Part 21-Kabar Bahagia

53.4K 1.2K 66
                                    

Hai hai! Akhirnya bisa selesai juga nulis part ini.

Maaf lama nggak update dan baru bisa sekarang, maaf juga sudah malem banget! Hehe

Terimakasih yang sudah vote dan selalu memberi semangat!!

This is for you yeay! Happy reading!❤

***

Rasya's POV

"Bentar dulu Sya, aku masih ngantuk banget, lima menit deh, inikan juga libur," balas Radit untuk kesekian kalinya ketika aku membangunkan dia pagi ini.

"Kamu tuh ya Dit, istrinya kangen malah enggak bangun-bangun dari tadi, yaudah kalo gitu," aku beranjak dari kasur sambil mengerucutkan bibir, tetapi kemudian Radit menarik tanganku.

"Iya Sayangku, iya nih bangun nih," katanya sambil membuka mata dengan paksa, kemudian memelototkannya. Aku terkekeh.

"Duh kasian banget sih kamu Dit, yaudah tidur lagi aja gapapa deh," ucapku sambil mengusap pipi Radit yang masih menatapku.

"Kamu cantiknya kelewatan banget sih! Langsung bikin mataku melek gini," Radit mulai berulah yang kubalas dengan kepalan tangan.

"Mulai deh, gak suka ah, basi gombalan kamu itu-itu aja tau nggak," jawabku dan dibalas Radit dengan tertawa.

"Yaudah aku nggak bilang gitu lagi deh. Oiya Sya, lusa aku ada agenda ke Jogja lagi sekitar tiga sampai empat hari," kata Radit tiba-tiba yang langsung membuat suasana hatiku berubah.

"Lama banget tiga hari, nggak bisa sehari aja terus malemnya kamu pulang?" balasku dan membuat Radit terkekeh sambil geleng-geleng.

"Hmmm, bukan Rasya nih kalo kayak gini. Halo, mana Rasyanya ya?" pertanyaan Radit tak butuh jawaban.

"Sini deh aku peluk yang banyak biar kalo aku pergi nggak kangen," tambah Radit sambil menarik tubuhku dalam pelukannya.

Aku mengeratkan pelukanku pada Radit. Entah apa yang terjadi padaku, rasanya sungguh tak ingin berjauhan dari Radit. Sudah seminggu ini aku sering sekali merasa sedih, ingin menangis, dan sensitif pada hal-hal kecil.

Aku semakin meyakini ada yang berubah dari diriku ketika air mataku keluar, perlahan tapi pasti.

"Lho Sya, kok nangis? Aku masih di sini Sayang, belum pergi aja udah ditangisin," kata Radit sambil mengusap punggungku kemudian mengecup puncak kepalaku.

"Maafin aku ya Sya," katanya lagi sambil mengencangkan pelukannya dan tetap mengusap punggungku.

"Aku sebel sekarang aku jadi cengeng banget. Padahal aku dulu nggak papa kamu tinggal seminggu, dua minggu, sebulan juga nggak papa," isakku sambil mengusap muka.

"Iyalah! Itu karena sekarang kamu udah cinta mati sama aku, sini cium dulu! Nggak usah cengeng deh pagi-pagi!" kata Radit sambil menempelkan kedua tangannya pada pipiku, kemudian mengecup bibirku.

Seperti biasa, keahlian Radit adalah menghisap bibirku, menggigit leherku, kemudian membuatku secara tak sadar akan melingkarkan tanganku pada lehernya.

Itulah yang terjadi saat ini.

"Udah Radit. Kalo diterusin kamu bisa melakukan hal-hal terlarang nanti," kataku sambil menarik tubuhku.

Radit terkekeh.

"Terlarang gimana coba Sya?"

"Terlarang dilakukan pagi hari, dianjurkan dilakukan malam hari maksudnya," jawabku sambil menjulurkan lidah.

"Bisa ngelucu sekarang ya? Belajar dari siapa sih?"

"Siapa yang ngelucu? Udah ah bubar! Aku mau mandi dulu," kataku sambil bergegas mengambil baju dan handuk.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang