Part 6-Dinner

32.5K 1.3K 19
                                    

Rasya's POV

Melihat mobil Radit datang aku sungguh senang, aku menghela nafas dan berlari kecil ke arahnya. Hanya dia yang mampu menolongku sekarang. Bersabarlah Sya, semoga dia mau membantumu.

"Dit, tolong," kataku lirih, hanya itu yang bisa kuucapkan.

Radit mendekati Bapak yang menjadi korban tabrakku. Entah bagaimana aku bisa menabraknya, aku sungguh bersyukur lukanya tidak terlalu parah. Hal yang paling kutakutkan adalah ketika banyak preman yang menghampiriku. Untungnya Bapak ini sungguh baik.

Radit mengambil ponselnya dan menyuruh Pak Maman mengambil mobilku, sesuatu yang tidak kuduga. Bisa ya ternyata Radit bersikap baik padaku.

"Saya masih bisa Dit pulang sendiri," kataku pelan. Aku sungguh kasihan melihat muka Radit yang sudah kelelahan.

"Bisa nabrak orang maksudnya?" balasnya dengan nada mengejek. Aku terdiam, tarik nafas, hembuskan. Marilah bersabar Sya.

"Saya lapar nih, kamu lapar nggak?" tanyanya lagi yang membuat aku mendongak menatapnya. Jebakan batman, batinku. Bodohnya, aku merespon dengan mengangguk.

"Di sana ya," katanya sambil menunjuk warung pecel lele. Ah tak apalah sekali-kali makan makanan non higienis, batinku dalam hati.

"Pak kami makan dulu ya, nanti baru pulang. Makasih banyak," kata Radit pelan ketika Pak Maman sudah tiba.

"Siap Pak Bos, nanti saya diceritakan ya kejadiannya," balas Pak Maman yang membuatku sebal dan membuat Radit ketawa.

"Ini tanya sama dia ya Pak," ujar Radit yang membuatku mengerucutkan bibirku. Good Sya, untuk apa kamu melakukannya? Radit dan Pak Maman hanya semakin tertawa keras.

"Ayo Sya," kata Radit ketika Pak Maman berlalu membawa mobilku, beliau menaiki Gojek dari rumah kami.

Aku berjalan pelan mengikuti Radit, dia melihat ke arahku beberapa lama. Aku balas menatapnya. Deg! Aku menelan ludah. Jebakan batman lagi Sya, ayo dong sedikit lebih cerdas.

"Nggak papa di sini?" tanya Radit pelan. Oh jadi dia mengkhawatirkan ini.

"Iya nggak papa," jawabku singkat. Perutku sudah berbunyi tak karuan, badanku sudah lelah.

"Cardigannya nggak dilepas?" tanya Radit pelan.

Pintar sekali laki-laki ini mengambil hatiku dengan perhatian-perhatian kecilnya. Tetaplah berfikir jernih Sya, batinku.

"Dingin nanti Dit," jawabku pelan, aku merutuki mulutku, mengapa justru balasan itu yang keluar. "Tapi nggak usah pinjemin jasmu, sayaa...sayaa," lanjutku membuat aku ingin hilang saja rasanya saat itu.

Radit membalasnya dengan tertawa, "Saya nggak kayak cowok ftv Sya," katanya lagi.

Dasar Rasya bodoh! Duh kurasakan mukaku memanas, kebodohan kesekian kalinya telah kulakukan. Mau dibawa kemana mukaku?

"Praktek dimana Sya?" tanya Radit memecah keheningan. Makanan kami tak kunjung datang sejak tadi, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Di RS Permata Hati," jawabku singkat.

"Kantormu?" tanyaku berhati-hati, takut salah langkah.

"Di daerah bundaran HI, makanya harus berangkat jam enam pagi, bisa telat kalau kesiangan," lanjutnya.

Hah? Apa yang barusan dia katakan padaku? Apa maksud dan tujuannya? Untung saja saat itu pesanan kami datang. Aku buru-buru mencuci tanganku, tetapi Radit langsung memakannya begitu saja.

"Eh Dit, pake ini dulu," kataku spontan menyodorkan hand sanitizer ke arahnya.

Dia membuka kedua tangannya, lalu kutekan dan cairan itu menetes di tangannya. Dia tertawa kecil. Apa lucunya?

"Baru kali ini saya makan pakai gini segala," ujarnya membuatku ber"o" ria. Terlihat bodoh mungkin.

Radit's POV

"Cardigannya nggak dilepas?" tanyaku pelan pada Rasya.

"Dingin nanti Dit," jawabnya, dia tampak terkejut dengan jawabannya sendiri. Aku tersenyum kecil. "Tapi nggak usah pinjemin jasmu, sayaa...sayaa," tambahnya lagi, membuatku tak bisa menahan tawa.

Ah bagaimana bisa perempuan di depanku telah membuatku tertawa beberapa kali hari ini. Sungguh aku senang melihatnya.

"Saya nggak kayak cowok ftv Sya," balasku membuat muka Rasya memerah. Melihatnya aku jadi ingin kembali menggodanya. Ah Dit hentikan!

Beberapa detik yang lalu baru saja aku menceritakan sesuatu yang tidak penting pada Rasya, untuk apa Dit untuk apa. Aku menggerutu dalam hati. Makanan kami datang sesaat kemudian.

"Eh pake ini dulu," kata Rasya spontan, kemudian aku membuka tanganku dan dia meneteskan cairan antiseptik itu. Aku tertawa bodoh karenanya.

"Baru kali ini saya makan pakai gini segala," kataku dan dibalas Rasya hanya dengan "oo", aku cukup kecewa dengan ini sesungguhnya.

Malam ini sungguh indah rasanya bagiku, sedikit demi sedikit entah mengapa aku mulai bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Setidaknya, dia mampu menjadi lelucon konyol yang membuatku tertawa. Tertawa itu menyehatkan bukan?

Aku bergegas membayar makanan kami dan kembali ke meja. Kulihat Rasya sedang menghabiskan minumnya.

"Dit, saya lupa kalo saya nggak boleh banyak makan terong karena alergi. Tapi barusan sudah habis," katanya yang membuat aku tertawa kencang sambil memegang perutku.

Perempuan macam apa ini ha? Sungguh bodoh, oh tunggu, tidak mungkin seorang dokter bodoh, atau mungkin dia sedang, melucu? Aku tetap tertawa apapun alasannya.

"Ya sudah, semoga nggak muncul alergi. Kamukan dokter Sya, masa bisa sih," lanjutku masih keheranan.

"Dokter juga bisa lupa Dit," katanya cemberut kemudian segera memakai tasnya dan berjalan keluar dari warung pecel lele. Apa dia marah? Ah mana peduliku. Aku bergegas mengikutinya.

"Sya, kok cepet banget jalannya," kataku setengah berlari mengikuti dia menyebrang jalan. Rasya hanya menoleh sekilas lalu tertawa kecil.

"Kamu yang lama Dit," balasnya lalu masuk ke dalam mobil. Aku buru-buru masuk ke dalam mobil, kemudian memakai sabuk pengaman.

"Makasih banyak ya Dit," kata Rasya lirih. Aku menoleh ke arahnya sambil mengangguk.

"Makasih juga ya," balasku membuat Rasya tersenyum.

Oh God, perasaan senang itu kembali muncul dalam hatiku. Baru kusadari, aku sungguh menyukai senyuman Rasya, sangat menenangkan, walau aku baru melihatnya beberapa kali.

Sesampainya di rumah, kami sudah disambut Bi Inah, Pak Maman, dan Pak Budi.

"Aduh Bu, saya khawatir sekali. Ibu nggak papakan?" tanya Bi Inah menghampiri Rasya.

"Saya nggak papa Bi, orang yang ketabrak juga nggak papa," jawab Rasya membuatku tertawa keras.

"Dit apa sih," sahut Rasya disambut gelak tawa Pak Budi dan Pak Maman.

"Ibu nabrak siapa Bu? Jangan-jangan tetangga Saya, rumah saya dekat sana Bu," tanya Pak Budi disambut tawaku.

"Ah nggak tahu Pak, saya nggak sempat kenalan," balas Rasya cemberut kemudian bergegas masuk, aku masih tertawa terbahak-bahak.

Bi Inah mengikuti Rasya dari belakang. Aku kemudian bergegas masuk.

Kulihat Rasya masuk ke dalam kamar utama, aku mengikutinya. Dia tampak memegangi tangan dan mukanya. Kulihat dia membuka koper kecilnya dan mengeluarkan salep.

"Kenapa?" tanyaku mendekat. Rasya menoleh, tatapannya membuatku tertegun.

Abal-abal dan amburegul, begitulah yang cocok menggambarkan tulisan saya

Saya menerima kritiik dan saran banget loh ehehehe

Terimakasih!

#kayakadayangbacaaja

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang