Part 25-Berubah

7.6K 419 133
                                    

Halo guys! Part ini aku persembahkan buat kalian yang udah setia nunggu super lama pake banget! Maafkan lama menghilang dan baru muncul, bener-bener banyak urusan yang tidak bisa ditinggalkan.

Terimakasih sudah setia menungguku yaa. Semoga suka sama part ini, jujur aku udah lama nggak nulis jadi bingung gimana gitu mohon dimaafkan hehe.

Maaf juga part ini sedikit, semata-mata aku kebut sehari untuk menghilangkan rindu dan rasa penasaran sama Rasya dan Radit.

Selamat membaca, jangan lupa vote dan komen. Suka banget bacain komen sumpah! xoxo

***

Radit bergegas turun dari pesawat ketika sudah benar-benar berhenti, ini tepat tiga jam sesudah percakapannya dengan Rasya di telepon tadi. Tangan Radit sibuk mencari telepon genggamnya sambil tak henti-hentinya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Degup jantung Radit sedari tadi benar-benar tak dapat dia kendalikan dengan baik.

"Halo, Ma, iya, ini baru landing," jawab Radit ketika Mama bertanya pada kalimat pertamanya.

"Nggak usah ke rumah lagi, langsung rumah sakit aja Dit," balas Mama membuat Radit tanpa sadar mempercepat langkahnya.

"Gimana kondisi Rasya, Ma?"

"Ini Rasya udah mau masuk ruang bersalin. Bisa lebih cepet nggak sampe sininya?"

Radit mengedarkan pandangannya mencari Zafran, asisten pribadinya.

"Iya ini Radit langsung ke sana. Maaf Ma," ucap Radit sambil masuk ke dalam mobil.

Radit berkali-kali menghembuskan nafas ketika melihat jalanan Jakarta pagi ini kembali tidak bersahabat dengannya. Radit sesekali memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, seminggu ini benar-benar dia tak dapat berisitirahat dengan baik karena begitu banyaknya pekerjaan, seperti semalam ia baru memejamkan mata pukul dua dini hari, tidak bisa benar-benar terlelap dan akhirnya memutuskan memeriksa ponselnya.

Pesan whatsapp yang dikirimkan Rasya tak berselang lama dari panggilan masuk Mama, membuat pagi ini adalah pagi paling mendebarkan sepanjang hidupnya.

Radit akhirnya mendapat tiket pesawat dan tiba di Jakarta, dia tidak terlambat sampai Jakarta, semoga juga tak terlambat tiba di rumah sakit.

"Zaf, saya turun sini aja, saya lanjutin pake ojek," kata Radit setelah menghitung sudah hampir lima menit mobilnya tak bergerak. "Nggak cukup waktunya."

"Bapak yakin? Ini masih agak jauh Pak," balas Zafran pelan. Radit mengangguk. Dia sudah membuka pintu mobil dan berjalan cepat menuju trotoar.

Lima menit selanjutnya Radit sudah melesat menembus kemacetan Jakarta. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengucapkan berkali-kali doa dan memerintahkan jantungnya untuk kembali berdetak normal.

Keringat sudah bercucuran dan rambutnya mencuat ke sana kemari ketika Radit akhirnya tiba. Ia kemudian setengah berlari menuju ke ruang bersalin dan mendapati Lia dan ah ya, sejujurnya Radit amat tak menyukai nama ini tersebut-Rival sedang duduk di kursi tunggu.

Ketika tepat tiba di hadapan mereka, nafas Radit masih terengah-engah.

"Yaampun Dit, tenang, please jangan masuk dengan wajah panik, itu bikin Rasya ikut panik. Calm down, oke? Ini tepat waktu kok," ujar Lia sambil menepuk bahu Radit.

"Sori sori Li," balas Radit sambil mengatur nafasnya.

"Oke, coba tarik nafas terus diatur. Lo harus lebih tenang daripada Rasya, ya?" pinta Lia pelan. Radit membalasnya dengan mengangguk.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang