Part 24-LDR

45.4K 1.2K 457
                                    


Halo readers ku tersayang! Maafin aku terpaksa memperbaiki part sebelumnya, karena aku baca ulang dan kurang sreg rasanya:')

Part ini hadir untuk mengobati kerinduan kalian semua sama Radit dan Rasya! Maaf lama nggak muncul dan nggak balesin komen-komen hiks. Semoga sukaa yaa hehe:)

***

"Tanpa mengurangi kenikmatan kamu lagi makan, aku mau bilang sesuatu Sya," ujar Radit sambil menatap lekat perempuan yang tengah sibuk mengaduk semangkuk mie ramen di depannya.

"Perasaanku nggak enak nih Dit, kenapa?" balas Rasya sambil mendongak dan menghentikan aktivitasnya.

"Mmm, tapi kamu janji jangan bereaksi apapun sampai aku selesai cerita ya?" Radit tampak ragu memulai kalimatnya. Tangannya sibuk mengetuk meja beberapa kali.

Suasana ramai di sekeliling mereka tak membuat jantung Radit terkendali dengan baik, dia benar-benar mengkhawatirkan reaksi Rasya ketika berita ini sampai di telinganya.

"Iya, paling aku cuma marah kalau kamu aneh-aneh."

"Itu juga enggak boleh Rasya," Radit merespon cepat, membuat Rasya bergumam pelan.

Kenapa sih suaminya itu? Nggak biasanya mau cerita pakai awalan seperti ini.

"Iyaa Radit, apa?"

"Kepala perusahaan yang di Jogja lagi kena musibah Sya dan beliau terpaksa minta cuti sekitar 4-5 bulan karena masalah itu. Aku juga kurang paham beliau kenapa. Tapi yang jelas, semua surat permohonan cutinya udah masuk ke kantor Jakarta. Kamu pasti tahu cari orang kepercayaan itu susah banget, dan sekarang perusahaan Jogja lagi berkembang pesat..." belum selesai Radit bercerita, Rasya sudah menaikkan alisnya.

"Kamu minta kita pindah Jogja?" skakmat.

Pertanyaan Rasya tepat sesuai dugaan Radit sebelumnya, hanya saja ini terlalu cepat. Istrinya itu memang pandai memahami ke mana arah pembicaraan setiap yang Radit ucapkan, sedari dulu.

Dengan berat hati, Radit menganggukkan kepala.

"Sekitar 5-6 bulan," jawabnya sepelan mungkin, harap-harap cemas dengan reaksi yang akan diberikan Rasya.

"Itu lama banget Radit," Rasya menghela nafas panjang, sudah tak berkeinginan menghabiskan separuh sisa mie ramen di mangkuknya.

"Aku minta maaf. But, I have no choice," balas Radit sambil menggigit bibir.

"Kamu nggak bisa kasih ke wakilnya? Atau ke orang lain yang ada di Jogja juga? Kenapa harus kamu?" tak bisa ditutupi, antara bingung bercampur sedih dan khawatir, Rasya bertanya sambil menatap lekat Radit.

"Enggak bisa, Sayang. Nggak ada wakilnya Sya, tiap kota cuma ada satu kepala cabang. Dan susah banget cari orang buat gantiin. Pak Ghufron yang cuti itu udah kerja hampir delapan tahun lebih, dan dengan waktu semepet ini, aku nggak yakin bisa dapet yang sebaik dia."

"Tapi minimal kamu bisa cari yang mirip dia dan bisa gantiin dulu sementara waktukan?" Rasya bertanya gusar.

"Aku udah coba, tapi tetep enggak dapat Sayang," jawab Radit.

"Yaudah kalo gitu."

"Yaudah apa? Kamu bersedia kita pindah Jogja?" tanya Radit hati-hati, pasalnya Rasya di depannya nampak sedang berfikir.

10 detik, 15 detik, 30 detik, 1 menit, Rasya menggeleng.

"Aku nggak bisa Radit," ucap Rasya lirih sambil menggeleng. "Aku nggak bisa ninggalin rumah sakit, ninggalin pasien-pasienku, dan juga ninggalin Jakarta. Aku tau cuma 6 bulan, but I can't," lanjutnya masih sama pelannya.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang