"Liat aja ya, Byun Baekhyun... abis lu sama gue nanti!" desisnya kesal.

Di sisi lain...

Jauh dari kekacauan itu, Baekhyun duduk di kursi sempit sebuah warnet. Lampu neon yang redup memantul di layar-layar komputer, sementara suara klik-klik mouse berpadu dengan teriakan para gamer lain yang larut dalam permainan. Earphone besar menutupi kedua telinganya, dan dari voice chat, terdengar suara rekannya 'Little Tiger' alias Chanyeol, mengisi ruang dengarnya.

Tapi Baekhyun tidak bisa benar-benar fokus.

Berkali-kali dia melepas sebelah headsetnya, menoleh ke ponsel yang terus bergetar di meja samping keyboard. Notifikasi pesan dan panggilan masuk bertubi-tubi membuatnya gagal konsentrasi.

'Gue kan udah bilang, matiin HP lu!' suara Chanyeol membentak kesal dari headset.

'Iya, bentar...' Baekhyun buru-buru meraih ponselnya.

'Siapa sih yang ganggu lu mulu? Kalo gini terus, kita bisa kalah gara-gara lu gak fokus!'

Baekhyun menghela napas berat, matanya menatap layar ponselnya.

'Ya sorry... ini keluarga gue, mereka nanyain gue di mana'

'Gak perlu direspon! Matiin aja HP lu! Fokus dulu ke pertandingan!' balas Chanyeol cepat, penuh tekanan.

Ada sedikit keraguan di wajah Baekhyun. Jari-jarinya menggenggam ponsel erat, seolah hatinya menolak, tapi akhirnya dia menekan tombol power dan mematikan ponsel itu sepenuhnya. Napasnya berat, seperti baru mengambil keputusan besar.

'Iya... ini gue matiin' gumamnya pelan.

Setelah itu, dia kembali menunduk, mencoba memfokuskan diri pada layar monitor dan pertandingan yang sedang berlangsung. Meski pikirannya masih separuh di tempat lain, dia berusaha menepis perasaan gelisah yang sejak tadi mengganggu dadanya.

Kembali lagi ke Jaehyun...

Dia kini terduduk diam di ujung ranjang. Bahunya masih naik-turun, keringat membasahi pelipisnya. Kedua tangannya menggenggam erat ujung sprei, seakan menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras, dan matanya kosong menatap lantai yang penuh pecahan kaca.

Entah kenapa, perasaan tidak enak itu semakin kuat menekan dadanya.

Perlahan, matanya beralih ke ponsel yang tergeletak di sisi bantal. Dengan tangan yang sedikit bergetar, dia meraihnya. Napas panjang terlepas dari bibirnya sebelum akhirnya menekan nomor adiknya lagi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Berkali-kali dicoba.

Namun layar hanya menampilkan pesan yang sama berulang-ulang.

'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif'

Jaehyun terdiam.

Tadinya, panggilan masih tersambung meski tidak diangkat.

Tapi kali ini...

Nomornya justru tidak aktif sama sekali. Sebuah perubahan kecil yang langsung membuatnya gelisah.

Ponsel di tangannya bergetar lemah, sementara dirinya hanya bisa duduk membeku di tepi kasur, tidak tahu harus melakukan apa.

Waktu terus berjalan.

Hampir dua jam berlalu sejak kedua orang tuanya pergi.

Hujan di luar belum juga reda. Justru semakin deras, menimbulkan bunyi ketukan air di jendela yang berulang-ulang, seperti dentuman kecil yang terus memukul saraf Jaehyun.

Dengan jantung berdebar kencang, dia kembali meraih ponsel dan menekan tombol panggil ke nomor ibunya.

Tut... tut... tut...

Tidak ada jawaban.

Dia mencoba lagi.

Tut... tut...

Masih tidak ada yang mengangkat.

"Eomma... ayo dong... angkat..." bisiknya lirih.

Tangan gemetar itu lalu beralih, menekan kontak lain.

Yaitu, ayahnya.

Sekali, dua kali, tiga kali.

Tetap sama.

Nada sambung terdengar... tapi tidak ada suara yang menjawab.

Napas Jaehyun mulai memburu.

Keringat dingin merembes di pelipisnya, menetes meski udara kamar begitu dingin karena hujan.

"Kenapa sih... kenapa gak ada yang angkat...?" gumamnya panik.

Dengan putus asa, dia akhirnya menekan kontak adiknya lagi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tut... tut... tut...

Dan kembali... pesan yang sama muncul di layar.

'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif'

"ARRHHH!!" Jaehyun mendesah frustasi.

Dia meremas rambutnya dengan keras. Rasa kalut menekan dada, hampir membuatnya sulit bernapas. Hampir dua jam berlalu, tidak ada satu pun kabar, tidak ada satu pun jawaban. Firasat buruknya kian menjadi-jadi, seperti ada sesuatu yang sedang bergerak mendekat, siap merobohkan dunianya.

Dengan sisa harapan terakhir, tangan Jaehyun bergetar saat kembali menekan tombol panggil. Kali ini, dia bahkan menutup mata rapat, seolah berdoa agar suara di seberang sana benar-benar terdengar.

Tut... tut...

Kali ini, tiba-tiba...



















TBC!

-----

See you next chapter 🖤

Typo bertebaran dimana-mana!

Jangan lupa vote dan komen ><

CTRL + Love  •|| END ||•Nơi câu chuyện tồn tại. Hãy khám phá bây giờ