Penuh kagum, Maura menatap Dewa lekat-lekat. Tidak banyak anak-anak dari korban rumahtangga yang berantakan bisa tetap baik-baik saja seperti Dewa. Seakan-akan Dewa telah menutup mata, telinga dan mulutnya untuk semua yang terjadi di keluarganya. Dia tetap mampu berada di jalan yang benar meskipun keluarganya berantakan.
Dan ditatap oleh Maura seperti itu, membuat Dewa tersenyum lebar. Dia yakin, perasaan ini sudah tumbuh lebih dari sekedar sahabat.
***
Di koridor sekolah, Dewa berdiri berhadapan dengan seorang gadis cantik yang sudah sejak tadi menunggunya di depan kelas. Dewa mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan tidak ada Maura. Lalu Dewa pun buru-buru bertanya pada kekasihnya. "Kenapa?"
"Kamu yang kenapa? Kok aku samperin malah ditanya kenapa?"
Dewa diam. Menyetujui dalam hati keanehan sikapnya ini.
"Yuk, pulang, Ay. Aku nanti sore ada fashion show lagi, kamu nonton, kan?"
"Hmm," Dewa menimbang-nimbang. "Ikut aku bentar, yuk," ajak Dewa sambil menarik tangan kekasihnya ke ujung koridor yang sepi.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya kekasih Dewa.
"Hmm," Dewa nampak ragu mengatakannya. Tangannya menggaruk-garuk tengkuk belakangannya yang tak gatal. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia utarakan, terasa sulit sekali mengatakan keinginannya. Dia seperti merasa tidak bisa menyakiti gadis selembut dan sebaik kekasihnya ini. "Hmm... aku mau ngomong."
Gadis dengan sweater merah muda dan rambut indah yang dibiarkan tergerai hingga punggung itu tertawa. Cantik sekali. "Kamu aneh deh, Wa."
"Gini... aku mau ngomong penting. Sebelumnya aku minta maaf kalau ucapan aku ini nantinya akan nyakitin kamu. Aku mungkin bakal terlihat brengsek di mata kamu, tapi aku bener-bener harus jujur." Dewa menggenggam kedua tangan kekasihnya dan menatap matanya dalam-dalam. "Luna..., kayaknya aku udah mulai jatuh cinta lagi sama oranglain. Kita nggak bisa lagi pacaran."
Luna, gadis cantik pimpinan komunitas Adorable yang terkenal. Luna, si bidadari cantik berhati malaikat. Luna, yang sudah delapan bulan ini menjadi kekasih Dewa. Iya, Luna yang terkenal itu adalah kekasih Dewa.
Gadis itu langsung merubah mimik wajahnya menjadi layu seketika. Setetes demi setetes airmatanya mulai jatuh dari mata indahnya. Tangannya sampai harus berpegangan erat dengan tangan Dewa yang menggenggamnya, saking tidak mampunya berdiri tegak lagi.
Luna merasa dunianya berputar-putar.
"Lun, aku minta maaf," lirih Dewa penuh penyesalan.
"Kenapa bisa, Wa? Emangnya aku udah nggak cantik, ya? Aku ngebosenin, ya?" cicit Luna menatap Dewa dalam sambil menangis.
Dewa menutup kedua matanya. Di atas kepalanya ratusan ton rasa bersalah seakan menimpanya karena telah menyakiti dan membuang airmata seorang gadis nyaris sempurna seperti Luna.
"Kamu udah nggak sayang sama aku?"
Dewa membuka matanya. "Bukan, Lun. Kamu sempurna. Aku sayang sama kamu. Tapi aku juga kayaknya sayang dia. Rasanya aku akan makin jahat kalo masih memaksakan kita saat hati aku udah terbagi."
"Kalau kamu sayang aku kenapa kamu bisa sayang dia juga?"
"Lun... kamu terlalu sibuk sama dunia kamu, kamu nggak pernah ada saat aku butuh kamu. Padahal, aku cuma pengin diperhatiin, Lun. Aku butuh pelukan kamu saat aku nyaris hancur. Aku pengin kamu dengarkan saat aku mengeluh. Aku kedengerannya egois, ya?"
Semakin deras airmata Luna mengalir. Kepalanya tertunduk dalam. Luna mencoba menampik kesalahan-kesalahannya yang disebutkan oleh Dewa, namun nyatanya itu semua tidak bisa ditampik. Karena semua yang Dewa katakan memang benar adanya. Luna yang selama ini selalu mementingkan urusannya sendiri dan tidak pernah memperhatikan Dewa. Bahkan, Luna merasa dia tidak benar-benar telah mengenal Dewa.
YOU ARE READING
Hello, Memory! [COMPLETED]
Teen Fiction[DITERBITKAN] Ketika segalanya telah berlalu, kebersamaan menjadi terasa berarti. Cinta yang belum sempat diucapkan, hanya tertelan bersama memori. Keterlambatan menyadari perasaan, kini jadi penyesalan. Dihadapkan dengan beberapa pilihan membua...
Hello, Memory Keenam!
Start from the beginning
![Hello, Memory! [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/57194961-64-k900663.jpg)