Part 14-Kecelakaan

41.1K 1.4K 30
                                    

Rasya's POV

Kepalaku terasa masih sedikit berdenyut, kerongkonganku terasa pahit, dan mataku sungguh terasa berat untuk dibuka. Ah, sudah pasti aku demam. Aku memaksa mataku untuk terbuka. Woa! Aku sungguh terkejut ketika mendapati Radit masih terlelap di sampingku sambil melingkarkan tangannya pada pinggangku. Hah? Apa yang terjadi? Kenapa bisa dia tidur sambil memelukku?

Dasar Rasya bodoh! Tadi malam kamu itu sakit lalu Radit yang merawatmu semalaman sampai akhirnya dia harus bangun kesiangan begini. Tunggu, apa saja yang dia lakukan tadi malam? Aku memutar bola mata, berusaha mengingat kejadian tadi malam, lalu menghela nafas lega. Ya, aku hanya berciuman dengan Radit. Ciuman yang sungguh nikmat dan ingin kulakukan setiap hari! Aku tertawa dalam hati setelah menyadari hal itu.

"Dit, bangun, udah jam tujuh," ujarku pelan sambil mengusap lengannya.

Laki-laki di depanku pasti sangat kelelahan, sebab tadi malam aku memaksanya harus bangun. Malam tadi, aku merasakan dingin luar biasa, sedangkan suhu tubuhku sangat tinggi. Radit menawarkan pelukan, kesempatan langka bukan? Kujawab saja dengan mengangguk, dan memang benar, pelukannya sungguh menenangkan hatiku. Ah senangnya!

"Diit...nanti telat," kataku pelan, kembali kulakukan sambil mengusap lengannya. Tapi tetap saja, Radit hanya diam. Tangannya tetap melingkar pada pinggangku, sungguh nyaman rasanya.

"Radiit, kok nggak bangun-bangun? Jadi sebel nih kalo kamu lama bangunnya," aku menaikkan suaraku, membuat Radit menggeliat, namun tetap dalam posisinya.

"Keras banget sih Sya suaramu. Kayak tadi malem dong, lemah lembut," jawabnya masih dengan mata terpejam, kemudian menarik tangannya dari pinggangku, aku sesungguhnya kecewa.

"Saya udah mulai bangunin dari lemah lembut Dit!" kataku lagi, Radit kemudian membuka matanya dan melirik ke arahku.

"Hmm, kamu masih sakit nggak?" tanya Radit pelan sambil mengusap matanya. Dia kemudian menaikkan tangannya menuju dahiku, namun dengan cepat aku menahannya.

"Udah nggak panas kok. Saya harus masuk hari ini," jawabku lalu segera beranjak dari tempat tidur. Berlama-lama dengan Radit membuat jantungku berdegup dengan tidak normal, ini sungguh berbahaya jika terus-terusan ada di dekatnya.

"Kalo masih sakit jangan masuk dulu Sya!" kata Radit sambil menarik tanganku. "Nih tanganmu masih panas, dahimu juga. Tahu batasan diri dong Sya, jangan maksain kalo emang nggak bisa," tambahnya membuatku terdiam. Hatiku sungguh senang mendengar kata-kata Radit barusan. Kenapa bisa dia begitu mempedulikan aku? Aku tersenyum sesudah itu.

"Iya iya Pak Dokter, santai dong, jangan marah-marah," kataku sambil menahan senyumku. Radit melepas genggaman tangannya kemudian memelototiku.

"Anggap aja saya nggak pernah ngomong gitu ya Sya! Huh sebel lihat mukamu," Radit mengakhiri kalimatnya dengan cemberut, kemudian bergegas menuju ke kamar mandi. Aku tertawa melihat tingkahnya. Mengapa dia senang menirukan kata-kata yang pernah kuucapkan padanya hah?

***

Hari itu aku menghabiskan waktu seharian penuh di rumah, sesekali kepalaku terasa berdenyut, jika sudah seperti itu aku memutuskan untuk berbaring dan memejamkan mata.

"Bu, gimana sekarang? Udah lebih enak?" tanya Bi Inah kesekian kalinya, aku sungguh tak enak hati melihatnya begitu khawatir.

"Iya Bi sudah kok, Bibi nggak usah khawatir gitu, saya demam biasa ini," jawabku sambil tersenyum.

"Kalau ada yang dibutuhkan langsung panggil saya ya Bu," kata Bi Inah, aku membalasnya dengan mengangguk sambil tersenyum.

Tiba-tiba ponselku berdering, kulihat nama Rival di sana.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang