Part 8-Risa

35.7K 1.2K 13
                                    

Rasya's POV

Aku masih duduk sambil meniup-niup bagian tubuhku yang masih terasa panas. Warna merahnya sudah mulai berkurang. Ah salep ini sungguh manjur, batinku. Sudah hampir setengah jam di kamar mandi, Radit tak kunjung keluar. Apa yang dia lakukan? Ah, untuk apa aku memikirkannya sedalam itu.

"Ibu, gimana bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Inah dengan muka khawatir.

"Udah nggak papa kok ini Bi, makasih ya Bi," balasku sambil tersenyum.

"Aduh Bu, kok bisa merah seperti itu? Ibu alergi apa?" tanya Bi Inah.

"Saya alergi terong Bi, tapi nggak papa, sudah ada salepnya kok," balasku sambil tersenyum, berusaha mengurangi kekhawatiran Bi Inah.

"Saya buatkan teh ya Bu, permisi sebentar," kata Bi Inah kemudian bergegas pergi.

Radit keluar dari kamar mandi, dia hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Dia tidak memakai kaos atau sejenisnya! Aku buru-buru mengalihkan pandangan, lalu menelan ludah.

"Masih sakit Sya?" tanya Radit mendekat ke arahku.

"Dit pakai baju dulu," balasku sambil tetap tak memandangnya.

Radit hanya tertawa, kemudian dia bergegas mengambil kaos di almarinya. Kemudian dia kembali duduk di depanku.

"Masih sakit?" tanyanya dengan pertanyaan yang sama.

"Udah berkurang, sebentar lagi mungkin merahnya hilang," jawabku pelan sambil terus meniup-niup tanganku.

Bi Inah mengetuk pintu, kemudian masuk dan menaruh dua teh panas di meja samping tempat tidur super besar ini.

"Makasih ya Bi," kataku pelan, dibalas Bi Inah yang mengangguk lalu bergegas keluar kamar.

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel, aku melihat ke arah ponselku, bunyi itu bukan berasal dari sana. Kemudian kulihat Radit beranjak dari tempat tidur dan mengambil ponselnya.

Entah siapa yang menelponnya semalam ini.

"Ada apa?" tanyanya pelan kemudian berjalan keluar kamar.

Setelah itu aku tak mendengar lagi percakapan Radit. Pikiranku mulai berjalan ke sana kemari. Sambil terus meniup bagian tanganku yang tak kunjung memudar warna merahnya, aku terus menatap ke arah pintu.

"Saya pergi dulu," kata Radit sambil setengah berlari. Kemudian mengambil jaketnya.

"Ke mana?" tanyaku pelan.

"Apa setiap Saya pergi harus bilang kamu Sya?" balas Radit melihat sekilas ke arahku.

Pertanyaan itu sungguh tidak membutuhkan jawabanku. Ingin aku berteriak. Cepat sekali dia berubah. Beberapa jam yang lalu baru saja dia bersikap sangat baik.

Jangan terjebak Sya, ingat, dia penuh tipu muslihat. Cukup kali ini saja kamu terjebak.

Aku belum membalasnya namun dia sudah berlari keluar kamar. Beberapa saat kemudian kudengar suara mobil itu keluar dari gerbang.

Aku masih terdiam. Aku sibuk terhanyut dalam pikiranku, apa Radit adalah seorang bipolar? Ah tapi sungguh mengerikan jika dia memiliki kepribadian ganda.

Malam itu aku memutuskan untuk segera tidur, besok pagi aku mendapat jatah shift pukul enam pagi. Ah lelahnya, batinku sebelum akhirnya terlelap.

Radit's POV

Ponselku berdering, aku bergegas menuju meja nakas. Kulihat nama Syila di layar, aku terdiam sesaat berusaha mengingatnya. Ah ya! Syila adalah sahabat Risa, aku ingat pernah bertemu dengannya beberapa kali saat mengunjungi rumah Risa.

"Ada apa?" tanyaku pelan, kemudian bergegas keluar kamar.

"Risa kecelakaan mobil Dit, sekarang ada di Permata Hati. Kakinya patah dan beberapa bagian harus dijahit, masih ada di UGD," jawab Syila membuat aku sungguh terkejut.

"Oh shit, gimana bisa? Oke Syil gue segera ke sana," kataku kemudian mematikan sambungan.

Dalam kepalaku terus terbayang wajah Risa, bagaimana bisa dia mengalami kejadian ini? Seingatku, tadi pukul delapan aku masih menerima teleponnya.

"Saya pergi dulu," kataku lalu setengah berlari mengambil jaket yang tergantung.

Aku melihat Rasya masih sibuk meniup tangannya.

"Ke mana?" tanya Rasya pelan sambil melihat ke arahku. 

"Apa setiap Saya pergi harus bilang kamu Sya?" balasku yang membuat Rasya terdiam.

Aku tau kata-kataku ini terlampau pedas, entah mengapa itu meluncur deras dari mulutku tak terkendali.

Aku menghela nafas kemudian berlari keluar kamar, saat ini Risa terasa amat penting bagiku. 

Satu jam setelah itu aku tiba di rumah sakit, RS Permata Hati. Aku segera berlari menuju UGD dan kudapati Syila berdiri di luar.

"Syil, gimana kejadiannya?" tanyaku sambil mengatur nafas.

"Gue juga nggak tahu, sepertinya kecelakaan tunggal Dit," jawab Syila.

"Gue masuk dulu ya," kataku pelan. Syila mengekor di belakangku.

Kulihat Risa berbaring di salah satu banker, di tangan sebelah kirinya terpasang infus. Dia tersenyum melihat aku datang. Sungguh aku tak tega melihatnya.

"Dit aku kangen," katanya berusaha bangun, tapi aku mengisyaratkan padanya untuk tetap berbaring.

"Kamu bikin aku khawatir, jangan nyetir sendiri kalau sudah malam," balasku sambil menyentuh tangannya. Hati dan otakku kali ini sungguh berperang.

"Jangan pulang ya Dit malam ini, kumohon kali ini aja," isaknya pelan.

Aku memandangnya, mataku terasa memanas. Sungguh menyedihkan hubunganku dan Risa harus berakhir dengan cara seperti ini. Aku sungguh ingin menikahinya sejak awal kami berpacaran, namun dia selalu menolak tiap kali kuajak berbicara perihal menikah. Alasan ingin fokus pada karir yang sudah susah payah dia bangun menjadi senjata utama Risa.

"Iya, aku akan di sini malam ini," kataku sambil mengusap punggung tangannya.

Aku bersyukur Risa masih bisa tersenyum, dia terus memegangi tanganku saat beberapa perawat membawanya ke ruang rawat inap.

"Ris, kamu nggak mau ngelepas ini?" tanyaku menunjuk tangan Risa dan disambut dengan tawa kecil.

Beberapa saat yang lalu Syila pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya, sehingga hanya ada aku dan Risa di kamar ini.

"Iya aku lepas. Dit, gimana malam pertamamu kemarin?" balasnya membuatku terdiam sesaat.

"Pertanyaan macam apa hah," jawabku sambil tertawa.

Kulihat dia juga tertawa setalah itu. Semalaman aku dan Risa mengobrol hangat, malam itu sungguh menyenangkan rasanya. Entah karena makan berdua dengan Rasya atau ada di sini dengan Risa. Ah tiba-tiba aku mengingat Rasya, apa yang sedang dia lakukan? Apakah mengkhawatirkanku? Bagaimana alerginya? Sudah tidak sakit?

Kulihat Risa sudah terlelap, aku kemudian berjalan menuju sofa di dekatnya dan ikut memejamkan mata.

Terimakasih sudah baca, semoga suka ya^^

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang