Fika jatuh sakit

2.5K 11 0
                                    

Fika jatuh sakit

 

Jam tangannya sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun mengapa mata ini sangat sulit untuk dipejamkan. Fiki berdiri di depan kaca toliet apartemennya. Ia melihat keadaannya saat itu. Matanya begitu merah dan wajahnya pun tak karuan. Sepertinya masalah ini membuatnya sangat acak-acakan. Satu jam, dua jam, ia masih bergelut dengan masalahnya. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya dan fikirannya. Namun apa daya, ia tak bisa menyelesaikan secepat ini. Melupakan semua kejadian itu, dan menerima kejadian ini dengan apa adanya. Merubah orang yang paling ia cintai dan sayangi menjadi seorang adik kandungnya. Itu semua bukan perkara yang mudah. Butuh proses untuk mengubah semua itu. Ia masih bergelut dalam fikiran dan egonya. Sesekali ia hembuskan nafas panjang. Ia kembali menatap matanya di kaca itu “Apa yang harus saya lakukan, bahkan aku tak tau harus bagaimana.” Itulah fikiran yang selalu menghantui dirinya sekarang.

***

            Fika masih menatap keluar jendela rumahnya, ia membiarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Hanya sinar rembulan yang mencoba menerangi dengan menyusup masuk dari balik tirai jendela. Fika anggraini masih terjaga dalam lamunannya malam ini. ia biarkan dirinya hanyut dalam buaian malam. Ia melihat di langit terdapat sebuah bulan yang sangat indah. Disertai kilauan bintang-bintang yang menghiasi keindahan sang malam. Semilir angin malam juga terasa sangat dingin. Sepertinya Fika belum sempat menghentikan tangisannya saat ini. Malam ini begitu sunyi, hanya terdengar suara serangga malam, dan tangisan Fika yang lirih tiada henti. Serasa memecahkan keheningan malam itu.

            Fikirannya benar-benar kalut. Ia tak tau harus bagaimana mengakhirinya. Terasa berat di fikirannya. Sepertinya ada sebuah bom yang siap meledak. Iapun ingin menjerit keras-keras, sekedar melampiaskan kesedihan dan kekesalan pada dirinya sendiri. Isak tangisnya tak juga berhenti. Seketika itu fikirannya mulai kacau, bayangan itu muncul lagi, begitu hebat dan begitu nyata. Kepalanya mendadak pusing dan tak bisa ia menahan sakitnya. Ia terus saja menjambak-jambak rambutnya. Ia tak kuasa menahan kesakitan itu. Nafasnya mulai terengah-engah. Ia mulai sesak nafas. Satu tangan menjambak-jambak kepalanya, dan satu tangan memegang dadanya yang sesak. Matanya mulai berkunang-kunang. Penglihatannya mulai buram. Rasa sakit dikepalanya membuat ia tak bisa bertahan. Penglihatannya yang buram sekarang mendadak menjadi gelap. Gelap dan tak terlihat apa-apa. Fika jatuh dan tak sadarkan diri.

            Sirine ambulans malam benar-benar telah membuat telinga ini menjerit. Pagi-pagi buta seperti ini, tepatnya masih jam setengah dua dini hari. Suara sirine itu bahkan seperti alarm untuk membangunkan orang-orang tidur. Serasa menyebalkan. Kenapa harus sepagi ini sirine itu berbunyi? Serasa mata ini masih sulit untuk bagun.

            Terlihat ambulans berhenti di depan rumah Fika. Beberapa lelaki yang berpakaian serba putih sangat tergesa-gesa. Ia buka pintu mobil dan menarik bangsal untuk diseretnya keluar. Dua orang dengan sigap masuk ke rumah Fika. Tak beberapa lama lelaki dengan pakaian serba putih itu membawa Fika dalam keadaan tak sadarkan diri. Terlihat kedua orang tua angkat Fika dan ayah Fiki mengikuti dari belakang. Mereka semua terlihat menangis, daun raut kesedihan sangat tergambar jelas. Lelaki serba putih itu memasukkan bangsal itu kedalam mobil, dan kemudian menutup pintu mobil. Kedua orang tua angkat Fika dan Ayah Fiki juga ikut masuk kedalamnya. Sirine mobil ambulans tersebut kembali dibunyikan, kali ini telinga benar-benar muak dengan suara itu. Memekikkan telinga. Akhirnya mobil ambulans itu meninggalkan rumah Fika, dan suara sirine itu sudah tak terdengar lagi. Semuanya kembali hening.

***

            Kring....kring...., suara telefon rumah itu mengagetkan lamunan Fiki, Fiki beranjak dari depan cermin. “Siapa malam-malam begini yang menelfon tak tau diri?” Gerutu Fiki saat mendengar bunyi telfon apartemennya itu. Fiki menuju datangnya sumber bunyi tersebut. Ia menghela nafas dalam-dalam. Fiki mulai mengangkat ganggang telfon. Fiki mengerutkan keningnya, dan berusaha menangkap suara yang ada di dalam telfon.

            “Hallo.........., ia dengan Fiki....., Ayah, kenapa ayah?...... Astaga, itu tak mungkin...., Fika.........!!!” Fiki melepaskan telfonnya, dan telfon rumah itu jatuh ke lantai. Serasa ia sudah menjadi lumpuh fikiran, kabar yang ada di telefon telah membuat dirinya mati tak berdaya. Ia masih tak sadarkan diri dari fikirannya itu, seperti kosong, namun tak kosong, ada kekhawatiran besar saat itu. Fiki masih belum beranjak, dengan telfon yang jatuh di lantai. Sepertinya didalam telfon masih ada suara orang memanggil. Pandangannya kosong. Ia menatap lurus, tapi tak tahu apa yang ia lihat. Ia sadar dalam fikirannya. Cepat-cepat ia bergegas meninggalkan apartemennya. Ia menuju kerumah sakit untuk melihat keadaan Fika.

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang