Part 10-Cry and Hug

34.4K 1.3K 19
                                    

Rasya's POV

"Sya, udah dong jangan nangis terus," kudengar sudah puluhan kali Lia mengucapkan kata-kata yang sama padaku. Dia mengatakannya sambil mengelus punggungku.

"Li, gue emang nggak cinta sama dia, gue nggak sayang sama dia, tapi gue takut dia ninggalin gue," balasku masih terisak.

"Sya, lo harus tetep bisa berfikir jernih. Hadapi apa yang ada di depan lo, jangan takut sama hal yang bisa jadi ada bisa jadi enggak. Lo harus hadapi kenyataan Sya, life must go on," katanya sambil menyodorkan tisu.

"Perempuan itu lebih cantik dari gue Sya," kataku lagi. Entah berapa kali aku mengatakannya.

"Duh Rasya, gue belum lihat jadi gue nggak bisa kasih penilaian. Denger ya, mau dia atau elo yang lebih cantik, sekarang yang istrinya Radit itu elo. Please deh Sya," tambah Lia sambil menghela nafas.

Aku melirik jam tanganku, pukul 10 malam. Harusnya aku sudah ada di rumah sekarang. Tapi langkahku terasa amat berat, aku takut Radit akan berkata hal-hal yang menyakitkan. Bodoh Sya. Sekarang yang seharusnya takut adalah Radit, bukan kamu.

"Lo pulang sekarang ya," kata Lia.

"Gue nggak berani ketemu dia," balasku sambil mengusap air mata.

"Bodoh Rasya, ah lo ini bikin gue sebel," tambah Lia sambil memukul pelan kepalaku. "Lo pulang sekarang atau lo akan menyesal Sya," Lia berbisik di telingaku. Kata-katanya memasuki otakku dengan cepat.

"Oke gue pulang sekarang."

Aku melajukan Honda Jazz-ku sambil menitikkan air mata. Hah! Menyedihkannya aku ini. Aku melihat Pajero Sport berwarna putih di belakangku. Oh God, itu Radit. Bagus sekali yang dia lakukan, bahkan setelah aku memergokinya tengah mencium perempuan itu, dia tak berusaha mencariku atau meminta maaf padaku.

Oh Sya, sadarlah, buang jauh harapan itu. Lihatlah, Radit baru saja hendak pulang setelah berjam-jam bersama dengan perempuan itu. Sudah pasti perempuan itu sungguh membuatnya khawatir.

Mobilku terus melaju menembus malam, kulihat mobil Radit senantiasa melaju di belakangku. Apa yang dia lakukan? Rencana apalagi yang dia siapkan? Jantung dan hatiku bahkan belum siap jika harus terjadi hal-hal lain.

Pak Budi dengan cepat membuka gerbang saat aku tiba di depan rumah. Aku menekan klakson mobil sebagai ucapan terimakasih.

Pajero Sport milik Radit mengekor di belakangku, kemudian dia berhenti tepat di sampingku.

Aku menarik nafas. Tenang Sya, bersabarlah. Kamu harus mampu mengendalikan emosimu, jangan bodoh, jangan bodoh, pesan otak dan hatiku pada saat itu.

Radit mendekat ke arah mobilku, dia masih mengenakan jas berwarna hitam. Wajahnya sedikit pucat, mungkin karena kelelahan. Kelelahan menemani perempuan itu.

Aku membuka pintu mobil.

"Kenapa kamu baru pulang jam sepuluh Sya? Jadwalmu hanya sampai jam 1 siang," katanya keras.

Aku mendongak menatapnya. Apa yang barusan dia katakan sungguh membuatku terkejut.

"Bukan urusanmu," balasku pelan, namun dapat kupastikan dia mendengarnya.

Bukan kata-kata itu yang kuharapkan keluar dari mulutnya. Aku sungguh ingin meminta penjelasan atas apa yang kulihat tadi pagi.

Aku hendak berjalan menuju pintu masuk, tetapi kemudian Radit menarik tanganku.

"Saya menyusul kamu ke rumah sakit Sya. Saya khawatir kenapa jam sepuluh malam kamu belum pulang juga," katanya lagi sambil tetap memegang tanganku.

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang