selamat pagi

5.2K 36 0
                                    

Selamat pagi

Mentari pagi telah bersinar dengan terangnya. Hujan tadi malam membuat pagi begitu segar. Ya...cuaca hari ini sangatlah cerah. Terlihat awan putih yang menggantung indah diatas langit. Burung-burungpun tak ketinggalan meramaikan pagi yang cerah ini. Fika bangun dan membuka jendela kamarnya. Ia hirup udara luar dalam-dalam hingga memenuhi rongga perutnya. Kemudian ia hembuskan secara perlahan-lahan.  “Segar..” Fika tersenyum.

Minggu pagi yang indah. Fika merapikan kamarnya yang terlihat sedikit berantakan. Ia melihat jam dinding,  jam menunjukkan pukul 08.30. Fika tertegun sebentar, sepertinya ada yang ia fikirkan. Fika menggaruk-garuk kepala dan mencoba untuk mengingat-ingat. Jam delapan pagi, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia kerjakan di hari liburnya? Dengan siapa ia akan pergi hari ini? Ia teringat sesuatu, merangkai potongan-potongan dalam ingatanya. “Samuel”.” Jam sembilan”,“Kafe”,”Dekat tempat kerjanya.” Ia mulai merangkai kata-kata yang ada di fikiranya. Hari ini Fika ada janji dengan Samuel di kafe dekat tempat kerjanya jam sembilan. “Astaga, aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengannya. Ia kembali menatap jam diding pukul 08.35. Mati aku sekarang!” Fika bergegas menuju kamar mandi untuk mandi secepat kilat. Mengejar waktu agar segera bisa menepati janjinya. Setelah ia keluar kamar mandi, ia melihat jam dinding kembali. Pukul 08.50. Kurang sepuluh  menit lagi. Ini memang sudah pasti telat. Gara-gara tidur larut malam, sekarang  ia bangun kesiangan. Tak hiraukan akan hal itu. Ia kenakan baju seadanya tanpa pilih-pilih. Pukul 08.55 Fika bergegas  meninggalkan rumah.

***

Di sebuah kafe, terlihat banyak orang yang berlalu lalang disana. Terlihat sesosok pria yang sedang duduk sendiri. Ia terus memandangi jam tangannya. Pukul 09.55. Terlihat ia sedang menunggu seseorang. “Sudah hampir satu jam, apakah dia akan kesini?” Pria itu menunggu dengan was-was. Ia menyesap teh hangat yang telah terhidang, untuk menenangkan dirinya. “Ahh.. enak sekali teh ini?” Puji pria dengan teh yang telah ia pesan. Ia kembali menatap ponselya. Ia mencoba menanyakan keberadaan temannya melalui pesan singkat. Mulai mengetik SMS. “Huh.. aku harap tak terjadi apa-apa dengannya.” Ia hembuskan nafas dalam-dalam dan menaruh ponselnya diatas meja.

Dari arah kejauhan ada seorang gadis yang sedang membuka pintu kafe. Terlihat sedang mencari- cari seseorang. Memandangi sekeliling orang-orang yang ada di dalam kafe. Melihat ada seorang pria yang duduk di pojok sendiri, ia melambaikan tangan dan menghapiri pria tersebut.

“Maafkan aku Samuel, aku terlambat.” Ucap Fika yang merasa bersalah terhadap Samuel. Samuel hanya diam dan menatap wajah Fika, dengan mengkerutkan keningnya. “Kamu marah ya Sam sama aku?” Fika menundukkan kepala dan menekuk wajahnya didepan Samuel. Samuel tetap terdiam dan menghembuskan nafas dalam-dalam, kemudian ia memperlihatkan wajah muramnya.

“Sudah satu jam aku menunggumu Fik. Aku kira kamu lupa akan pertemuan kita kali ini.” Wajah samuel datar menatap Fika. Kata Samuel yang sedikit kecewa dengan Fika yang telat datang. Fika hanya terdiam dan tetap berdiri didepan Samuel. Ia merasa sangat bersalah telah membuat Samuel menunggu terlalu lama.

“Maafkan aku.” Fika menundukkan wajahnya. Dirinya masih diliputi perasaan bersalah. Fika tak berani menatap wajah Samuel. Ia ketuk- ketukkan jemarinya perlahan di atas meja.

 “Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Tak apa-apa kan dengan dirimu Fik?” Samuel tertawa getir melihat tingkah laku Fika yang ketakutan dengannya.

“Maafkan aku Sam. Aku bangun kesiangan sehingga aku tak bisa datang tepat waktu.” Fika masih ketakutan jikalau Sam memarahinya. Ia masih membenamkan wajahnya ke bawah.

“Sudahlah Fika.” Senyum Samuel menyeringai. “Ahh kamu ini kayak baru mengenalku saja. Kita ini sudah kenal lama bukan? Tak sepantasnya kamu takut denganku. Yang terpenting kamu sudah memenuhi janjimu denganku, aku sudah sangat senang kawan. Hahaha..” Sam tertawa melihat tingkah Fika yang ketakutan seperti itu. “Ayolah, jangan terlalu sungkan. Ini tadi sebagian dari aktingku. Penasaran saja dengan raut wajahmu jika ketakutan seperti apa?”

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang