Part 5-Rival

35.9K 1.4K 20
                                    

Rasya's POV

Aku melajukan mobilku tepat setelah selesai sholat Dzuhur, bisa telat absen jika aku tidak cepat. Pikiranku sudah melayang kemana-mana, tidak hanya pasien yang banyak, tetapi juga pendidikan spesialis yang akan kulanjutkan. Aku hendak mengambil spesialis bedah. Beberapa bulan lagi adalah tes masuknya dan aku sama sekali belum mempersiapkannya.

"Duh macet gila banget nih," kataku bicara sendiri, kebiasaan yang kulakukan ketika jalanan Jakarta kambuh.

Pagi ini terasa sama seperti biasanya, hanya bedanya aku sudah menikah. Aku bukan lajang lagi, tapi selebihnya, semua seperti biasa.

"Kamu ini ya, selalu terlambat," kata Rival saat melihatku terburu-buru memasuki ruanganku di rumah sakit.

"Duh Val andai kamu tahu gimana macetnya Jakarta dan jauhnya rumahku," balasku sambil mengenakan jas putih kesayanganku.

Dia dalah Rival, seniorku di rumah sakit. Dia adalah kakak kelasku dahulu ketika kami bersekolah di FK. Tubuhnya tinggi tegap, rambutnya dibiarkan sedikit acak-acakan, memakai kacamata, dan he is the most handsome doctor in here! Believe me!

"Gimana malem pertamanya Bu Dokter?" tanya Lia yang disambut tatapan antusias Rival dan beberapa teman yang lain.

"Gila lo menusuk dari belakang," jawabku cemberut, kemudian bergegas melakukan visit pasien dan meninggalkan ruangan itu.

"Yee guekan cuma tanya kalik Sya!" teriak Lia disambut gelak tawa Rival dan lainnya.

Aku telah selesai melakukan visit pasien, kemudian bergegas memasuki ruanganku. Jam telah menunjukkan pukul tiga sore. Ruangan dokter ini sudah sepi, beberapa orang sudah pulang. Aku memijat pelan tanganku yang pegal akibat menulis perkembangan pasien tadi.

"Nih Sya, gratis," kata Rival sambil menyodorkan segelas kopi. Aku dan Rival memang tidak pernah menggunakan gue-lo, selain terlihat sok akrab, gue-lo sungguh terkesan tidak sopan.

"Makasih banget banget banget, you are da best," balasku sambil menghirup aroma kopi tersebut.

"Aku sebenernya sedih Sya waktu melihat kamu nikah," kata Rival yang membuatku batal menelan cairan hitam pekat di tanganku. Aku melongo setengah kaget, bagaimana bisa Rival belum bisa melupakan semua itu?

Ya, Rival dan aku memang sempat menjalin hubungan selama hampir lima tahun ketika kuliah, ditambah ketika koas. Bahkan kami sudah pernah membahas tentang pernikahan, tetapi itu semua sudah masa lalu. Aku dan dia memutuskan berpisah karena memang kami jarang ada satu sama lain. Hingga akhirnya, kami disatukan kembali di rumah sakit ini.

"Jangan gitu dong Val," kataku pelan disambut tawa Rival. Aku balas tertawa melihatnya.

"Tapi ini serius, aku memang sedih. Tapi, kalau itu membahagiakan untukmu, aku bisa apa? Cuma butiran debu," katanya sambil terkekeh. Aku tidak berusaha menanggapi lebih lanjut, takut membuat suasana semakin aneh.

"Bercanda mulu bosen ah," kataku akhirnya. Aku kembali hanyut dalam pekerjaanku, begitu pula dengan Rival.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Lia muncul dari luar.

"Sya udah ganti shift ayo pulang!" teriaknya padaku. Aku kemudian bergegas mematikan laptopku dan berjalan menuju parkiran bersama Lia.

"Sya gue tahu lo nggak baik-baik. Let me know, apa yang Radit lakuin ke lo?" tanyanya sambil menoleh ke arahku.

"Dia minta cerai 15 menit setelah keluar dari gerbang gedung kemarin Li, hal tergila yang nggak pernah terbayangkan dalam otak gue," jawabku sambil menggigit bibirku.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang