Part 16-Malam Pertama yang Tertunda

84.2K 1.5K 56
                                    


PENTING: Pada bagian akhir terdapat adegan berbahaya untuk yang berusia kurang dari 18 tahun ya! Skip aja deh pokoknya:p #maksabgt

Rasya's POV

"Yaampun Mama bersyukur banget kalian mau pake honeymoon segala," ujar Mama ketika aku dan Radit mengatakan hendak pergi minggu depan.

"Bukan honeymoon Ma, cuma jalan-jalan aja kok," bantah Radit.

Saat ini kami sedang duduk di meja makan, beberapa jam yang lalu aku dan Radit tiba di rumah Mama dan Papa.

"Whatever you call it Dit, Mama tetep seneng. Mama bisa dong minta cucu?" tanya Mama yang membuatku tersedak, aku sedang meneguk teh saat ini.

Kuusap mulutku dengan cepat sambil mengelus dada pelan. Sebenarnya tak semengagetkan itu sih, hanya saja, aku terlalu takut melihat tatapan Mama penuh selidik.

Radit menoleh ke arahku kemudian mengusap punggungku pelan. Dia menatapku seolah-olah bertanya "are you okay?", aku membalasnya dengan mengangguk pelan. Aku tak tahu mengapa bisa bercakap dengan Radit tanpa suara begini.

"Mama berharap tersedak artinya setuju ya Sya. Kalian harus tingkatin usaha dong supaya cepet kasih Mama cucu!" kata Mama membuat aku ingin berteriak keras.

Sekalipun aku bahkan belum pernah melakukannya, Ya Tuhan!

Radit yang kuharapkan segera mengatakan sesuatu malah diam di tempatnya, dia nampak bingung harus menjawab apa. Kalimat Mama bagaikan sebuah harapan besar, akan menyakitkan bukan jika beliau mengetahui yang sebenarnya?

"Kok diem? Jangan bilang kalian belum pernah melakukannya ya!" kata Mama terdengar seperti sebuah bentakan.

Aku menggigit bibirku, mungkin diam adalah sikap yang tepat. Diam dan tenanglah Sya!

Duh Radit, mana jawabanmu? Kenapa dia malah ikut diam? Biasanya dia mampu menjawab semua pertanyaan Mama dengan mudah dan cerdas. Keheningan memenuhi ruang makan yang cukup besar ini untuk beberapa saat.

"Sekarang Mama tanya sama kamu Sya, dari akad sampai saat ini, kalian sudah pernahkan? Sekali aja Mama pengen denger," tanya Mama sambil memandangku tepat di mata.

Oh matilah aku, harus seperti apa kubalas pertanyaan Mama?

Berfikir Sya, berfikir! Sedetik, dua detik. Ah sayang, otakku rasanya sedang malas bekerja.

Akhirnya, aku menggeleng pelan. Radit malah tertawa di sampingku. Bagaimana bisa dia malah tertawa saat situasi kami sedang sulit? Huh.

"Yaampun Ma, Mama mau berapa cucu sih? Tiga? Empat? Lima?" tanya Radit di tengah tawanya sambil menatap Mama.

"Mama sabar sedikit dong, nanti kami kasih yang banyak," tambahnya membuat deru nafasku makin tak karuan.

Hah? Tiga? Empat? Ingin aku menyumpahi Radit dalam hati. Aku masih terkejut mendengar jawabannya, namun akhirnya ikut tertawa saat Mama memukul kepala Radit pelan.

"Nggak usah mikir jauh-jauh deh Dit, lakuin dulu yang bener. Sekali aja belum pernah, gimana mau punya tiga, empat, apalagi lima. Ngayal aja deh kamu," kata Mama sambil menggeleng-geleng pelan.

Aku tak kuat menahan tawaku sejak tadi. Mulutku ini memang terkadang sulit kukendalikan sendiri. Jadilah aku tertawa terbahak sesudah itu.

"Kok malah ketawa sih? Awas ya nanti malem saya bom kamu Sya!" kata Radit sepelan mungkin ke arahku. Dia nyaris seperti berbisik.

"Ya habis kamu ada-ada aja sih Dit, jawabannya yang bagusan dikit kenapa sih," balasku sambil berusaha mengendalikan tawaku. "Dan lagi, nggak usah pake ngancem gitu," tambahku sambil mengerucutkan bibir.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang