🌲 STALKER [36]

175 21 3
                                    

Tidak ada yang Elda lakukan di senin pagi ini, ia hanya tidur terlentang di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Hari ini sedang libur karena kelas dua belas melaksanakan kegiatan Ujian Nasional.

Elda hanya berdiam diri di kamarnya tanpa tau akan melakukan apa, semalam setelah ia diantar pulang oleh Daffa, menggunakan sepedanya dan berboncengan, Elda segera masuk ke kamarnya dan tidak keluar kecuali hanya untuk mendi dan makan hingga pagi ini.

Ikan yang didapat olehnya dengan Daffa pun cukup banyak, Daffa menyuruh Elda untuk membawanya pulang, tetapi Elda menolaknya. Maka dari itu, Daffa membawa pancingan dan ikannya pulang terlebih dahulu sebelum mengantarkan Elda. Lagian rumah Daffa dekat dengan danau itu, dan Elda tak tahu arah jalan pulang.

Malam harinya Elda tidak bisa tidur karena memikirkan Alle, tidak dapat dipungkiri ia menangis semalaman, hal itu terlihat jelas bagian bawah matanya yang menghitam. Ia seperti motif hewan di baju tidurnya sekarang, ya! panda.

Bagaimanapun Alle itu seperti super hero baginya, Berkat Alle Elda mengetahui rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Rasa senang saat Alle menggandeng tangannya, memujinya, atau bahkan memerhatikannya. Atau cemburu saat Alle berdekatan dengan perempuan lain.

Elda tidak pernah merasakan itu sebelumnya, Alle mengajari Elda banyak hal, tentang apa itu rasa sakit dan apa itu kesetiaan.

Elda tahu, hubungannya dengan Alle sejak awal pun sudah salah. Ia melakukan hubungan diam-diam dengan Alle, sedangkan Meisya yang notabenya sahabatnya itu juga menyukai Alle, ia merasa... menjadi seseorang yang jahat saat merebut seseorang yang disukai oleh sahabatnya sendiri.

Tapi jelas, Alle sangat mencintai Elda sampai-sampai ia tidak peka sahabat Elda menyukainya, ia terlalu dibutakan oleh cinta, Elda pun begitu.

Mungkin ini rencana yang terbaik dari tuhan untuk mereka berdua, bagaimanpun semua hal-hal yang terjadi di dunia ini tidak akan terjadi apabila tidak dengan kuasa tuhan.

"Hufft" Elda menghembuskan nafasnya pelan.

Raganya sakit dan hatinya pun juga tak kalah sakitnya. Ia ingin menyerah saja. Tolong, jangan pikirkan Alle terus. Sebentar saja.

Lalu Elda mulai teringat tentang Daffa, laki-laki dengan lesung dibagian pipi kirinya itu tampak begitu manis, apalgi saat ia tertawa, terlihat jelas lesung pipinya.

Daffa pintar mencairkan suasana, entah mengapa seakan cocok dengan Elda yang dominan pendiam itu.

Daffa ceria, Elda tampak sendu. Daffa memancarkan kebahagiaan, Elda dalam belenggu kesedihan. Seolah-olah Daffa memang diciptakan sebagai penyembuh hati Elda.

Tidak semudah itu, bayang-bayang Alle yang menyorotkan tatapan emosi di taman itu entah mengapa Elda juga merasakan sakit yang sama seperti yang Alle rasakan.

Elda tediam cukup lama di kamarnya hampir setengah jam, sampai kemudian ketukan pintu kamarnya terdengar

tok tok tok

"Masuk aja bun" Ujar Elda masih berada diatas ranjangnya, enggan berdiri.

"Heh rebahan mulu lo"

Elda kaget seketika langsung terlonjak duduk di ranjangnya. Melihat cermin sambil mengusap wajahnya barangkali ada iler yang menempel di sudut bibirnya. Ya, yang datang ternyata Ira.

Seketika Ira memegangi perutnya ngakak saat Elda terkejut seperti itu. Kemudian menghampiri Elda.

"Ada apa? kamu kok bisa kesini ra" Tanya Elda memasang muka pias.

"Jalan kuy, mumpung libur" Ujar Ira.

"Sebentar ya aku mandi" Elda langsung pergi ke kamar mandinya, tetapi sebelumnya ia mengambil handuk yang tergantung di balik pintu.

Patah hati. Sulit terobati.

Ira melihat-lihat kamar Elda, memutari kesana kemari menyentuh barang-barang Elda, tetapi tidak lancang seperti membukanya, ia hanya melihat apa yang terlihat.

Ira tertegun. Menahan napas. Tangannya menyentuh satu lembar foto, Alle, kakak kelasnya. Batinnya bertanya, mengapa Elda menyimpan foto kakak kelasnya?

Bunyi pintu kamar terdengar, Ira langsung dengan cepat duduk di ranjang Elda sambil memegang ponselnya, berpura-pura bermain handphone.

"Udah?" Tanya Ira

"Udah hehehe" Elda cengengesan.

"Keluar dulu Ra" Ujar Elda

"Dih ngusir"

"Aku mau ganti baju"

"Ganti aja kali gua kaga lihat gua ngadep belakang"

Ira memutar tubuhnya, Elda menatap Ira kemudian menghembuskan nafas lalu ia berganti baju.

"Sini deh" Ujar Ira

Elda mendekati ira seraya menyisir rambutnya.

"Kenapa ra?" Tanya Elda

"Biar gua dandanin lo"

Elda menurut dan duduk di depan meja riasnya. Elda membulatkan matanya saat melihat ada foto Alle disitu, dengan cepat ia segera menyembunyikan di nakas.

"Jangan-jangan Ira lihat lagi" Batin Elda

"Gua udah lihat kaliii" Ira berujar santai sambil menyisir rambut Elda.

"E- itu, anu," Elda berujar terbata.

"Kak Alle itu sepupu aku tau" Lanjut Elda.

"Hah!?" Ira terkejut bukan main, Elda menyembunyikan rahasia itu kepadanya, kepada teman-temannya yang lainnya juga.

"Kok lu ga ngasih tau kita!?"

Elda mengangkat bahunya, "Gapapa biar rahasia aja hehehe" Elda cengengesan.

"Dasar!" Ira menjitak kepala Elda

"Aduuhh!"

🌲

Elda, Ira, Nara, dan Meisya sampai di Mall Rainbow. Setelah mendadani Elda, Ira dan Elda segera menyusul Nara dan Meisya satu persatu.

Memang ini rencana Ira yang gabut dirumah, lagi libur juga ngga ada kerjaan. Ira dengan semangat menjemput temannya satu persatu. Padahal mereka sedang malas-malasan termasuk Elda.

Sedangkan disisi lain, Alle, Putra dan Elang dan beberapa anak kelas duabelas lainnha sedang berpikir keras, berolahraga otak dan raganya karena memikirkan soal yang ada di komputer.

Ujian ini menentukan nasib mereka nantinya, Kuliah dimana atau kerja sebagai apa, mereka harus memperoleh nilai yang memuaskan agar sukses masa depannya.

Meskipun pikiran Alle terpecah menjadi dua, antara soal di depannya dan tentu saja Elda, ia harus lebih fokus lagi, ia tidak holeh gagal, ia harus membanggakan keluarganya, orang-orang disekitarnya, juga dirinya sendiri.

Tak beda jauh dengan Elda, meskipun ia tertawa bahagia, sebenarnya ia juga merasakan sakit, tetapi tidak mungkin ia menunjukkannya di depan teman-temannya.

"Time zone yuk!" Ujar Nara

"Bosen aahh" Jawab Meisya

"Yaudah lo gausah ikut!" Nara langsung menggandeng Ira dan Elda secara bersamaan kemudian meninggalkan Meisya dibelakang.

"Hei, hei tunggu!" Meisya langsung mengejar mereka

"Katanya bosen" Sindir Ira.

"Ya kan terus nanti gue sama siapa?" Meisya cemberut.

Kemudian mereka bertiga tertawa. Melihat itu, Meisya menjadi semakin masam.

🌲

Mau follback atau sekedar ngobrol sama saya silahkan DM okeyyyyy saya gak gigit kok, hehehe

see u on next part.

Ketjup💋

STALKER [END] (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang