Pertemuan kedua yang tak di sengaja

1.7K 20 0
                                    

Pertemuan kedua yang tak di sengaja

 

Setelah pertemuan tempo hari di kafe itu, Fika tak pernah bertemu lagi dengan Samuel. Walaupun mereka berdua satu tempat kerja, namun pembagian sift siaran yang tak pernah sama membuat mereka jarang sekali bertemu, bahkan sama sekali tak pernah bertemu.

Sore selepas pulang kerja, terlihat Fika sedang menunggu kereta yang akan membawanya pulang. Ia berdiri di depan jadwal keberangkatan kereta dan mencocokkan dengan jam tangannya. Pukul 16.15 dan jadwal kereta berangkat pukul 16.00. “Sial.. keretanya sudah berangkat lima menit yang lalu. Huft.. mau tak mau aku harus menunggu satu jam lagi.” Gerutu Fika. Ia balikkan badan dan duduk di lobby tunggu kereta. Fika duduk dengan memeluk tas rangselnya yang terlihat begitu besar. “Berat banget ini tas.” Merasa keberatan Fika menaruh tas rangselnya di bawah. Fika mengambil buku novel di tasnya dan ia mulain membaca dengan asyik.

Dari arah samping. Terlihat seorang pria yang sedang berjalan agak cepat dengan membaca sebuah buku. Sepertinya ia tak melihat kedepan. Ia asyik dengan buku bacaanya. Ia pun terus berjalan.

“Gubraakkkk...glodaakk...@#*!!!!!

 Pria itu jatuh terjungkal setelah menabrak tas rangsel besar miliknya. Pria itu meringis kesakitan, tubuhnya terjerembab di lantai, Pria itu berusaha untuk bangkit dan berdiri. Fika kaget ketika ada seseorang yang terjatuh setelah menyandung tas besarnya.

“Uppss.. sorry. Aku tak melihat tasmu.” Pria itu membenarkan posisi tas Fika yang telah ia tabrak ke posisi semula.

“Fiii.. aduh siapa ya, aku lupa. Fika, eh maksudku Fiki. Ya benar, Fiki temannya Samuel yang tempo hari kita pernah bertemu.” Sahut Fika serasa mengenali wajah orang yang telah menabrak tas rangselnya. Dan memang benar, Pria itu adalah Fiki Ramadan, teman Samuel. Mereka tak pernah menyangka jika akan bertemu kembali. Mereka berdua saling melempar senyum dan berjabat tangan.

“Ohh.. Fika, senang bertemu lagi denganmu. Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Fiki yang begitu senang bertemu dengan Fika saat itu.

“Aku sedang menunggu kereta. Aku habis pulang kerja. Apesnya aku ketinggalan kereta dan harus menunggu satu jam lagi dari sekarang.” Terlihat Fika menekuk wajahnya, ia kecewa akan keretanya yang sudah berangkat lima belas menit yang lalu. “Kalau kamu Fiki, kamu ada perlu apa di stasiun ini?” Tanya Fika.

“Aku baru saja pulang dari Jakarta setelah mengurusi kepindahan kerjaku. Besok adalah hari pertamaku bekerja di Surabaya.” Fiki tersenyum.

“Ohh.. kamu pindah ke Surabaya. Jadi Welcome to Surabaya, Fiki.” Fika membalas senyuman Fiki.

 Ehh.. bagaimana kalau aku mengajakmu makan dulu di warung itu. Selagi kamu juga sedang menunggu kereta satu jam lagi. Aku traktir deh, sebagai permintaan maafku yang telah menabrak tas rangselmu.” Fiki mengajak Fika untuk makan di warung pojok stasiun sambil menunggu kedatangan kereta satu jam lagi. Setelah sampai di warung tersebut,  Fiki mengambil daftar menu yang di tawarkan.

“Sepertinya makan ini enak.” Fiki menunjuk satu menu “Rawon Setan.” Fiki tertawa setelah membaca menu itu. Ia menyodorkan daftar menu ke arah Fika. “Bagaimana menurutmu, kamu mau makan apa?”

“Terserah kamu deh Fiki.” Fika menyerahkan keputusan memilih menu makan siangnya kepada Fiki.

Fiki mengerutkan keningnya, ia bingung memilih menu apa yang cocok buat Fika. “Oke deh. Kalau terserah aku. Kalau salah menu jangan menyesal ya?” Pak pesan Rawon setan dua porsi Level 5 minumnya es degan.” Fiki memanggil pelayan warung. Pelayan warung datang dan mencatat pesanan Fiki kemudian kembali lagi ke dalam.

Sejenak Fika mengerutkan keningnya. “Rawon setan level 5” Fika berfikir sejenak mengingat menu yang di pesan Fiki adalah Rawon setan level 5. Ia tak menyangka bahwa Fiki akan memesankan menu itu. Memang sudah menjadi konsekuensinya,  menyeraahkan keputusan memilih makanan kepada Fiki. Mau tak mau ia harus menerimanya. Ia mengingat lagi Level 5. Ia sadar bahwa level 5 adalah level tingakatan pedas, satu mangkuk rawon dengan lima cabai yang begitu pedas yang akan ia santap. “Waaaa... aku tak suka pedas.” Fika ingin sekali menjerit dalam hatinya. Ia mencoba menenangkan diri. “Tenang Fika, tak akan terjadi apa-apa denganmu. All is well“ Fika menghembuskan nafas panjang. Tak apalah. Lagian stok obat diareku masih sangat banyak dirumah.” Fika mencoba menenangkan dirinya.

“Kamu tak apa-apa?” Tanya Fiki yang bingung melihat wajah Fika mendadak panik.

Secepatnya Fika tersenyum kearah Fiki. “Aku tak apa-apa, aku sangat suka dengan menu pilihanmu “Rawon setan level 5”. Sepertinya itu menarik,  Hehehehe..” Fika memaksakan senyumannya yang getir. Padahal ia akan menduga bahwa nantinya ia akan terkena diare berkepanjangan.

Tak beberapa lama seorang pelayan membawakan dua porsi menu “Rawom Setan level 5 yang masih panas dan dua gelas es degan.” Fika hanya memandang makanan tersebut. Ia menelan ludahnya dan berfikir apa yang akan terjadi setelah makan menu tersebut. “Baiklah. Aku makan.” Gumamnya dalam hati. “Selamat makan.” Fika menyendok rawon dan memasukkan ke dalam mulutnya. Fiki terus memandangi Fika, ia tersenyum melihat wajah Fika yang mendadak memerah akibat kepedasan. “Woww.. pedas. Huh huh.” Fika mulai berkeringat. Ia tak mempedulikan rasa pedas. Yang ia tahu perutnya sudah keroncongan dari tadi. Fika terus melahap makanannya. Fiki hanya tersenyum melihat tingkah laku Fika.

“Mau tambah makanan lagi?” Tanya Fiki.

“Hehehe.. ah sudahlah Fiki. Ini sudah cukup menurutku.” Sahut Fika dengan nada agak malu-malu, sambil tetap mengunyah makanannya.

“Tak apa.. mumpung ada yang mentraktirmu sekarang.”

“Bungkus ya.. hehehe..”

“Oh. Mau bungkus. Ya sudah aku pesankan.”

“Ehh tak usah.. aku bercanda Fiki. Ini saja belum habis.”

“Ya siapa tahu orang tuamu tidak  masak di rumah. Jadi lumayan kan buat makan tengah malan nanti.”

“Makan tengah malam? Emangnya aku kuntilanak? Hahaha... kamu bisa aja Fiki.” Fika tertawa dan masih sambil mengunyah makanan. Sesekali mulutnya meniup- niup karena kepedesan. Bahkan bibirnya sudah me merah.

“Ya memang kamu kuntilanak. Yang kamu makan sekarang, itu makanannya kuntilanak. ”Rawon Setan.” Sindir Fiki yag dari tadi tersenyum melihat tingkah laku Fika yang kepedesan.

“Ehh.. iya juga ya.. tapi enak banget ya rawonnya.” Sambil mengusap keringatnya akibat kepedasan.

“Ya enak lah. Kamu sedang kelaparan dan sedang ku traktir pula. Benar kan?”

“Siipp.. benar-benar. Hahaha.” Fika tertawa sambil masih mengunyah makanan.

Mereka terlihat sangat akrab saat itu. Mereka saling bertukar cerita satu sama lain. Setelah mereka makan, Fiki menuju kasir dan membayar menu makanan yang dipesan. Fika berdiri di samping Fiki dan tersenyum-senyum, melihat Fiki yang mau mentraktirnya kali ini. Setelah itu, mereka berdua kembali ke lobby tunggu kereta.

“Makasih ya Fiki atas traktirannya.” Fika terlihat senang dengan kebaikan Fiki yang mau mentraktirnya makan.

“Oke deh tak apalah. Aku tahu dirimu selepas kerja pasti sedang kelaparan hebat. Apalagi mengingat pekerjaanmu kan sebagai penyiar radio satwa. Hahahah.. Fiki tertawa puas mengejek Fika, dan Fikapun terlihat cemberut dengan ejekan Fiki saat itu. Terlihat sebuah kereta nampak datang dari kejauhan. Juga terdengar klakson kereta yang meramaikan suasana di dalam stasiun.

“Ya sudah deh. Tuh keretamu sudah tiba. Cepat kamu naik, jangan sampai kamu terlambat lagi nanti.” Fiki tersenyum kearah Fika, ia mengacak-acak rambut Fika. Fika membiarkan rambutnya diacak-acak Fiki, ia terus memandangi dan tersenyum. “Fiki begitu tampan.” Gumam Fika dalam hati.

“Hati-hati dijalan ya.” Ucap Fiki. Fika menaiki kereta dan melambaikan tangannya ke arah Fiki. Kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun.

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang