melirik sekilas ke arah garasi dan melihat Honda Jazz Rasya terparkir di sana.

Aku melajukan mobilku tepat pukul 6 pagi, kulupakan segala masalah yang ada dalam hidupku. Aku harus fokus dan fokus, tidak boleh ada urusan keluarga yang mempengaruhi profesionalitasku.

Pagi pertama setelah menikah, sama hambarnya dengan hari sebelumnya. Hanya bonus aku bisa melihat perempuan itu dalam tidurnya, yang kuakui, memang dia sungguh cantik.

Yihaaay selesai juga ini part 4 yang super duper amburegul

Hehehehe

Terimakasih sudah mau baca yaaa. Part ini super dikit ya:(

Besok dibanyakin deh

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang