Menghindari Papanya bukan hal yang baik. Toh, sejak pulang sekolah Papanya sudah di rumah Luna. Dan lagi-lagi Luna terpaksa mengikutinya. Tanpa sepatah katapun Luna sudah menjalani semua pengobatan yang disuruh Papanya. Dan mobil itu akan membawanya kembali pulang. Luna bersyukur semua cepat berlalu. Dan kesialan Luna meningkat 100% menghindari tadi sore, berakhir dengan ketinggal jam les malam ini. Memang menyebalkan.
Luna menyandarkan pungungnya di sandaran kursi mobil Papanya sejak tadi, menatap ke arah jalan yang dilaluinya. Berat dan sangat berat. Hanya itu yang terlintas di kepalanya. Hidupnya begitu berat. Padahal ia belum menginjak umur 16 tahun. Ia sudah merasa bosan dengan kehidupannya.
"Kita makan di mana dulu Lun?" Papanya menoleh ke arah Luna yang masih fokus ke depan. Ia tak sadar akan ucapan itu.
"Nanti pas mau sesuatu bilang Papa aja."
"Uang kamu masih ada?"
"Nanti papa transfer lagi kalau kurang."
"Aluna? Jawab dong Papa." suara papanya yang mulai meninggi sontak membuat Luna menoleh. Sedikit kaget.
"Oh, enggak ada Pa, nggak butuh apapun." sahutnya terdengar dingin. Papanya mengangguk. Bukan sekali dua kali lagi ia mendapat perlakuan dingin sama anak satu-satunya ini.
"Dan Papa beliin ponsel baru tu sama buku." tunjuknya ke arah bangku belakang. Luna menoleh serius ke arah tatapan Papanya. Melirik satu kantong plastik berisi buku kumpulan soal dan satu paper bag bewarna coklat yang berisi ponsel itu. Ia tak butuh itu. Ia butuh les ditempat yang mahal sekarang. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu pada Papanya. Papanya tidak akan menolak tapi hatinya yang menolak.
"Kemaren Papa beliin Alie ponsel, ingat kamu juga. Jadi warnanya Papa bedain." jelasnya. Luna tersenyum samar. Ia benci mendengar nama itu disebut. Orang yang merebut Papanya dengan sebutan Papa juga.
"Dan semuanya sudah oke, tinggal di pake. Papa tahu kamu nggak mau ribet. Yang lama simpan aja." ucap Papanya tersenyum sedikit. Luna masih diam. Memikirkan ucapan Papanya kalau Papanya hanya membelikannya karena kebetulan. Luna kembali tersenyum samar. Memang tidak menarik sekali hidupnya. Dering ponselnya membuat Luna menoleh ke ponsel yang ia letakan di pangkuannya itu, melihat nama Fandu muncul di layar ponselnya. Luna mengeser layar jawab, menempelkan benda itu di telinganya.
"Lun, dimana? nggak masuk lu?" suara Fandu terdengar samar di seberang sana. Ia pasti sedang di kelas. Terdengar cukup heboh. Mungkin sedang istirahat untuk sesi kedua.
"Enggak Fan, gue lagi sama Papa," ucapnya serius.
"Ohh. Oke,"
"Iya." sahut Luna singkat.
"Ya udah, see you yah. Semangat. Gue tutup." ucapnya menutup teleponnya, Luna menurunkan ponselnya, memasukan kembali ke dalam tas yang di bawanya. Kembali menatap lurus ke depannya.
"Kapan sih Lun? Tanyain kabar Papa. Papa baik? Papa di mana? Aku boleh minta beliin ini itu nggak?" suara Papanya merendah, Papanya menarik napas berat dan menghembuskan perlahan. Luna masih diam. Ia memang tak pernah menanyakan hal itu pada Papanya. Memang tidak pernah.
"Papa pasti bahagia banget dengarnya." sambung Papanya. Luna masih diam. Papanya ikut diam. Hingga tiba di depan rumahnya. Papanya Menepikan mobilnya di depan gerbang rumah Luna. Luna hendak turun dan Papanya meraih barang pembeliannya dan menyodorkan ke arah Luna.
"Papa nggak apa ditolak. Tapi barang Papa jangan yah," lirihnya. Luna diam, ia menatap lelaki paruh bayah itu yang kini tersenyum ke arahnya, detik berikutnya Luna terpaksa meraihnya.
"Makasih Pa, dan hati hati." ucapnya serius. Papanya mengangguk sedikit tersenyum. Luna turun dari mobil Papanya dan di ikuti Papanya di belakang.
"Semangat belajar yah. Jangan mau kalah sama teman." ucapnya lagi. Luna hanya diam. Berjalan masuk. Membiarkan Papanya yang kini diam mematung di sana. Anaknya masih membenci dirinya.
"Nggak masuk dulu Pak." Yuli menawarkan. Papanya menggeleng, sedikit tersenyum.
"Nggak usah. Jagain Luna yah Yul. Nanti kalau ada apa-apa telpon aja Bapak. Awasi dia." ucapnya serius. Yuli mengangguk.
"Pasti Pak." sahutnya cepat. Papa Luna kembali masuk kembali ke dalam mobil dan menghilang.
***
Fandu sama sekali tidak bisa tidur semalaman di kamar apartemennya. Alhasil ia kembali pulang kerumah Mamanya yang tadi menyuruh ia pulang untuk sarapan. Fandu tiba di rumahnya, melihat mobil Papanya terparkir di garasi mobil menandakan kalau sang Papa sedang berada di rumah sekarang. Fandu menarik napas berat dan menghembuskan perlahan. Lalu turun. Sepertinya ia dan Papanya tidak bisa ada dalam satu rumah. Fandu tidak mengerti, semua yang ia lakukan selalu salah di mata Papanya.
Langkah kaki Fandu terhenti ketika melewati dapur. Mendengar Mama dan Papanya sedang berdebat di meja makan. Tak menyadari kalau Fandu sudah sampai di rumah.
"Tapi, Mas. Aku nggak bisa jauh dari Fandu. Aku mohon tunggu saja sampai Fandu lulus." terdengar permohonan sang Mama yang sedang berdiri di ujung meja makan, sedangkan Papanya sedang duduk di kursi menikmati makanannya.
"Sudah Papa bilang berapa kali sih Ma, tidak bisa. Fandu memang harus dikirim ke sana. Kamu tahu alasan saya kirim anak kamu itu buat apa?" tanyanya membuat Mamanya menoleh serius dan Fandu kini menahan napasnya.
"Buat menghindari dia dari para mantan narapidana itu, saya tidak mau dia juga sama seperti mereka. Dia membeli klub malam itu atas dukungan kamu saja saya sudah pusing, ditambah lagi dia mengambil semua narapidana dan mengajaknya bekerja. Dia juga memukul orang dan membela para mantan narkoba. Saya pusing sama anak itu." katanya lagi. Mama Fandu kehilangan kata-kata. Ia tak punya alasan lain lagi agar Fandu tidak jadi pergi.
"Tapi Mas. Fandu tidak seperti itu. Aku tahu karena dia anakku. Dia hanya menolong orang-orang yang putus dari pekerjaannya setelah mendapatkan hukuman." katanya menjelaskan.
"Saya tidak mau mendengar apapun alasannya lagi. Saya tetap pada pendirian saya, Fandu harus dijauhkan dari sana. Dia harus jadi apa yang saya inginkan. Dia cerdas, dia tidak pantas bergabung dengan para napi. Dan klub Fandu akan Papa jual." jelasnya serius. Fandu menoleh serius. Ia tak setuju akan hal itu. Jika klub miliknya di jual akan ada banyak karyawannya yang putus pekerjaan. Sangat sulit untuk para mantan narapidana mencari pekerjaan. Tanpa sadar langkah kaki Fandu membawa ia masuk.
"Aku bakal pergi seperti saran Papa, aku bakal ikut semua keinginan Papa, aku bakal jadi dokter kebanggaan Papa. Tapi aku mohon satu hal, jangan ambil klub aku. Aku mohon Pa. Aku cuma mau itu saja. Aku rela buat ninggalin semuanya di sini. Termasuk Mama. Tapi aku cuma minta itu." katanya dengan suara serak dan air mata meleleh di pipinya.
"Baiklah. Papa terima permohonan kamu, kamu harus jadi kebanggaan Papa." katanya berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan Fandu yang kini ditarik sang ibu ke dalam pelukannya.
"Maafin Mama. Mama nggak bisa bela kamu." katanya ikut menangis dan Fandu kini mengangguk sedikit. Ikut memeluk Mamanya erat. Membuat Fandu merasa sedikit tenang.
"Enggak apa Mah. Aku nggak apa-apa. Aku bakal pergi, Mama nggak usah khawatir. Aku pasti bisa sendiri kok. Asal Mama doain aku dan jaga diri Mama." katanya melepaskan pelukan itu. Melihat sang Mama kini mengusap air mata Fandu dengan tangan kanannya. Mamanya mengangguk sedikit.
"Pasti sayang, Mama selalu doain kamu." katanya serius kembali menarik Fandu kedalam pelukannya.
"Aku boleh minta satu hal nggak sama Mama. Sebelum aku pergi." katanya serius. Mamanya kini menepuk pelan punggung Fandu.
"Apa sayang, bakal Mama turutin." balasnya serius. Fandu kembali melepas pelukan itu.
"Besok Luna ulangtahun. Mama mau kan siapin makanan buat dia. Aku cuma mau itu." katanya mengusap air matanya. Mamanya mengangguk sedikit. Lalu tersenyum samar. Ia sekarang mengerti anaknya menyukai gadis itu. Ia yakin Fandu pasti akan berat meninggalkannya.
"Pasti sayang. Mama bakal siapin kado juga buat dia. Mama harus siap-siap." katanya melepaskan tangannya pada Fandu, Fandu tersenyum samar.
"Makasih Ma. Aku bakal kabarin dia nanti malam. Dan Mama nggak usah kasih tahu dulu kalau aku mau pindah, biar nanti aku yang kasih tahu dia." jelasnya lagi. Mamanya kembali mengangguk, mengerti.
***
Hari sabtu ini. Luna tidak ingin kemana-mana. Dari tadi pagi hingga sore ini ia hanya di kamarnya. Mengulang beberapa pelajaran. Lalu setelah bosan ia menonton TV bersama Yuli yang kini sibuk mengemil kacang goreng di sampingnya. Merasa bosan Luna berdiri.
"Eh, mau kemana?" tanya Yuli heran.
"Tidur Mbak. Bosen." sahutnya serius. Beranjak pergi.
"He? Dasar, makanya cari cowok. Biar sabtu minggu nggak ngebangke aja dirumah." celoteh Yuli membuat Luna tersenyum samar. Cowok? Dia rasa tidak butuh. Toh, nanti ujung-ujungnya kayak Irwan. Hilang pas dia lagi benar benar menyukai cowok itu. Dan Luna tidak ingin menginggat hal itu lagi. Luna masuk kedalam kamarnya melihat ke arah paper bag dan buku pemberian Papanya tadi malam di atas sofa di kamarnya. Sama sekali belum ia sentuh.
Luna mendekat. Duduk dan meraihnya. Membuka ponsel baru milik Papanya. Ia baru ingat. Ponsel itu bukankah ponsel yang sama dengan milik Fandu. Bahkan warnanya sama. Dan ponsel itu juga yang sudah lama diinginkan Selly. Silla dan Tiva. Menginggat Papanya bilang ponsel itu sudah siap ia gunakan. Luna tersenyum. Ia baru ingat kalau Fandu bilang ia punya Instagram.
Luna mulai masuk dengan Instagram yang Silla buat dulu. Dan berhasil masuk Luna tersenyum saat melihat Assila menandainya dalam sebuah foto dua minggu lalu ketika keduanya berada di labor Bahasa. Fotonya terlihat bagus. Luna ingat sekarang mencari nama Fandu di Ig Silla. Ia ingat dulu Silla pernah menandai cowok itu pada sebuah foto mereka. Dan benar saja ada.
XFandu_
Luna menggulir layar melihat hanya ada 5 foto. 2 foto Mama dan Papanya. 1 foto waktu Fandu SMP, 1 foto kakaknya. Dan 1 foto dirinya sedang duduk di taman SMA mengenakan seragam putih abu+abu dengan senyum mengembang. Disukai lebih dari 20 ribu orang. Alis luna terangkat. Ia membuka kolam komentar.
Handsome.
Ganteng bgt kak.
Ya allah, gantengnya
Kak ganteg kapan nulis cerita baru. Ditunggu nih.
Astaga baru lihat wajah asli, bener kata teman ku. asli ganteng.
Ommoo. Ganteng bgt.
Kak cek dm.
Fan. Percuma ganteng. Jomblo mulu.
Fandu benar. Cowok itu memang sudah terkenal.
Luna melihat 150k pengikut.
Dan 200 orang-orang yang diikuti.
"Yah pantes saja." gumamnya Dan tak peduli.
Luna mengupload foto dirinya sedang tersenyum. Foto itu diambil dua bulan yang lalu. Ketika dirinya tengah duduk di kantin sekolah. Luna menyukai foto itu. Dan Dulu Tio yang mengambil.
Baru dua menit, satu telepon dari Fandu sontak membuat Luna menoleh ke ponsel lamanya. Luna menjawabnya cepat.
"Lo di mana?"
"Rumah nggak?" tanya cowok itu cepat.
"Gue jemput lo nih. Mama nyuruh lo datang." ucapnya membuat Luna bingung.
"He? Ngapain?" sahutnya melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. Pukul setengah lima sore.
"Nggak tahu, siap-siap gih. Gue udah mau nyampe nih pulang les langsung ke rumah lo." ucapnya sontak membuat Luna berdiri.
"Fan. Kok dadakan banget."ucapnya dongkol dan sayangnya sambungan telepon itu sudah dimatikan. Luna mulai panik, ia berjalan ke arah lemari dengan langkah cepat.
"Cowok sialan. Aduh. Ngapain coba." Luna mengomel jengkel mulai mencari baju yang cocok.
***
Setelah pamit sama Yuli dengan alasan mau ke toko buku dan menyuruh Fandu untuk menunggunya jauh dari rumahnya. Agar Yuli tidak mikir aneh. Toh, iya hanya pergi menemui Mama Fandu. Bukan yang lain. Dan benar saja. Mama Fandu sudah menyiapkan masakan. Luna mau tak mau harus menyantapnya. Dan Fandu malah hilang entah kemana setelah mengantarnya ke depan rumahnya. Katanya mau ke toko buku. Luna lagi-lagi tak bisa memaksa cowok itu. Toh. Ia sudah ditunggu Mama Fandu di depan rumah dengan senyum mengembang.
"Ayo masuk. Duh tante kangen tahu." ucap Mama Fandu memeluk singkat Luna yang kini hanya bisa tersenyum. Ia kehilangan kata-kata. Kenapa harus seperti ini.
"Aku juga Tan."sahutnya berbasa basi.
"Ya udah yuk. Tante udah siapin banyak makanan nih." ajaknya menarik Luna masuk. Luna mengangguk mengikuti Mama Fandu berjalan langsung menuju dapur. Mata Luna membulat saat melihat banyak makanan terhidang di atas meja makan.
"Tant. Acara apaan? Kok banyak banget." tanya Luna heran mengambil duduk di depan Mama Fandu. Mama Fandu tersenyum samar.
"Tante suka masak banyak. Mumpung nggak kerja jadi yah tante habisin buat banyak masakan. Trus tadi kepikiran kamu buat ke sini." jelasnya tersenyum mengambilkan Luna piring berisi nasi dan menyodorkan ke arah Luna.
"Makasih Tan." sahut Luna singkat masih tersenyum. Ia heran sendiri.
"Sekarang kita makan." ajak Mama Fandu.
"Fandu Tan? Nggak ditunggu dulu?" tanya Luna heran. Mama Fandu menggeleng.
"Tidak usah. Biarin aja. Pasti bentar lagi pulang. Kan ada kamu di rumah." sahut Mama Fandu membuat Luna mengangguk. Mulai memakannya.
"Gimana, enak? Tadi Mama kemana?" suara Mama Fandu sontak membuat Luna menoleh. Lalu mengangguk tersenyum.
"Luar kota Tant, belum balik, mungkin nanti malam." sahutnya tersenyum.
"Tan, Oom mana?" tanya Luna sudah dua kali ia ke sini. Ia belum ketemu Papa Fandu.
"Kemaren pas Luna datang lagi dirumah sakit. Sekarang lagi ke Bogor." balasnya tersenyum. Luna mengangguk. Fandu muncul dengan langkah cepat masuk ke dapur dan mengambil duduk di samping Luna. Matanya tak lepas dari ponsel yang di pegangnya.
"Tante kemaren baru pulang dari Singapore trus dress nya cantik. Jadi tante ingat kamu. Trus ini juga. Pokoknya gitu lah." ucapnya tersenyum meraih dua paper bag di atas meja makan menyodorkan ke arah Luna yang kini menatapnya dengan alis terangkat.
"Tapi Tan?" Luna menatapnya serius. Mama Fandu tersenyum. Menggeleng.
"Anggap aja, ini hadiah awal perkenalan kita." sahutnya datar. Luna diam.
"Tan." tolaknya
"Enggak ada tante-tantean. Ambil dan bawa pulang. Nggak mungkin baju sama tas cewek yang make Fandu." ucapnya tersenyum.
"Nah, iya benar." Fandu ikut tersenyum mencomot kue bolu di depannya.
Lalu menoleh ke ponsel baru Luna.
"Ciee hp baru. Dari Papa yah, Lun?" Lalu menarik ponselnya. Dan menoleh ke Fandu jengkel. Memasukan ke dalam tasnya cepat.
"Nggak usah dibahas."jawabnya sedikit berbisik membuat Mama Fandu tersenyum.
***